Kisah 3.000 Pasukan Muslim Gagah Berani Melawan 200.000 Prajurit Bizantium

Selasa, 16 Agustus 2022 - 15:31 WIB
loading...
A A A
Oleh karena itu pihak Romawi menjauhkan diri dari serangan Khalid dan senang sekali mereka kalau Khalid tidak sampai menyerang mereka. Tetapi sebenarnya Khalid lebih senang lagi. Ia menarik mundur pasukannya, kembali ke Madinah, setelah mengalami suatu pertempuran yang tidak membawa kemenangan buat pasukan Muslimin, dan yang juga sama tidak membawa kemenangan buat lawan mereka itu.

Hanya saja, tatkala Khalid dan pasukannya sudah hampir sampai di Madinah, Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin yang lain menyambut mereka. Atas permintaan Nabi, kemudian Abdullah bin Ja'far dibawa dan diangkatnya di depannya. Orang ramai datang menaburkan tanah kepada pasukan itu seraya berkata: "He, orang-orang pelarian! Kamu lari dari jalan Allah!"

Rasulullah SAW segera berkata: "Mereka bukan pelarian. Tetapi mereka orang-orang yang akan tampil kembali, insya Allah."

Sungguh pun sudah begitu rupa Nabi menghibur orang-orang yang baru kembali dari Mu'tah itu, namun kaum Muslimin belum mau juga memaafkan mereka karena penarikan mundur dan mereka kembali itu; sampai-sampai Salamah bin Hisyam tidak mau ikut sholat bersama-sama dengan kaum muslimin yang lain. Mereka khawatir masih akan terdengar suara-suara orang bila melihatnya.

"Hei orang-orang pelarian! Kamu lari dari jalan Allah."

Kalau tidak karena adanya tindakan-tindakan yang berarti dari mereka yang kembali dari Mu'tah itu, terutama tindakan Khalid sendiri, niscaya Mu'tah masih akan dianggap suatu cemar karena pelarian yang telah dicontengkan saudara-saudara seagama di kening mereka.

Baca juga: Salman Al-Farisi: Pencetus Ide Pertahanan dalam Perang Khandaq

Kesedihan Nabi SAW

Begitu pedih perasaan duka itu menusuk hati Nabi Muhammad setelah diketahuinya Zaid dan Ja'far telah Syahid. Begitu sedih ia menanggung dukacita karena mereka itu.

Setelah Ja'far syahid, Rasulullah mendatangi ke rumahnya. Beliau menjumpai istri Jafar, Asma binti 'Umais yang pada waktu itu ia sudah membuat adonan roti, anak-anaknya sudah dimandikan, sudah diminyaki dan dibersihkan. "Bawa kemari anak-anak Ja'far itu," ujar Rasulullah SAW kepada Asma.

Setelah mereka dibawa, Rasulullah menciumi anak-anak itu dengan berlinangan airmata.

"Rasulullah," kata Asma' gelisah. "Demi ayah bundaku! Kenapa menangis, Rasulullah?! Ada hal-hal yang menimpa Ja'far dan kawan-kawannya barangkali?" tanyanya.

"Ya," jawab Rasulullah SAW. "Hari ini mereka syahid."

Berkata begitu airmata Rasulullah sudah makin tak dapat ditahan, deras berderai. Asma, juga lalu menangis keras-keras sehingga mengundang banyak perempuan mendatanginya.

Begitu Rasulullah pulang, beliau berkata kepada keluarganya: "Keluarga Ja'far jangan dilupakan. Buatkan makanan buat mereka. Mereka sekarang dalam kesusahan."

Tatkala dilihatnya puteri Zaid datang, dibelai-belainya bahunya sambil ia menangis. Ada sahabat-sahabat yang merasa terkejut melihat Rasul menangisi orang yang mati syahid itu.

Ada yang meriwayatkan bahwa jenazah Ja'far dibawa ke Madinah dan dikebumikan di sana tiga hari kemudian setelah Khalid dan pasukannya sampai. Sejak hari itu Rasulullah SAW menyuruh orang supaya jangan lagi menangis. Kedua tangan Ja'far yang terputus, oleh Tuhan telah diganti dengan sepasang sayap yang menerbangkannya ke surga.

Beberapa pekan kemudian setelah Khalid bin Walid kembali, Nabi Muhammad bermaksud mengembalikan pula kewibawaan Muslimin di bagian utara jazirah itu. Dalam hal ini ia menugaskan 'Amr bin al-'Ash supaya mengerahkan orang-orang Arab ke Syam.

Baca juga: Peristiwa Besar di Bulan Rajab, Rasulullah SAW Pimpin Pasukan Muslim dalam Perang Tabuk

Hanya saja, setelah Amr sampai di sebuah pangkalan air di daerah kabilah Judham yang disebut Silsil, mulai ia merasa khawatir. Segera ia mengirim kurir kepada Nabi SAW meminta bantuan. Dan Nabi pun segera mengirim Abu 'Ubaidah bin Jarrah dari kalangan Muhajirin yang mula-mula, termasuk Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Sebagai orang yang masih baru dalam Islam, Rasulullah khawatir 'Amr akan berselisih dengan Abu 'Ubaidah. Rasulullah pun berpesan kepada Abu 'Ubaidah agar tidak berselisih.

Apa yang diduga Rasulullah SAW benar adanya. Begitu Abu Ubaidah dan pasukan muslim yang dipimpinnya dari Madinah datang, Amr langsung menegaskan bahwa dirinya yang memimpin. "Engkau datang kemari sebagai pembantuku. Pimpinan tentara di tanganku," kata 'Amr kepada Abu 'Ubaidah.

Abu 'Ubaidah adalah orang yang sangat lemah-lembut, dan serba mudah dalam masalah-masalah duniawi. "Rasulullah sudah berpesan," katanya kepada 'Amr "Kita jangan berselisih. Kalau engkau tidak taat kepadaku, akulah yang taat kepadamu."

Akhirnya, Amr yang memimpin. Bahkan dalam sholat pun Amr yang menjadi imam.

Amr memimpin pasukan muslim bergerak maju. Pihak Bizantium yang bermaksud hendak menggempurnya telah diubrak-abrik. Kewibawaan Muslimin di wilayah itu pun telah dapat dipulihkan.

Baca juga: Kisah Heroik Ali bin Abi Thalib dengan Pedang Zulfikar di Perang Khandaq
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Karomah Khalid bin Walid,...
Karomah Khalid bin Walid, Si Pedang Allah yang Tak Mempan Diracun
Jejak Hormuz dan Khalid...
Jejak Hormuz dan Khalid bin Walid: Dari Duel Maut hingga Gerbang Penaklukan Persia
Kisah Ummu Ziml: Dendam...
Kisah Ummu Ziml: Dendam Kaum Murtad kepada Muslim di Era Khalifah Abu Bakar
Syahidnya Yahya Sinwar:...
Syahidnya Yahya Sinwar: Ingat 3 Sahabat Nabi, Bertempur Habis-habisan sampai Napas Terakhir
Ahli Kitab: Bukan Hanya...
Ahli Kitab: Bukan Hanya Yahudi dan Nasrani? Begini Pendapat Para Ulama
Konteks Larangan Kaum...
Konteks Larangan Kaum Muslim Mengangkat Pemimpin dari Golongan Yahudi dan Nasrani
Rekomendasi
Terpantau Keluar dari...
Terpantau Keluar dari Rotasinya, Astronom Sebut Matahari Mulai Tidak Stabil
Air Kanal di Kota Argentina...
Air Kanal di Kota Argentina Berubah Warna Menjadi Merah Darah
Kebakaran Hutan di Yunani...
Kebakaran Hutan di Yunani Terus Meluas Akibat Cuaca Panas
Artikel Terkini
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Tahun Baru Islam 1448...
Tahun Baru Islam 1448 H Jadi Momentum Kebangkitan Umat Islam Hadapi Tantangan Global
Puasa Tasua, Keutamaan...
Puasa Tasua, Keutamaan dan Jadwal Pelaksanaannya
Tak Banyak yang Tahu,...
Tak Banyak yang Tahu, Ini 7 Larangan di Bulan Muharram
Ucapkan Selamat Tahun...
Ucapkan Selamat Tahun Baru 1448 Hijriah, Menag Ajak Umat Jaga Persatuan
Infografis
Tri Mumpuni, Ilmuwan...
Tri Mumpuni, Ilmuwan Muslim Indonesia Paling Berpengaruh di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved