Kisah Ummu Ziml: Dendam Kaum Murtad kepada Muslim di Era Khalifah Abu Bakar
Senin, 28 Oktober 2024 - 12:52 WIB
loading...
Di kalangan masyarakatnya Ummu Qirfah ini cukup dihormati dan mempunyai kedudukan yang kuat. Ilustrasi: AI
A
A
A
Ummu Ziml adalah putri Ummu Qirfah. Sang bunda terbunuh pada masa Nabi Muhammad SAW dengan mengerikan sekali.Ummu Ziml mengidap luka dendam kepada Muslimin yang tak kunjung sembuh kendati sudah berlalu beberapa tahun silam.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Abu Bakr As-Siddiq - Yang Lembut Hati" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan kisah ini bermula ketika pasukan muslim di bawah kepemimpinan Zaid bin Harisah berperangmelawan Banu Fazarah di Wadi Qurrah. Banyak anak buahnya yang mengalami luka dan Zaid sendiri luka berat dan dibawa langsung ke Madinah .
Setelah sembuh, oleh Rasulullah ia dikirim kembali kepada Banu Fazarah memimpin suatu pasukan. Banyak yang terbunuh, luka-luka dan tertawan dari pihak lawan.
Ummu Qirfah Fatimah bint Badr ini termasuk di antara yang ditawan. Dalam pertempuran pertama, dialah yang menyebabkan Zaid mengalami luka berat itu.
Baca juga: Perawakan Abu Bakar Ash-Shiddiq Menurut Sayyidah Aisyah
Setelah perempuan itu tertangkap diperintahkan supaya dibunuh. Akan tetapi pembunuhan itu dilakukan secara kasar. Konon kakinya diikatkan pada unta kemudian masing-masing unta dilepas ke arah yang berlawanan sehingga dia sobek.
Putrinya, Ummu Ziml ditawan yang oleh Aisyah Ummulmukminin kemudian dibebaskan dan lama ia tinggal bersama, kemudian ia pulang kembali ke kabilahnya.
Akan tetapi kematian ibunya tetap terbayang di matanya selama ia belum mendapat jalan untuk menuntut balas. Setelah terjadi Perang Riddah, ia juga menjadi murtad , dan dalam mengadakan balas dendam, untuk memuaskan hatinya, sisa-sisa kabilah yang masih berserakan ikut pula membantunya.
Di kalangan masyarakatnya Ummu Qirfah ini cukup dihormati dan mempunyai kedudukan yang kuat. Dia bibi Uyainah bin Hisn dan istri Malik bin Huzaifah; anak-anaknya menjadi kebanggaan Banu Fazarah.
Kalau ia mau menjarah kabilah lain ia pergi dengan seekor unta memelopori kaumnya di depan. Setelah ia mati untanya di tangan Ummu Ziml.
Kedudukan sang putri di tengah-tengah kaumnya itu juga sama dengan kedudukan ibunya. Sesudah sisa-sisa kabilah yang pernah memerangi Abu Bakar As-Shiddiq dan Khalid bin Walid itu bergabung dengan dia, ia berangkat dengan mengerahkan dan membakar semangat mereka untuk bersama-sama memerangi Khalid, termasuk ke dalamnya orang-orang gelandangan, sehingga mereka merupakan sebuah kelompok besar dan kuat.
Baca juga: Putra Abu Bakar Ash-Shiddiq Terlibat Pembunuhan Khalifah Utsman?
Melihat keadaan ini, Khalid bin Walid yang memang mengintai kaum pembangkang sambil mengumpulkan zakat dan berusaha menenteramkan keadaan itu, harus berangkat menghadapi mereka.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Abu Bakr As-Siddiq - Yang Lembut Hati" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan kisah ini bermula ketika pasukan muslim di bawah kepemimpinan Zaid bin Harisah berperangmelawan Banu Fazarah di Wadi Qurrah. Banyak anak buahnya yang mengalami luka dan Zaid sendiri luka berat dan dibawa langsung ke Madinah .
Setelah sembuh, oleh Rasulullah ia dikirim kembali kepada Banu Fazarah memimpin suatu pasukan. Banyak yang terbunuh, luka-luka dan tertawan dari pihak lawan.
Ummu Qirfah Fatimah bint Badr ini termasuk di antara yang ditawan. Dalam pertempuran pertama, dialah yang menyebabkan Zaid mengalami luka berat itu.
Baca juga: Perawakan Abu Bakar Ash-Shiddiq Menurut Sayyidah Aisyah
Setelah perempuan itu tertangkap diperintahkan supaya dibunuh. Akan tetapi pembunuhan itu dilakukan secara kasar. Konon kakinya diikatkan pada unta kemudian masing-masing unta dilepas ke arah yang berlawanan sehingga dia sobek.
Putrinya, Ummu Ziml ditawan yang oleh Aisyah Ummulmukminin kemudian dibebaskan dan lama ia tinggal bersama, kemudian ia pulang kembali ke kabilahnya.
Akan tetapi kematian ibunya tetap terbayang di matanya selama ia belum mendapat jalan untuk menuntut balas. Setelah terjadi Perang Riddah, ia juga menjadi murtad , dan dalam mengadakan balas dendam, untuk memuaskan hatinya, sisa-sisa kabilah yang masih berserakan ikut pula membantunya.
Di kalangan masyarakatnya Ummu Qirfah ini cukup dihormati dan mempunyai kedudukan yang kuat. Dia bibi Uyainah bin Hisn dan istri Malik bin Huzaifah; anak-anaknya menjadi kebanggaan Banu Fazarah.
Kalau ia mau menjarah kabilah lain ia pergi dengan seekor unta memelopori kaumnya di depan. Setelah ia mati untanya di tangan Ummu Ziml.
Kedudukan sang putri di tengah-tengah kaumnya itu juga sama dengan kedudukan ibunya. Sesudah sisa-sisa kabilah yang pernah memerangi Abu Bakar As-Shiddiq dan Khalid bin Walid itu bergabung dengan dia, ia berangkat dengan mengerahkan dan membakar semangat mereka untuk bersama-sama memerangi Khalid, termasuk ke dalamnya orang-orang gelandangan, sehingga mereka merupakan sebuah kelompok besar dan kuat.
Baca juga: Putra Abu Bakar Ash-Shiddiq Terlibat Pembunuhan Khalifah Utsman?
Melihat keadaan ini, Khalid bin Walid yang memang mengintai kaum pembangkang sambil mengumpulkan zakat dan berusaha menenteramkan keadaan itu, harus berangkat menghadapi mereka.
Lihat Juga :