Kisah 3.000 Pasukan Muslim Gagah Berani Melawan 200.000 Prajurit Bizantium

Selasa, 16 Agustus 2022 - 15:31 WIB
loading...
Kisah 3.000 Pasukan...
Dalam perang Mutah pasukan muslim yang berjumlah 3000 menghadapi 200.000 pasukan Bizantium. Foto/Ilustrasi: Ist
A A A
Kisah 3.000 pasukan Muslim menghadapi 200.000 orang prajurit Bizantium terjadi pada Pertempuran Mu'tah . Ini adalah pertempuran perdana antara Muslim dengan Bizantium yang Nasrani. Perang terjadi di Mu'tah pada 629 M, tepatnya pada tanggal 5 Jumadil Awal 8 Hijriah.

Mu‘tah adalah sebuah desa yang terletak di perbatasan Syam. Desa yang ada di tepi Sungai Jordan ini, kini masuk dalam Provinsi Kerak, Yordania.

Baca juga: Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar

Ibnu Katsir dalam "al-Bidayah wan Nihayah" mengungkapkan, pertempuran ini sungguh sangat menakjubkan. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama.

Pihak pertama pasukan yang berjuang di jalan Allah Azza wa Jalla, dengan kekuatan 3.000 orang. Dan pihak lainnya, prajurit kafir yang berjumlah 200.000 orang terdiri 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab.

Mereka saling bertarung dan menyerang. "Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin. Padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak," tulis Ibnu Katsir.

Allah SWT berfirman:

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. ( QS Al-Baqarah 2 :249) ”

Khalid bin Walid berkata, “Telah patah sembilan pedang di tanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman." (HR Imam Bukhari )

Menurut sejarawan Imam Ibnu Ishaq, syuhada perang Mu’tah hanya berjumlah 8 sahabat saja. Secara terperinci yaitu Ja’far bin Abi Thalib, dan mantan budak Rasulullah SAW Zaid bin Haritsah al-Kalbi, Mas’ud bin al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah al-‘Adawi, Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh ra.

Sementara dari kalangan kaum anshar, ‘Abdullah bin Rawahah, ‘Abbad bin Qais al-Khozarjayyan, al-Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari, Suraqah bin ‘Amr bin Athiyyah bin Khansa al-Mazini.

Baca juga: Abu Jahal, Sang Penyulut yang Tewas dalam Perang Badar

Penyebab Perang
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" mengatakan ahli-ahli sejarah masih berbeda pendapat mengenai penyebab terjadinya ekspedisi Mu'tah. Sebagian mengatakan bahwa dibunuhnya sahabat Nabi di Dhat't-Talh yang menyebabkan adanya penyerbuan sebagai hukuman atas mereka yang telah berkhianat.

Sedangkan pendapat lainnya, bahwa ketika Nabi mengirim seorang utusan kepada gubernur Heraklius di Bushra (Bostra), utusan itu dibunuh oleh orang badwi, dari Ghassan, atas nama Heraklius.

Lalu Nabi Muhammad SAW mengirim pasukan untuk memberi hukuman kepada penguasa itu dan siapa saja yang membantunya.

Haekal mengisahkan, pada bulan Jumadilawal tahun ke-8 Hijrah (tahun 629 M) Nabi memanggil 3.000 orang pilihan, dari sahabat-sahabatnya, dengan menyerahkan pimpinannya kepada Zaid bin Harithah dengan mengatakan: "Kalau Zaid gugur, maka Ja'far bin Abi Thalib yang memegang pimpinan, dan kalau Ja'far gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang memegang pimpinan."

Ketika pasukan tentara ini berangkat, Khalid bin Walid secara sukarela juga ikut menggabungkan diri. Dengan keikhlasan dan kesanggupannya dalam perang hendak memperlihatkan iktikad baiknya sebagai orang Islam.

Masyarakat ramai mengucapkan selamat jalan kepada komandan-komandan beserta pasukannya itu, dan Nabi Muhammad juga turut mengantarkan mereka sampai ke luar kota, dengan memberikan pesan kepada mereka: "Jangan membunuh wanita, bayi, orang-orang buta atau anak-anak, jangan menghancurkan rumah-rumah atau menebangi pohon-pohon."

Nabi Muhammad SAW mendoakan dan kaum Muslimin juga turut mendoakan dengan berkata: "Tuhan menyertai dan melindungi kamu sekalian. Semoga kembali dengan selamat."

Komandan pasukan itu semua merencanakan hendak menyergap pihak Bizantium secara tiba-tiba, seperti yang biasa dilakukan dalam ekspedisi-ekspedisi yang sudah-sudah. Dengan demikian kemenangan akan diperoleh lebih cepat dan kembali dengan membawa kemenangan. Mereka berangkat sampai di Ma'an di bilangan Syam dengan tidak mereka ketahui apa yang akan mereka hadapi di sana.

Akan tetapi berita keberangkatan mereka sudah lebih dulu sampai. Syurahbil penguasa Heraklius di Syam sudah mengumpulkan kelompok-kelompok kabilah yang ada di sekitarnya.

Pasukan tentara yang terdiri dari orang-orang Yunani dan orang-orang Arab sebagai bantuan dari Heraklius didatangkan pula. Beberapa keterangan menyebutkan, bahwa Heraklius sendirilah yang tampil memimpin pasukannya itu sampai bermarkas di Ma'ab di bilangan Balqa', terdiri dan 100.000 orang Romawi, ditambah dengan 100.000 lagi dari Lakhm, Judham, Qain, Bahra' dan Bali.

Dikatakan juga bahwa Theodore saudara Heraklius itulah yang memimpin pasukan, bukan Heraklius sendiri.

Menurut Haekal, ketika pihak Muslimin berada di Ma'an, adanya kelompok-kelompok itu mereka ketahui. Dua malam mereka berada di tempat itu sambil melihat-lihat apa yang harus mereka lakukan berhadapan dengan jumlah yang begitu besar.

Salah seorang dari mereka ada yang berkata: "Kita menulis surat kepada Rasulullah SAW dengan memberitahukan jumlah pasukan musuh. Kita bisa diberi bala bantuan, atau kita mendapat perintah lain dan kita maju terus."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Karomah Khalid bin Walid,...
Karomah Khalid bin Walid, Si Pedang Allah yang Tak Mempan Diracun
Jejak Hormuz dan Khalid...
Jejak Hormuz dan Khalid bin Walid: Dari Duel Maut hingga Gerbang Penaklukan Persia
Kisah Ummu Ziml: Dendam...
Kisah Ummu Ziml: Dendam Kaum Murtad kepada Muslim di Era Khalifah Abu Bakar
Syahidnya Yahya Sinwar:...
Syahidnya Yahya Sinwar: Ingat 3 Sahabat Nabi, Bertempur Habis-habisan sampai Napas Terakhir
Ahli Kitab: Bukan Hanya...
Ahli Kitab: Bukan Hanya Yahudi dan Nasrani? Begini Pendapat Para Ulama
Konteks Larangan Kaum...
Konteks Larangan Kaum Muslim Mengangkat Pemimpin dari Golongan Yahudi dan Nasrani
Rekomendasi
Abu Rahyan alias Al-Biruni,...
Abu Rahyan alias Al-Biruni, Ilmuwan Jenius yang Dikagumi Dunia Barat
Warna Laut Teluk Persia...
Warna Laut Teluk Persia Berubah Jadi Merah Darah
Peneliti Temukan Fakta...
Peneliti Temukan Fakta Mengejutkan Belut Listrik di Hutan Amazon
Artikel Terkini
Perlukah Melakukan Resolusi...
Perlukah Melakukan Resolusi Hidup di Tahun Baru Islam?
Doa Akhir dan Awal Tahun...
Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam yang Penting Diketahui!
Bolehkah Puasa pada...
Bolehkah Puasa pada 1 Muharram? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Khotbah Jumat : 5 Pelajaran...
Khotbah Jumat : 5 Pelajaran dalam Pergantian Tahun Baru Hijriyah
Mengapa Muharram Menjadi...
Mengapa Muharram Menjadi Bulan Pertama Tahun Hijriah? Ini Sejarah dan Keistimewaannya
Jangan Salah Kaprah!...
Jangan Salah Kaprah! Begini Cara Menyambut Tahun Baru Islam Menurut Syariat
Infografis
Abu Musa Jabir Bin Hayyan,...
Abu Musa Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved