Awas! Berhati-hatilah Terhadap Doa Orang Teraniaya, Walaupun Dia Kafir

loading...
Awas! Berhati-hatilah Terhadap Doa Orang Teraniaya, Walaupun Dia Kafir
Doa orang teraniaya pasti dikabulkan Allah Taala, walau doa itu datangnya dari orang kafir. Foto/Ilustrasi: SINDOnews
Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa orang-orang yang dizalimi meskipun dia adalah orang kafir sekali pun. Doa orang yang terzalimi tersebut pasti akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW

اتّقوا دعوة المظلوم، وإن كان كافراً، فإنّه ليس دونها حِجاب

“Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang yang dizalimi sekalipun dia adalah orang kafir. Maka sesungguhnya tidak ada penghalang di antaranya untuk diterima oleh Allah,” (Musnad Ahmad, sanad hasan).

Baca juga: Doa-doa Mustajab Orang Tua untuk Anak-anaknya

Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran " mengingatkan pentingnya bersifat adil. Kebencian tidak pernah dapat dijadikan alasan untuk mengorbankan keadilan, walaupun kebencian itu tertuju kepada kaum non-Muslim, atau didorong oleh upaya memperoleh ridhaNya. Itu sebabnya Rasul SAW mewanti-wanti agar kita berhati-hati terhadap doa (orang) yang teraniaya, walaupun dia kafir. Allah SWT juga berfirman:

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan "tuqsithu" (berlaku adil) terhadap orang-orang (kafir) yang tidak menerangimu karena agama, dan tidak mengusirmu dari negerimu atau membantu orang lain untuk mengusir kamu... ( QS Al-Mumtahanah [60] : 8).

Ibnu 'Arabi, pakar tafsir dan hukum Islam bermazhab Maliki, tidak sependapat dengan mereka yang memahami kata taqshithu pada firman Allah di atas dalam arti berlaku adil. "Berlaku adil," tulisnya, "adalah wajib terhadap orang-orang kafir (baik yang memerangi maupun yang tidak)." Kata taqsithu di sini menurutnya adalah "memberi bagian dari harta guna menjalin hubungan baik".

Quraish mengatakan keadilan harus ditegakkan di mana pun, kapan pun, dan terhadap siapa pun. Bahkan, jika perlu dengan tindakan tegas. Salah satu ayat Al-Qur'an menggandengkan "timbangan" (alat ukur yang adil) dengan "besi" yang antara lain digunakan sebagai senjata. Ini untuk memberi isyarat bahwa kekerasan adalah salah satu cara untuk menegakkan keadilan.

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan Al-Mizan (neraca keadilan), dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya besi itu digunakan). Allah mengetahui siapa yang menolong (memperjuangkan nilai-nilai) agama-Nya dan membantu rasul-rasul-Nya, walaupun Allah gaib dari pandangan mata mereka". [ QS Al-Hadid [57] : 25).

"Apabila dua kelompok Mukmin berselisih, lakukanlah ishlah (perdamaian) di antara keduanya. Bila salah satu dari kedua kelompok itu membangkang, maka perangi (ambil tindakan tegas terhadap) yang membangkang, sehingga ia menerima ketetapan Allah" ( QS Al-Hujurat [49] : 9)

Baca juga: Dahsyatnya Doa Orang yang Didzalimi

Quraish Shihab mengingatkan lanjutan ayat ini perlu mendapat perhatian, yakni:

"Apabila ia (kelompok yang membangkang itu) telah kembali (taat) maka lakukanlah perdamaian dengan adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil ( QS Al-Hujurat [49] : 9)

Menurut Quraish Shihab, sungguh tepat menggandengkan perintah mendamaikan pada lanjutan ayat ini dengan "keharusan berlaku adil". Karena walaupun keadilan dituntut dalam setiap sikap sejak awal proses perdamaian, tetapi sikap itu lebih dibutuhkan untuk para juru damai setelah mereka terlibat menindak tegas kelompok pembangkang.

Ini karena besar kemungkinan mereka pun mengalami kerugian, harta, jiwa, atau paling tidak harga diri akibat ulah para pembangkang. Kerugian tersebut dapat mendorongnya untuk berlaku tidak adil, karena itu ayat ini menekankan terhadap mereka kewajiban berlaku adil.

Dalam Hal Cinta
Quraish Shihab mengatakan Allah taala menciptakan dan mengelola alam raya ini dengan keadilan, dan menuntut agar keadilan mencakup semua aspek kehidupan. Akidah, syariat atau hukum, akhlak, bahkan cinta dan benci.

"Dan Kamu pasti tidak akan dapat berlaku adil di antara wanita-wanita (istri-istrimu dalam hal cinta), walaupun kamu berusaha keras ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), dan membiarkan yang lain terkatung-katung" ( QS Al-Nisa' [4] : 129).

"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kerabatmu. Jika ia (yang tergugat atau terdakwa) kaya atau miskin, maka Allah lebih utama dari keduanya... ( QS Al-Nisa' [14] : 135)

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kelompok menjadikan kamu tidak berlaku adil ( QS Al-Ma-idah [5] : 8)

Begitu luas pesan keadilan Al-Qur'an, sehingga seseorang yang merasa sempit dari keadilan, pasti akan merasakan bahwa ketidakadilan jauh lebih sempit.

Baca juga: Bersikap Jujur dalam Amalan-amalan Hati
(mhy)
preload video