Awas! Berhati-hatilah Terhadap Doa Orang Teraniaya, Walaupun Dia Kafir
Rabu, 17 Agustus 2022 - 13:42 WIB
loading...
A
A
A
"Apabila ia (kelompok yang membangkang itu) telah kembali (taat) maka lakukanlah perdamaian dengan adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil ( QS Al-Hujurat [49] : 9)
Menurut Quraish Shihab, sungguh tepat menggandengkan perintah mendamaikan pada lanjutan ayat ini dengan "keharusan berlaku adil". Karena walaupun keadilan dituntut dalam setiap sikap sejak awal proses perdamaian, tetapi sikap itu lebih dibutuhkan untuk para juru damai setelah mereka terlibat menindak tegas kelompok pembangkang.
Ini karena besar kemungkinan mereka pun mengalami kerugian, harta, jiwa, atau paling tidak harga diri akibat ulah para pembangkang. Kerugian tersebut dapat mendorongnya untuk berlaku tidak adil, karena itu ayat ini menekankan terhadap mereka kewajiban berlaku adil.
Dalam Hal Cinta
Quraish Shihab mengatakan Allah taala menciptakan dan mengelola alam raya ini dengan keadilan, dan menuntut agar keadilan mencakup semua aspek kehidupan. Akidah, syariat atau hukum, akhlak, bahkan cinta dan benci.
"Dan Kamu pasti tidak akan dapat berlaku adil di antara wanita-wanita (istri-istrimu dalam hal cinta), walaupun kamu berusaha keras ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), dan membiarkan yang lain terkatung-katung" ( QS Al-Nisa' [4] : 129).
"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kerabatmu. Jika ia (yang tergugat atau terdakwa) kaya atau miskin, maka Allah lebih utama dari keduanya... ( QS Al-Nisa' [14] : 135)
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kelompok menjadikan kamu tidak berlaku adil ( QS Al-Ma-idah [5] : 8)
Begitu luas pesan keadilan Al-Qur'an, sehingga seseorang yang merasa sempit dari keadilan, pasti akan merasakan bahwa ketidakadilan jauh lebih sempit.
Baca juga: Bersikap Jujur dalam Amalan-amalan Hati
Menurut Quraish Shihab, sungguh tepat menggandengkan perintah mendamaikan pada lanjutan ayat ini dengan "keharusan berlaku adil". Karena walaupun keadilan dituntut dalam setiap sikap sejak awal proses perdamaian, tetapi sikap itu lebih dibutuhkan untuk para juru damai setelah mereka terlibat menindak tegas kelompok pembangkang.
Ini karena besar kemungkinan mereka pun mengalami kerugian, harta, jiwa, atau paling tidak harga diri akibat ulah para pembangkang. Kerugian tersebut dapat mendorongnya untuk berlaku tidak adil, karena itu ayat ini menekankan terhadap mereka kewajiban berlaku adil.
Dalam Hal Cinta
Quraish Shihab mengatakan Allah taala menciptakan dan mengelola alam raya ini dengan keadilan, dan menuntut agar keadilan mencakup semua aspek kehidupan. Akidah, syariat atau hukum, akhlak, bahkan cinta dan benci.
"Dan Kamu pasti tidak akan dapat berlaku adil di antara wanita-wanita (istri-istrimu dalam hal cinta), walaupun kamu berusaha keras ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), dan membiarkan yang lain terkatung-katung" ( QS Al-Nisa' [4] : 129).
"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kerabatmu. Jika ia (yang tergugat atau terdakwa) kaya atau miskin, maka Allah lebih utama dari keduanya... ( QS Al-Nisa' [14] : 135)
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kelompok menjadikan kamu tidak berlaku adil ( QS Al-Ma-idah [5] : 8)
Begitu luas pesan keadilan Al-Qur'an, sehingga seseorang yang merasa sempit dari keadilan, pasti akan merasakan bahwa ketidakadilan jauh lebih sempit.
Baca juga: Bersikap Jujur dalam Amalan-amalan Hati
(mhy)
Lihat Juga :