Sebuah Dongeng Idries Shah: Orang-Orang Pulau
Senin, 22 Agustus 2022 - 10:32 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Sufi: Keperluan yang Kian Mendesak
Kitab suci baru itu disambut hangat oleh semua kalangan sebagai salah satu sarana pembebasan. Manusia telah menyadari bahwa dirinya telah dewasa! Setidaknya pada masa itu ia merasa telah terbebas dari tanggung jawab.
Semua pola pemikiran yang berbeda segera dimusnahkan oleh konsep revolusioner yang sederhana dan nyaman itu. Konsep ini segera dipandang sebagai fakta dasar yang tidak pernah ditentang oleh manusia rasional. Manusia rasional di sini maksudnya seseorang yang menyesuaikan dengan teori umum itu. Berdasarkan teori umum inilah masyarakat dibangun.
Setiap gagasan yang menentang gagasan baru ini selalu disebut irasional. Sesuatu yang irasional pasti jelek. Sejak itu, meskipun ada berbagai keraguan, individu harus menekan dan membuangnya, sebab berapa pun biayanya ia harus dianggap rasional.
Tidaklah terlalu sulit untuk bersikap rasional. Seseorang hanya perlu mengikuti nilai-nilai masyarakat. Lebih jauh lagi bukti kebenaran rasionalitas itu mudah ditemukan -- dengan syarat bahwa seseorang tidak berpikir di luar pola pemikiran pulau itu.
Maka untuk sementara, masyarakat telah menyesuaikan diri di pulau itu dan tampaknya bisa memenuhi kebutuhan secara memadai jika dilihat dari cara-cara yang mereka gunakan. Keadaan ini dicapai berkat akal dan emosi yang seolah-olah masuk akal. Sebagai contoh, kanibalisme diperbolehkan karena ada alasan rasional, yaitu bahwa tubuh manusia ternyata bisa dimakan.
Kondisi ini adalah salah satu ciri makanan. Oleh karena itu, tubuh manusia adalah makanan. Untuk menutupi cacat dari cara berpikir ini, maka dibuat dalih. Kanibalisme dikontrol demi kepentingan masyarakat.
Kompromi ini merupakan ciri keseimbangan sementara. Berulangkali seseorang mengarah pada suatu kompromi baru dan perjuangan antara akal, ambisi dan masyarakat yang menghasilkan norma sosial baru.
Lantaran ketrampilan membuat kapal tidak mempunyai cara penerapan yang jelas dalam masyarakat ini, maka ia dengan mudah dipandang sebagai sesuatu yang absurd. Perahu tidak diperlukan -- tidak ada satu pun tempat tujuan. Berbagai konsekuensi dari sebuah asumsi dapat dibuat untuk "membuktikan" kebenaran asumsi tersebut.
Inilah yang disebut kepastian semu, sebagai pengganti dari kepastian sejati. Hal ini kita hadapi sehari-hari. Tetapi orang-orang pulau menerapkannya kepada segala sesuatu.
Baca juga: Kisah Sufi: Bukti Cinta Pada Nabi
Idries Shah menyebut dua entri dalam Island Universal Encyclopedia (Ensiklopedia Universal Pulau) memaparkan cara kerja proses itu. Dengan menyaring hikmah dari nutrisi mental mereka satu-satunya dan dengan segala kejujuran, para cendekiawan pulau menghasilkan jenis kebenaran berikut ini:
Ship (Kapal): Sesuatu yang tak menyenangkan. Sebuah kendaraan imajiner yang diklaim oleh para pendusta dan penyeleweng sebagai alat untuk "menyeberangi air", namun kini secara ilmiah terbukti sebagai suatu kerancuan.
Setiap bahan di pulau tersebut pasti tenggelam. Padahal sebuah "kapal" dibuat dari salah satu bahan di pulau itu. Selain itu orang meragukan apakah memang ada tujuan di luar pulau.
Mengajarkan "pembangunan kapal" adalah kejahatan besar menurut Undang-Undang XVII dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, pasal J tentang Perlindungan terhadap Orang-orang yang Mudah Terpedaya.
Shipbuilding mania adalah suatu bentuk ekstrem dari eskapisme mental, suatu gejala ketidakmampuan masyarakat menyesuaikan diri. Setiap warga negara wajib memberitahukan kepada pejabat berwenang jika mereka mencurigai kondisi tragis ini menimpa seseorang.
Swimming (renang): Sesuatu yang tak diakui. Diyakini sebagai suatu cara menggerakkan tubuh melewati air agar tidak tenggelam; secara umum bertujuan "mencapai sebuah tempat di luar pulau".
"Murid" dari seni yang tak diakui ini harus mematuhi sebuah ritual absurd. Dalam pelajaran pertama, ia harus menelungkupkan tubuhnya di atas tanah dan menggerakkan tangan serta kaki sesuai dengan petunjuk dari seorang "instruktur". Semua konsep itu berdasar pada keinginan para "instruktur" yang mempunyai gaya tersendiri untuk menguasai orang-orang yang mudah terpedaya pada masa primitif. Akhir-akhir ini, cara pemujaan itu telah menjelma sebuah wabah kegilaan yang menyebar.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
Menurut Idries Shah, kata "tidak menyenangkan" dan "tidak diakui" itu digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang bertentangan dengan kitab suci baru itu. Kitab suci baru itu sendiri dikenal sebagai ajaran yang "Menyenangkan".
Gagasan di baliknya adalah bahwa masyarakat sekarang bisa menyenangkan dirinya sendiri, demi kepentingan umum dan menyenangkan negara. Lembaga di sini dipahami sebagai lembaga yang mencakup semua masyarakat.
Tidaklah mengejutkan bila sejak awal niat meninggalkan pulau menimbulkan rasa takut luar biasa bagi setiap orang. Demikian pula rasa takut bisa terlihat pada tahanan yang telah lama di penjara dan akan dibebaskan. Dunia "luar" penjara adalah suatu dunia yang samar, tidak dikenal dan menakutkan.
Pulau itu bukanlah sebuah penjara. Tetapi ia adalah sebuah sangkar dengan jeruji-jeruji yang tak terlihat, namun lebih efektif dibandingkan sangkar dengan jeruji-jeruji yang terlihat.
Masyarakat pulau kini semakin lebih kompleks. Kita hanya bisa melihat hal itu melalui beberapa bentuknya yang mencolok. Kepustakaan mereka sangat kaya. Disamping berbagai komposisi budaya, ada berbagai buku yang menjelaskan nilai-nilai dan keberhasilan bangsa-bangsa. Demikian pula ada sebuah sistem fiksi alegoris yang menggambarkan betapa kehidupan ini akan sengsara bila masyarakat tidak mengatur diri dengan sistem yang diyakini saat ini.
Dari waktu ke waktu para instruktur berusaha membantu seluruh masyarakat untuk meloloskan diri. Para kapten kapal mengabdikan dirinya untuk menciptakan kembali suatu iklim kondusif bagi para pembuat kapal yang kini bersembunyi melanjutkan pekerjaannya.
Semua upaya ini ditafsirkan oleh para sejarawan dan sosiolog dengan merujuk pada berbagai keadaan di pulau itu tanpa berniat untuk melakukan hubungan di luar masyarakat yang tertutup ini.
Baca juga: Kisah Sufi Suhrawardi: Burung dan Telur
Berbagai penjelasan yang masuk akal tentang hampir semua hal secara komparatif mudah diberikan. Tidak ada prinsip etik, sebab para sarjana tetap mengkaji apa yang dipandang benar dengan penuh ketulusan. "Apa lagi yang bisa kita kerjakan?"
Kata "lagi" mengimplikasikan bahwa alternatif itu mungkin merupakan suatu upaya kuantitatif. Atau mereka saling bertanya, "Adakah hal lain yang bisa kita kerjakan?" dengan asumsi bahwa jawabannya mungkin terletak pada kata "lain" itu -- sesuatu yang berbeda.
Masalah mereka sebenarnya adalah anggapan mereka bahwa dirinya mampu untuk merumuskan pertanyaan dan mengabaikan fakta bahwa pertanyaan sepenting jawaban.
Para penghuni pulau niscaya mempunyai ruang lingkup pemikiran dan tindakan yang luas dalam bidang mereka sendiri yang sempit. Berbagai gagasan dan perbedaan pendapat yang muncul mengesankan kebebasan berpikir. Pemikiran digalakkan dengan syarat tidak "absurd".
Kebebasan berbicara diperbolehkan. Tetapi hal ini sedikit manfaatnya tanpa mengupayakan pengembangan pemahaman.
Kerja dan empati dari para navigator harus mengambil aspek lain sesuai dengan berbagai perubahan di dalam masyarakat. Hal ini justru membuat realitas mereka jauh lebih membingungkan bagi para murid yang berusaha mengikuti mereka dari sudut pandang yang berlaku di pulau itu.
Di tengah-tengah semua kebingungan ini, kemampuan untuk menyadari kemungkinan meloloskan diri pada masa-masa tertentu bahkan bisa menjadi kendala.
Kitab suci baru itu disambut hangat oleh semua kalangan sebagai salah satu sarana pembebasan. Manusia telah menyadari bahwa dirinya telah dewasa! Setidaknya pada masa itu ia merasa telah terbebas dari tanggung jawab.
Semua pola pemikiran yang berbeda segera dimusnahkan oleh konsep revolusioner yang sederhana dan nyaman itu. Konsep ini segera dipandang sebagai fakta dasar yang tidak pernah ditentang oleh manusia rasional. Manusia rasional di sini maksudnya seseorang yang menyesuaikan dengan teori umum itu. Berdasarkan teori umum inilah masyarakat dibangun.
Setiap gagasan yang menentang gagasan baru ini selalu disebut irasional. Sesuatu yang irasional pasti jelek. Sejak itu, meskipun ada berbagai keraguan, individu harus menekan dan membuangnya, sebab berapa pun biayanya ia harus dianggap rasional.
Tidaklah terlalu sulit untuk bersikap rasional. Seseorang hanya perlu mengikuti nilai-nilai masyarakat. Lebih jauh lagi bukti kebenaran rasionalitas itu mudah ditemukan -- dengan syarat bahwa seseorang tidak berpikir di luar pola pemikiran pulau itu.
Maka untuk sementara, masyarakat telah menyesuaikan diri di pulau itu dan tampaknya bisa memenuhi kebutuhan secara memadai jika dilihat dari cara-cara yang mereka gunakan. Keadaan ini dicapai berkat akal dan emosi yang seolah-olah masuk akal. Sebagai contoh, kanibalisme diperbolehkan karena ada alasan rasional, yaitu bahwa tubuh manusia ternyata bisa dimakan.
Kondisi ini adalah salah satu ciri makanan. Oleh karena itu, tubuh manusia adalah makanan. Untuk menutupi cacat dari cara berpikir ini, maka dibuat dalih. Kanibalisme dikontrol demi kepentingan masyarakat.
Kompromi ini merupakan ciri keseimbangan sementara. Berulangkali seseorang mengarah pada suatu kompromi baru dan perjuangan antara akal, ambisi dan masyarakat yang menghasilkan norma sosial baru.
Lantaran ketrampilan membuat kapal tidak mempunyai cara penerapan yang jelas dalam masyarakat ini, maka ia dengan mudah dipandang sebagai sesuatu yang absurd. Perahu tidak diperlukan -- tidak ada satu pun tempat tujuan. Berbagai konsekuensi dari sebuah asumsi dapat dibuat untuk "membuktikan" kebenaran asumsi tersebut.
Inilah yang disebut kepastian semu, sebagai pengganti dari kepastian sejati. Hal ini kita hadapi sehari-hari. Tetapi orang-orang pulau menerapkannya kepada segala sesuatu.
Baca juga: Kisah Sufi: Bukti Cinta Pada Nabi
Idries Shah menyebut dua entri dalam Island Universal Encyclopedia (Ensiklopedia Universal Pulau) memaparkan cara kerja proses itu. Dengan menyaring hikmah dari nutrisi mental mereka satu-satunya dan dengan segala kejujuran, para cendekiawan pulau menghasilkan jenis kebenaran berikut ini:
Ship (Kapal): Sesuatu yang tak menyenangkan. Sebuah kendaraan imajiner yang diklaim oleh para pendusta dan penyeleweng sebagai alat untuk "menyeberangi air", namun kini secara ilmiah terbukti sebagai suatu kerancuan.
Setiap bahan di pulau tersebut pasti tenggelam. Padahal sebuah "kapal" dibuat dari salah satu bahan di pulau itu. Selain itu orang meragukan apakah memang ada tujuan di luar pulau.
Mengajarkan "pembangunan kapal" adalah kejahatan besar menurut Undang-Undang XVII dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, pasal J tentang Perlindungan terhadap Orang-orang yang Mudah Terpedaya.
Shipbuilding mania adalah suatu bentuk ekstrem dari eskapisme mental, suatu gejala ketidakmampuan masyarakat menyesuaikan diri. Setiap warga negara wajib memberitahukan kepada pejabat berwenang jika mereka mencurigai kondisi tragis ini menimpa seseorang.
Swimming (renang): Sesuatu yang tak diakui. Diyakini sebagai suatu cara menggerakkan tubuh melewati air agar tidak tenggelam; secara umum bertujuan "mencapai sebuah tempat di luar pulau".
"Murid" dari seni yang tak diakui ini harus mematuhi sebuah ritual absurd. Dalam pelajaran pertama, ia harus menelungkupkan tubuhnya di atas tanah dan menggerakkan tangan serta kaki sesuai dengan petunjuk dari seorang "instruktur". Semua konsep itu berdasar pada keinginan para "instruktur" yang mempunyai gaya tersendiri untuk menguasai orang-orang yang mudah terpedaya pada masa primitif. Akhir-akhir ini, cara pemujaan itu telah menjelma sebuah wabah kegilaan yang menyebar.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
Menurut Idries Shah, kata "tidak menyenangkan" dan "tidak diakui" itu digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang bertentangan dengan kitab suci baru itu. Kitab suci baru itu sendiri dikenal sebagai ajaran yang "Menyenangkan".
Gagasan di baliknya adalah bahwa masyarakat sekarang bisa menyenangkan dirinya sendiri, demi kepentingan umum dan menyenangkan negara. Lembaga di sini dipahami sebagai lembaga yang mencakup semua masyarakat.
Tidaklah mengejutkan bila sejak awal niat meninggalkan pulau menimbulkan rasa takut luar biasa bagi setiap orang. Demikian pula rasa takut bisa terlihat pada tahanan yang telah lama di penjara dan akan dibebaskan. Dunia "luar" penjara adalah suatu dunia yang samar, tidak dikenal dan menakutkan.
Pulau itu bukanlah sebuah penjara. Tetapi ia adalah sebuah sangkar dengan jeruji-jeruji yang tak terlihat, namun lebih efektif dibandingkan sangkar dengan jeruji-jeruji yang terlihat.
Masyarakat pulau kini semakin lebih kompleks. Kita hanya bisa melihat hal itu melalui beberapa bentuknya yang mencolok. Kepustakaan mereka sangat kaya. Disamping berbagai komposisi budaya, ada berbagai buku yang menjelaskan nilai-nilai dan keberhasilan bangsa-bangsa. Demikian pula ada sebuah sistem fiksi alegoris yang menggambarkan betapa kehidupan ini akan sengsara bila masyarakat tidak mengatur diri dengan sistem yang diyakini saat ini.
Dari waktu ke waktu para instruktur berusaha membantu seluruh masyarakat untuk meloloskan diri. Para kapten kapal mengabdikan dirinya untuk menciptakan kembali suatu iklim kondusif bagi para pembuat kapal yang kini bersembunyi melanjutkan pekerjaannya.
Semua upaya ini ditafsirkan oleh para sejarawan dan sosiolog dengan merujuk pada berbagai keadaan di pulau itu tanpa berniat untuk melakukan hubungan di luar masyarakat yang tertutup ini.
Baca juga: Kisah Sufi Suhrawardi: Burung dan Telur
Berbagai penjelasan yang masuk akal tentang hampir semua hal secara komparatif mudah diberikan. Tidak ada prinsip etik, sebab para sarjana tetap mengkaji apa yang dipandang benar dengan penuh ketulusan. "Apa lagi yang bisa kita kerjakan?"
Kata "lagi" mengimplikasikan bahwa alternatif itu mungkin merupakan suatu upaya kuantitatif. Atau mereka saling bertanya, "Adakah hal lain yang bisa kita kerjakan?" dengan asumsi bahwa jawabannya mungkin terletak pada kata "lain" itu -- sesuatu yang berbeda.
Masalah mereka sebenarnya adalah anggapan mereka bahwa dirinya mampu untuk merumuskan pertanyaan dan mengabaikan fakta bahwa pertanyaan sepenting jawaban.
Para penghuni pulau niscaya mempunyai ruang lingkup pemikiran dan tindakan yang luas dalam bidang mereka sendiri yang sempit. Berbagai gagasan dan perbedaan pendapat yang muncul mengesankan kebebasan berpikir. Pemikiran digalakkan dengan syarat tidak "absurd".
Kebebasan berbicara diperbolehkan. Tetapi hal ini sedikit manfaatnya tanpa mengupayakan pengembangan pemahaman.
Kerja dan empati dari para navigator harus mengambil aspek lain sesuai dengan berbagai perubahan di dalam masyarakat. Hal ini justru membuat realitas mereka jauh lebih membingungkan bagi para murid yang berusaha mengikuti mereka dari sudut pandang yang berlaku di pulau itu.
Di tengah-tengah semua kebingungan ini, kemampuan untuk menyadari kemungkinan meloloskan diri pada masa-masa tertentu bahkan bisa menjadi kendala.
Lihat Juga :