Pada Awalnya Jin Sangat Takut Manusia, Mengapa Kini Berani Mengganggu?
Selasa, 30 Agustus 2022 - 15:47 WIB
loading...
A
A
A
Nah, ketika jin melihat bahwa manusia itu selalu meminta perlindungan kepada mereka karena takut kepada mereka, maka justru jin-jin itu makin membuatnya menjadi lebih takut, lebih ngeri, dan lebih kecut hatinya.
Hal ini dimaksudkan agar manusia itu tetap takut kepada mereka dan lebih banyak meminta perlindungan kepada mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (Al-Jin: 6). Yaitu makin menambah manusia berdosa, dan jin pun sebaliknya makin bertambah berani kepada manusia.
Qatadah mengatakan bahwa apabila dia meminta perlindungan kepada jin selain dari Allah, maka jin makin menambah gangguannya kepada dia, dan membuatnya makin merasa takut.
Baca juga: Penyakit yang Disebabkan oleh Gangguan Jin, Berikut Ciri-cirinya
Lebih Tua
Ibnu Katsir saat menafsirkan Surat Al-Jinn ayat 27 mengutip riwayat hadis yang mengatakan bahwa jin diciptakan dari 70 bagian angin panas. Menurut riwayat lain, dari nyala api yang paling baik. Lalu, Amr ibnu Dinar, menyebut dari api matahari.
Allah SWT berfirman: 'Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas' ( QS Al-Hijr : 27).
Setidaknya diitemukan lima padanan kata yang sering digunakan Al-Quran untuk menunjuk makhluk halus dari kalangan jin yaitu jin, jaann, jinnah, iblis, syaithan.
Muhammad Quraish Shihab dalam buku "Mengenal Malaikat dalam Al-Quran", menjelaskan cukup rinci menerangkan istilah akar kata jin, yang pada maknanya adalah yang tersembunyi dan tertutup.
Semantik kata yang sama dengan jin, menurut Quraish Shihab, di antaranya adalah majnun (manusia yang tertutup akalnya), janin (bayi yang masih dalam kandungan, karena tertutup oleh perut ibu), al-junnah (tameng, ia menutupi seseorang dari gangguan), junnah (orang munafik yang menjadikan sumpah untuk menutupi kesalahan dan menghindarkan dari kecaman dan sanksi), kemudian janin (kalbu manusia, karena ia dan isi hati tertutup dari pandangan dan pengetahuan).
Al-Isfahany juga turut memberikan keterangan bahwa definisi jin secara etimologi berasal dari lafadz “janna” dalam surah Al-An’am ayat 76. Melalui bukunya "Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Quran", Al-Isfahany menafsirkan lafazd jin dalam ayat tersebut bermakna sebagian ruh yang tertutup bagi panca indera, di antara mereka ada yang baik dan ada pula yang jahat.
Mengenai ayat ini Jauhari dalam Tafsir Al-Jawahir berpendapat bahwa kata jaann dalam ayat tersebut adalah sekelompok jin yang telah ada sebelum Nabi Adam diciptakan. Hal ini dikukuhkan oleh kebiasaan Al-Quran yang memperhadapkan lafadz “insi” yang berarti kumpulan manusia dengan “jaanni” seperti dalam surah Ar-Rahman ayat 39.
Baca juga: Doa yang Diajarkan Jibril Agar Terhindar dari Gangguan Jin
Tugas Jin
Setiap ciptaan Allah pasti mempunyai tujuan atas penciptaan tersebut, termasuk pula makhluk yang bernama jin. Dalam surat Az-Zariyat ayat 56 disebutkan bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah, atau mengabdi kepada Allah.
Mengabdikan diri kepada Allah berarti jin dibebani (mukallaf) hukum syara’ dengan konsekuensi logis, bahwa apabila ia melaksanakan peritah Allah mereka akan diberikan pahala, demikian pula ketika mereka durhaka maka akan mendapat dosa dan akan menerima siksa di akhirat kelak.
Keterangan tugas jin sebagai makhluk yang taklif syariat juga ditegaskan Allah dalam surah Al-An’am ayat 130. Kemudian jika menelisik surah Ar-Rahman , lafadz “fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadzdzibaan” yang berulang sebanyak 26 kali, khitabnya adalah mutsanna yaitu dari kalangan manusia dan juga jin. Memang tidak ada rasul yang diutus dari kalangan jin, namun mereka tetap dapat menerima ajaran yang disampaikan rasul tersebut sebagaimana dalam surah Jin ayat 1-2:
Hal ini dimaksudkan agar manusia itu tetap takut kepada mereka dan lebih banyak meminta perlindungan kepada mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (Al-Jin: 6). Yaitu makin menambah manusia berdosa, dan jin pun sebaliknya makin bertambah berani kepada manusia.
Qatadah mengatakan bahwa apabila dia meminta perlindungan kepada jin selain dari Allah, maka jin makin menambah gangguannya kepada dia, dan membuatnya makin merasa takut.
Baca juga: Penyakit yang Disebabkan oleh Gangguan Jin, Berikut Ciri-cirinya
Lebih Tua
Ibnu Katsir saat menafsirkan Surat Al-Jinn ayat 27 mengutip riwayat hadis yang mengatakan bahwa jin diciptakan dari 70 bagian angin panas. Menurut riwayat lain, dari nyala api yang paling baik. Lalu, Amr ibnu Dinar, menyebut dari api matahari.
Allah SWT berfirman: 'Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas' ( QS Al-Hijr : 27).
Setidaknya diitemukan lima padanan kata yang sering digunakan Al-Quran untuk menunjuk makhluk halus dari kalangan jin yaitu jin, jaann, jinnah, iblis, syaithan.
Muhammad Quraish Shihab dalam buku "Mengenal Malaikat dalam Al-Quran", menjelaskan cukup rinci menerangkan istilah akar kata jin, yang pada maknanya adalah yang tersembunyi dan tertutup.
Semantik kata yang sama dengan jin, menurut Quraish Shihab, di antaranya adalah majnun (manusia yang tertutup akalnya), janin (bayi yang masih dalam kandungan, karena tertutup oleh perut ibu), al-junnah (tameng, ia menutupi seseorang dari gangguan), junnah (orang munafik yang menjadikan sumpah untuk menutupi kesalahan dan menghindarkan dari kecaman dan sanksi), kemudian janin (kalbu manusia, karena ia dan isi hati tertutup dari pandangan dan pengetahuan).
Al-Isfahany juga turut memberikan keterangan bahwa definisi jin secara etimologi berasal dari lafadz “janna” dalam surah Al-An’am ayat 76. Melalui bukunya "Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Quran", Al-Isfahany menafsirkan lafazd jin dalam ayat tersebut bermakna sebagian ruh yang tertutup bagi panca indera, di antara mereka ada yang baik dan ada pula yang jahat.
Mengenai ayat ini Jauhari dalam Tafsir Al-Jawahir berpendapat bahwa kata jaann dalam ayat tersebut adalah sekelompok jin yang telah ada sebelum Nabi Adam diciptakan. Hal ini dikukuhkan oleh kebiasaan Al-Quran yang memperhadapkan lafadz “insi” yang berarti kumpulan manusia dengan “jaanni” seperti dalam surah Ar-Rahman ayat 39.
Baca juga: Doa yang Diajarkan Jibril Agar Terhindar dari Gangguan Jin
Tugas Jin
Setiap ciptaan Allah pasti mempunyai tujuan atas penciptaan tersebut, termasuk pula makhluk yang bernama jin. Dalam surat Az-Zariyat ayat 56 disebutkan bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah, atau mengabdi kepada Allah.
Mengabdikan diri kepada Allah berarti jin dibebani (mukallaf) hukum syara’ dengan konsekuensi logis, bahwa apabila ia melaksanakan peritah Allah mereka akan diberikan pahala, demikian pula ketika mereka durhaka maka akan mendapat dosa dan akan menerima siksa di akhirat kelak.
Keterangan tugas jin sebagai makhluk yang taklif syariat juga ditegaskan Allah dalam surah Al-An’am ayat 130. Kemudian jika menelisik surah Ar-Rahman , lafadz “fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadzdzibaan” yang berulang sebanyak 26 kali, khitabnya adalah mutsanna yaitu dari kalangan manusia dan juga jin. Memang tidak ada rasul yang diutus dari kalangan jin, namun mereka tetap dapat menerima ajaran yang disampaikan rasul tersebut sebagaimana dalam surah Jin ayat 1-2:
Lihat Juga :