Pada Awalnya Jin Sangat Takut Manusia, Mengapa Kini Berani Mengganggu?
Selasa, 30 Agustus 2022 - 15:47 WIB
loading...
A
A
A
قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا . يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا
“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadamu bahwasannya: ‘telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al-Quran), lalu mereka berkata ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, dan sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami’.”
Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut Rasulullah mengetahui para jin yang mendengar wahyu yang diturunkan kepadanya, tetapi tidak melalui kesaksian mata.
Al-Mawardi dengan mengutip riwayat dari Ibnu Abbas mengasumsikan bahwa jin beriman setelah Al-Quran diturunkan Nabi Muhammad.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dengan mengutip pendapat Ar-Razi juga memberikan pandangan bahwa jin memahami bahasa manusia. Mereka mendengarkan pembacaan ayat-ayat Al-Quran dari Nabi. Adapun bagaimana cara mendapatkan dan mendengarkan bacaan tersebut memang tidak diterangkan lebih lanjut, dan hanya Allah yang mengetahui.
Baca juga: Amalan Sebelum Tidur agar Terhindar dari Mimpi Buruk dan Gangguan Jin
Jin dan Makhluk Gaib
Jin sering dicatut namanya ketika menyebut iblis atau setan. Sebetulnya pencatutan demikian tidak sepenuhnya keliru, namun menggeneralisir jin adalah iblis atau setan adalah kurang tepat.
Jin sendiri sama seperti manusia, ia terklasifikasi menjadi dua sifat yaitu jin muslim dan jin kafir. Pada manusia pun juga terdapat dua sifat, yaitu manusia yang beriman kepada Allah dan manusia yang durhaka kepada Allah.
Adapun iblis terdapat pengertian sendiri. Mufassir seperti Hasbi As-Shiddiqi dalam Tafsir al-Quran al-Majid an-Nur dan At-Thabari dalam Jami’ al-Bayan li Ta’wil al-Quran meyakini pendapat bahwa iblis adalah dari kalangan malaikat.
Mengutip Az-Zamakhsyari dan Al-Kawasyi, Hasbi As-Shiddiqi memberikan pandangan bahwa iblis ini adalah jin yang ada di antara beribu-ribu malaikat.
At-Thabari memberikan argumentasi bahwa secara bahasa kata jin dapat mencakup malaikat karena ketertutupan dan ketersembunyian malaikat dari jangkauan indra manusia. Dalil lain yaitu dengan adanya perintah sujud para malaikat kepada Adam.
Pendapat As-Shiddiqi dan At-Thabari tersebut agak rancu mengingat malaikat sendiri tercipta dari nur atau cahaya, sedang iblis dari api.
Pendapat dari Quraish Shihab menyatakan bahwa iblis bukan termasuk jenis malaikat. Quraish Shihab juga mengutip pendapat Mutawalli Sya’rawi dalam kitab Syaithan wa al-Insan bahwa kita harus mengenal setan-setan dari jenis jin dan setan-setan dari jenis manusia.
Kedua jenis ini dihimpun oleh sifat yang sama dan tugas yang sama, yaitu membendung kebenaran, mengajak kekufuran, menyebarkan kedurhakaan dan pengrusakan di bumi.
Baca juga: Surat Jin untuk Memanggil Jin? Begini Penjelasannya
“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadamu bahwasannya: ‘telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al-Quran), lalu mereka berkata ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya, dan sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami’.”
Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut Rasulullah mengetahui para jin yang mendengar wahyu yang diturunkan kepadanya, tetapi tidak melalui kesaksian mata.
Al-Mawardi dengan mengutip riwayat dari Ibnu Abbas mengasumsikan bahwa jin beriman setelah Al-Quran diturunkan Nabi Muhammad.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dengan mengutip pendapat Ar-Razi juga memberikan pandangan bahwa jin memahami bahasa manusia. Mereka mendengarkan pembacaan ayat-ayat Al-Quran dari Nabi. Adapun bagaimana cara mendapatkan dan mendengarkan bacaan tersebut memang tidak diterangkan lebih lanjut, dan hanya Allah yang mengetahui.
Baca juga: Amalan Sebelum Tidur agar Terhindar dari Mimpi Buruk dan Gangguan Jin
Jin dan Makhluk Gaib
Jin sering dicatut namanya ketika menyebut iblis atau setan. Sebetulnya pencatutan demikian tidak sepenuhnya keliru, namun menggeneralisir jin adalah iblis atau setan adalah kurang tepat.
Jin sendiri sama seperti manusia, ia terklasifikasi menjadi dua sifat yaitu jin muslim dan jin kafir. Pada manusia pun juga terdapat dua sifat, yaitu manusia yang beriman kepada Allah dan manusia yang durhaka kepada Allah.
Adapun iblis terdapat pengertian sendiri. Mufassir seperti Hasbi As-Shiddiqi dalam Tafsir al-Quran al-Majid an-Nur dan At-Thabari dalam Jami’ al-Bayan li Ta’wil al-Quran meyakini pendapat bahwa iblis adalah dari kalangan malaikat.
Mengutip Az-Zamakhsyari dan Al-Kawasyi, Hasbi As-Shiddiqi memberikan pandangan bahwa iblis ini adalah jin yang ada di antara beribu-ribu malaikat.
At-Thabari memberikan argumentasi bahwa secara bahasa kata jin dapat mencakup malaikat karena ketertutupan dan ketersembunyian malaikat dari jangkauan indra manusia. Dalil lain yaitu dengan adanya perintah sujud para malaikat kepada Adam.
Pendapat As-Shiddiqi dan At-Thabari tersebut agak rancu mengingat malaikat sendiri tercipta dari nur atau cahaya, sedang iblis dari api.
Pendapat dari Quraish Shihab menyatakan bahwa iblis bukan termasuk jenis malaikat. Quraish Shihab juga mengutip pendapat Mutawalli Sya’rawi dalam kitab Syaithan wa al-Insan bahwa kita harus mengenal setan-setan dari jenis jin dan setan-setan dari jenis manusia.
Kedua jenis ini dihimpun oleh sifat yang sama dan tugas yang sama, yaitu membendung kebenaran, mengajak kekufuran, menyebarkan kedurhakaan dan pengrusakan di bumi.
Baca juga: Surat Jin untuk Memanggil Jin? Begini Penjelasannya
(mhy)
Lihat Juga :