Sebuah Misteri, Mencari Makna Merak dan Ular

Kamis, 02 Juli 2020 - 06:20 WIB
loading...
Sebuah Misteri, Mencari...
Pada Merak, kita menyaksikan keindahan itu semakin semarak. Foto/Ilustrasi/Pinterest
A A A
KISAH bertajuk Ular dan Merak berikut ini dinukil dari Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi yang diterjemahkan oleh Ahmad Bahar dari Idries Shah , Tales of The Dervishes. Baca juga: Jalan Gunung: Ahli Logika Cenderung Buram Matanya, Benarkan?

Oleh para Orientalis, kisah ini dianggap misteri. Pemujaan Ular dan Merak didasarkan pada ajaran seorang Syaikh Sufi, Adi, putra Musafir, pada abad kedua belas.

Kisah ini, yang melegenda, menunjukkan bagaimana guru-guru darwis membentuk 'aliran-aliran'-nya berdasarkan berbagai lambang, yang dipilih sebagai contoh dalam ajaran-ajarannya. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Waktu, Tempat, dan Orang)

Dalam bahasa Arab, 'Merak' diartikan juga sebagai 'perhiasan', sedangkan bentuk huruf 'Ular' sama dengan bentuk huruf kata 'organisme' dan 'kehidupan'. Karenanya, perlambangan samar Pemujaan Malaikat Merak Kaum Yezidi merupakan cara untuk menunjukkan 'Bagian Dalam dan Luar', rumus-rumus Sufi tradisional.

Pemujaan ini masih ada di Timur Tengah dan memiliki penganut di Inggris dan Amerika Serikat.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Berharga dan Tak Berharga )

Ular dan Merak
Pada suatu hari, seorang muda bernama Adi, Si Mesin Hitung karena ia belajar matematika, memutuskan untuk meninggalkan Bokhara dan mencari ilmu yang lebih tinggi. Gurunya menasihatkan agar ia berkelana ke selatan, katanya, "Carilah makna Merak dan Ular." Nasihat itu membuat Adi berpikir keras.

Baca juga: Tiga Nasihat Berharga dari Burung yang Tertangkap

la berjalan lewat Khorasan dan akhirnya sampai di Irak. Di Irak, ia benar-benar mendapati tempat di mana terdapat seekor merak dan seekor ular. Adi pun mencoba berbicara kepada mereka. "Kami sedang berdebat," kata kedua binatang itu, "tentang kelebihan kami masing-masing."

"Justru itu yang ingin kupelajari," kata Adi, "teruskan saja perbincangan kalian." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Raja Ingin Menjadi Dermawan )

"Aku merasa aku lebih unggul," kata Merak itu. "Aku melambangkan cita-cita, terbang ke langit keindahan sorgawi, dan karenanya pula pengetahuan serba tinggi. Adalah tugasku untuk mengingatkan manusia, dengan menirukan, tentang segi-segi dirinya yang tak kasat baginya."

"Aku, sebaliknya," kata Ular, sambil mendesis perlahan, "melambangkan hal-hal itu juga. Seperti manusia, aku terbatas pada bumi. Hal ini mengingatkan manusia tentang dirinya. Seperti pula manusia, aku lentur sehingga bisa meliuk menyusur tanah. Manusia sering kali melupakan hal itu juga. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Orang Berjalan di Atas Air )

Dalam dongeng, akulah penjaga harta yang tersembunyi di bumi." "Tetapi kau menjijikan," teriak Merak, "kau licik, dingin, dan berbahaya."

"Kau menyebut sifat-sifat manusiaku," kata Ular, "sedangkan aku lebih suka menampilkan sifat-sifatku yang lain, yang sudah kusebut tadi. Sekarang, lihat dirimu sendiri kau sombong, kegemukan, dan suaramu parau. Kakimu kebesaran, bulu-bulumu terlalu panjang."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Nelayan dan Jin )

Pada saat itu, Adi menyela, "Hanya ketidakcocokan kalianlah yang telah membuatku mengetahui bahwa tak satu pun dari kalian yang benar. Dan sekalipun begitu, kita sama-sama jelas melihat, apabila kalian meninggalkan keasyikan diri sendiri, bahwa kalian bersama-sama telah memberi pesan bagi kemanusiaan."

Dan, sementara kedua binatang itu mendengarkannya, Adi menjelaskan peran mereka masing-masing. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen )

"Manusia melata di tanah seperti Si Ular. Ia sanggup melayang tinggi bagai burung. Namun, seperti halnya ular yang tamak, ia memelihara keegoisannya ketika berusaha terbang, dan menjadi layaknya Merak, terlalu angkuh. Dalam diri Merak, kita bisa melihat kemungkinan manusia, namun yang tidak tercapai dengan semestinya. Dalam kemilau Ular, kita bisa menyaksikan kemungkinan keindahan. Pada Merak, kita menyaksikan keindahan itu semakin semarak."
(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Roti dan Permata )

Dan kemudian terdengar suara dari dalam berbicara kepada Adi, "Bukan hanya itu. Kedua makhluk itu diberkahi kehidupan itulah faktor penentu. Mereka bertengkar karena masing-masing telah menjalani jenis kehidupannya sendiri, mengira bahwa itu merupakan perwujudan kedudukan yang sebenarnya. Namun, yang satu menjagai harta karun, tetapi tidak bisa mempergunakannya. Yang lain mencerminkan keindahan, suatu harta juga, tetapi tidak bisa mengubah dirinya sendiri menjadi keindahan. Meskipun tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang terbuka bagi mereka, mereka melambangkannya, bagi orang-orang yang bisa melihat dan mendengarnya."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Kisah Hikmah : Diselamatkan...
Kisah Hikmah : Diselamatkan dari Siksa Kubur karena Fadilah Puasa Syawal
Kisah Hit, Seorang Waria...
Kisah Hit, Seorang Waria yang Hidup di Zaman Nabi SAW
Rekomendasi
Masjid Istiqlal Gelar...
Masjid Istiqlal Gelar Salat Gerhana Bulan, Ini Waktunya
Ahli Ungkap Semua Gempa...
Ahli Ungkap Semua Gempa di Jawa Berpotensi Menghancurkan dalam Sekejap Mata
Inilah Danau Terkutuk...
Inilah Danau Terkutuk di Dunia, Bisa Ubah Hewan Menjadi Batu
Artikel Terkini
Bacaan Niat 3 Jenis...
Bacaan Niat 3 Jenis Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Jadwal Puasa Muharam...
Jadwal Puasa Muharam 1448 H Tahun 2026, Kapan Puasa Tasu'a dan Asyura Dilaksanakan?
Jangan Libatkan Anak...
Jangan Libatkan Anak dalam Konflik Perceraian, Ini Pesan Buya Yahya untuk Orang Tua
Ramai Kasus Perebutan...
Ramai Kasus Perebutan Hak Asuh Anak, Begini Aturan Hadhanah dalam Islam
5 Putusan Rasulullah...
5 Putusan Rasulullah SAW tentang Hak Asuh Anak Setelah Perceraian
Infografis
6 Fenomena Bulan Langka...
6 Fenomena Bulan Langka yang Menarik untuk Diamati dan Dinikmati
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved