Kisah Bijak Para Sufi: Waktu, Tempat, dan Orang
Jum'at, 26 Juni 2020 - 06:20 WIB
loading...
Si darwis duduk bersila di tanah, dan mulai menyanyi. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
Pada zaman dahulu, ada seorang raja yang memanggil seorang Darwis dan berkata kepadanya "Jalan para darwis, melalui silih bergantinya para guru sejak zaman lampau hingga kini, telah senantiasa memancarkan cahaya yang menjadi pendorong nilai-nilai yang membuat martabatku tampak tak lebih dari suatu bayangan pudar."
Darwis itu menjawab, "Demikianlah adanya." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Raja Ingin Menjadi Dermawan )
"Sekarang," kata raja itu, "karena aku sangat berhasrat untuk mengetahui fakta-fakta di masa lalu, dan ingin sekali mendapatkan kebenaran yang bisa kau tunjukkan, dalam kebijaksaanmu yang ulung itu, maka ajarilah aku!"
"Suatu perintahkah itu atau permintaan?" tanya si darwis.
"Terserah padamu," kata raja itu. "Kalau dianggap suatu perintah, aku siap belajar. Kalau dianggap permintaan, aku siap belajar."
Dan, ia menunggu jawaban darwis itu.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Nelayan dan Jin
Berpuluh-puluh menit berlalu, dan akhirnya darwis itu menengadahkan kepalanya yang sejak tadi tunduk merenung. Katanya, "Raja harus menantikan 'saat pewahyuan'."
Jawaban itu mengherankan Raja, sebab, bagaimanapun juga, manakala ia ingin mengetahui sesuatu ia merasa memiliki hak untuk diberitahu, atau ditunjukkan, sesuatu atau lainnya.
Darwis itu pun meninggalkan istana raja. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Roti dan Permata )
Semenjak itu, hari demi hari, si darwis terus menyertai sang raja. Siang dan malam urusan negara terjadi, kerajaan itu melewati masa suka dan duka, para penasihat raja memberikan saran mereka, dan roda kehidupan terus saja berputar.
Darwis itu menjawab, "Demikianlah adanya." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Raja Ingin Menjadi Dermawan )
"Sekarang," kata raja itu, "karena aku sangat berhasrat untuk mengetahui fakta-fakta di masa lalu, dan ingin sekali mendapatkan kebenaran yang bisa kau tunjukkan, dalam kebijaksaanmu yang ulung itu, maka ajarilah aku!"
"Suatu perintahkah itu atau permintaan?" tanya si darwis.
"Terserah padamu," kata raja itu. "Kalau dianggap suatu perintah, aku siap belajar. Kalau dianggap permintaan, aku siap belajar."
Dan, ia menunggu jawaban darwis itu.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Nelayan dan Jin
Berpuluh-puluh menit berlalu, dan akhirnya darwis itu menengadahkan kepalanya yang sejak tadi tunduk merenung. Katanya, "Raja harus menantikan 'saat pewahyuan'."
Jawaban itu mengherankan Raja, sebab, bagaimanapun juga, manakala ia ingin mengetahui sesuatu ia merasa memiliki hak untuk diberitahu, atau ditunjukkan, sesuatu atau lainnya.
Darwis itu pun meninggalkan istana raja. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Roti dan Permata )
Semenjak itu, hari demi hari, si darwis terus menyertai sang raja. Siang dan malam urusan negara terjadi, kerajaan itu melewati masa suka dan duka, para penasihat raja memberikan saran mereka, dan roda kehidupan terus saja berputar.
Lihat Juga :