Kisah Tiga Orang Bertawassul dengan Amal Terbaik yang Pernah Mereka Kerjakan
Kamis, 15 September 2022 - 17:17 WIB
loading...
Kisah tiga orang terjebak dalam gua bertawassul dengan amal terbaik yang pernah mereka kerjakan, diriwayatkan Imam Muslim. Foto/Ilusrasi: Ist
A
A
A
Kisah tiga orang terjebak dalam gua bertawassul dengan amal terbaik yang pernah mereka kerjakan, diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab zikir, tobat, dan istighfar. Sedangkan Imam Bukhari dalam kitab jual beli. Hadis ini dari Abdullah bin Umar bin Khattab .
Baca juga: Memahami Tawassul yang Disyariatkan
Ibnu Umar ra, dari Nabi Muhammad SAW, berkata bahwa beliau bersabda:
Ada tiga orang laki-laki sedang berjalan-jalan dan tiba-tiba turun hujan lebat. Lalu mereka masuk ke dalam satu gua yang terdapat di sebuah gunung. Tiba-tiba jatuh batu besar sehingga menutup jalan keluar mereka.
Lalu masing-masing berkata kepada yang lain: "Berdoalah dengan amal terbaik yang pernah kalian kerjakan!"
Mereka pun berdoa. Salah seorang dari mereka seraya berkata: "Ya Allah, sesungguhnya aku dahulu mempunyai ibu bapak yang sudah tua sekali. Setiap aku keluar untuk menggembala, aku biasanya memerah susu, lalu susu itu aku bawa pulang dan aku berikan kepada kedua orang tuaku dan mereka meminumnya. Susu itu juga aku berikan kepada anak-anak, keluarga, dan istriku."
"Pada suatu hari aku pulang terlambat dan orang tuaku sudah tidur. Aku tidak suka membangunkan mereka. Sementara anak-anak merengek dan menangis kelaparan di dekat kedua kakiku. Hal itu terjadi pada diriku dan pada diri mereka berdua sampai terbit fajar."
"Ya Allah, seandainya Engkau mengetahui bahwa apa yang aku lakukan itu semata-mata karena mencari ridhaMu, maka bebaskanlah kami sehingga kami bisa melihat langit."
Baca juga: Memahami Tawassul: Syirik, Bid'ah, Ataukah Sekadar Adab?
Kemudian batu bergeser sepertiganya. Orang kedua berdoa: "Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa aku dahulu pernah mencintai salah seorang anak gadis pamanku sebagaimana cinta yang sangat mendalam dan seorang laki-laki terhadap seorang wanita. Aku minta supaya dia mau melayani kemauan nafsuku. Tetapi dia tidak mau sampai aku bersedia menahan diri selama satu tahun lamanya, maka setelah itu akan datang kepadaku."
Anak gadis pamanku itu berkata: "Engkau tidak bakal merenggut kegadisanku sehingga engkau bersedia memberiku seratus dinar."
Aku pun berusaha mendapatkannya sehingga uang tersebut bisa kukumpulkan. Maka tatkala aku sudah duduk di antara kedua kakinya, dia berkata: "Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah kamu merusak mahkota kegadisanku kecuali dengan cara yang benar!"
"Aku segera berdiri dan meninggalkannya. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa apa yang aku lakukan itu semata-mata karena mencari ridha-Mu, maka bebaskanlah kami."
Baca juga: Memahami Tawassul yang Disyariatkan
Ibnu Umar ra, dari Nabi Muhammad SAW, berkata bahwa beliau bersabda:
Ada tiga orang laki-laki sedang berjalan-jalan dan tiba-tiba turun hujan lebat. Lalu mereka masuk ke dalam satu gua yang terdapat di sebuah gunung. Tiba-tiba jatuh batu besar sehingga menutup jalan keluar mereka.
Lalu masing-masing berkata kepada yang lain: "Berdoalah dengan amal terbaik yang pernah kalian kerjakan!"
Mereka pun berdoa. Salah seorang dari mereka seraya berkata: "Ya Allah, sesungguhnya aku dahulu mempunyai ibu bapak yang sudah tua sekali. Setiap aku keluar untuk menggembala, aku biasanya memerah susu, lalu susu itu aku bawa pulang dan aku berikan kepada kedua orang tuaku dan mereka meminumnya. Susu itu juga aku berikan kepada anak-anak, keluarga, dan istriku."
"Pada suatu hari aku pulang terlambat dan orang tuaku sudah tidur. Aku tidak suka membangunkan mereka. Sementara anak-anak merengek dan menangis kelaparan di dekat kedua kakiku. Hal itu terjadi pada diriku dan pada diri mereka berdua sampai terbit fajar."
"Ya Allah, seandainya Engkau mengetahui bahwa apa yang aku lakukan itu semata-mata karena mencari ridhaMu, maka bebaskanlah kami sehingga kami bisa melihat langit."
Baca juga: Memahami Tawassul: Syirik, Bid'ah, Ataukah Sekadar Adab?
Kemudian batu bergeser sepertiganya. Orang kedua berdoa: "Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa aku dahulu pernah mencintai salah seorang anak gadis pamanku sebagaimana cinta yang sangat mendalam dan seorang laki-laki terhadap seorang wanita. Aku minta supaya dia mau melayani kemauan nafsuku. Tetapi dia tidak mau sampai aku bersedia menahan diri selama satu tahun lamanya, maka setelah itu akan datang kepadaku."
Anak gadis pamanku itu berkata: "Engkau tidak bakal merenggut kegadisanku sehingga engkau bersedia memberiku seratus dinar."
Aku pun berusaha mendapatkannya sehingga uang tersebut bisa kukumpulkan. Maka tatkala aku sudah duduk di antara kedua kakinya, dia berkata: "Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah kamu merusak mahkota kegadisanku kecuali dengan cara yang benar!"
"Aku segera berdiri dan meninggalkannya. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa apa yang aku lakukan itu semata-mata karena mencari ridha-Mu, maka bebaskanlah kami."
Lihat Juga :