Kisah Nazar Sayyidah Aisyah Pantang Bicara dengan Abdullah bin Zubair

loading...
Kisah Nazar Sayyidah Aisyah Pantang Bicara dengan Abdullah bin Zubair
Kisah nazar Sayyidah Sayyidah Aisyah pantang bicara dengan Abdullah bin Zubair ini diriwayatkan diriwayatkan Imam Bukhari
Kisah nazar Sayyidah Aisyah pantang bicara dengan Abdullah bin Zubair ini diriwayatkan diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab "Adab" Bab: Tidak bertegur sapa dan sabda Nabi SAW : "Tiada halal bagi orang muslim untuk tidak bertegur sapa dengan temannya lebih dari tiga hari."

Baca juga: Abdullah bin Zubair: Bayi Mungil dan Kekalahan Sihir Yahudi

Diriwayatkan, Auf bin Thufail, kemenakan Aisyah dari jalur ibu, mengatakan bahwa ada yang bercerita kepada Aisyah bahwa Abdullah bin Zubair berkata mengenai jual beli atau suatu pemberian yang diberikan Aisyah.

"Demi Allah, hendaklah Aisyah berhenti melakukannya atau dia akan aku diamkan (tidak aku sapa) selama-lamanya," ujar Abdullah bin Zubair.

Di dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Zubair adalah orang yang paling disenangi Aisyah setelah Nabi SAW dan Abu Bakar. Abdullah bin Zubair adalah orang yang paling baik terhadap Aisyah.

Aisyah tidak pernah menahan rezeki Allah yang datang kepadanya kecuali dia sedekahkan.

"Benarkah Abdullah bin Zubair mengucapkan kata-kata itu?" tanya Aisyah kepada para sahabat.

"Benar," jawab para sahabat.

"Demi Allah, aku bernazar tidak akan berbicara dengan Ibnu Zubair selama-lamanya," ujar Aisyah kemudian.

Baca juga: Abdullah bin Zubair, Penguasa Mekkah dan Madinah yang Berakhir Tragis

Akhirnya Ibnu Zubair meminta bantuan seseorang untuk menyelesaikan masalahnya dengan Aisyah. Aisyah berkata: "Demi Allah, aku tidak menerima bantuan seseorang untuk menengahi kasus Ibnu Zubair ini dan aku tidak mau melanggar nazarku."

Karena Ibnu Zubair merasa sudah lama sekali tidak bertegur sapa dengan Aisyah, akhirnya dia mencoba berbicara dengan Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman ibnul Aswad bin Abdi Yaghuts. Keduanya adalah dari Bani Zuhrah.

Ibnu Zubair berkata kepada mereka: "Demi Allah, aku betul-betul berharap agar kalian bersedia membawaku menemui Aisyah, sebab tidaklah halal (baik) baginya bernazar untuk memutuskan hubungan denganku."

Mereka menerima permintaan Ibnu Zubair. Setelah memakai jubah mereka berangkat menuju rumah Aisyah. Sampai di situ mereka mengucapkan: "Assalamu'alaikom warahmatullahi wabarakatuh, apakah kami boleh masuk?"

"Silakan!" jawab Aisyah.

Mereka bertanya: "Apakah semua kami?"

Aisyah menjawab: "Ya, silakan masuk semuanya!"

Sementara Aisyah tidak tahu bahwa bersama mereka ada Ibnu Zubair. Setelah mereka masuk, Ibnu Zubair segera masuk menembus hijab pembatas dan langsung mendekati Aisyah, dan sambil menangis dia meminta Aisyah memaafkannya. Demikian pula halnya dengan Miswar dan Abdurrahman.

Mereka terus memohon Aisyah agar mau berbicara dan menerima kedatangan Ibnu Zubair, dan mereka mengatakan bahwa Nabi SAW, seperti yang kalian ketahui, melarang pemutusan tegur sapa, dan tidaklah halal (boleh) bagi seorang muslim tidak bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari.

Setelah mereka berbicara panjang lebar untuk mengingatkan dan mendesak Aisyah, akhirnya sambil menangis Aisyah berkata: "Sesungguhnya aku sudah bernazar dan nazarku itu sangat berat." Tetapi mereka tetap bersikeras meminta dan mendesak Aisyah sehingga akhirnya Aisyah bersedia berbicara dengan Ibnu Zubair. Untuk menebus nazarnya itu, dia memerdekakan empat puluh orang budak. Ketika ingat akan nazarnya itu setelah kejadian tersebut, Aisyah menangis sehingga air matanya bercucuran membasahi kerudungnya."

Baca juga: Zubair bin Awwam: Ahli Surga yang Jadi Lawan Kubu Ali Bin Abi Thalib

Penguasa Hejaz
Sekadar mengingatkan Abdullah bin Zubair atau Ibnu Zubair adalah cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau sempat menjadi khalifah yang pemerintahannya berpusat di Hejaz.

O Hashem dalam "Muhammad Sang Nabi: Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail" memaparkan selain Hijaz, Ibnu Zubair juga memantapkan keuasaannya di Iraq, Selatan Arabia dan bagian terbesar Syam, serta sebagian Mesir.

Jauh sebelum itu, Ibnu Zubair adalah prajurit Islam yang tangguh. Beliau tercaat sebagai mujahid yang menggempur Afrika, membebaskan mereka dari kesesatan. Pada waktu mengikuti ekspedisi tersebut, usianya baru menginjak 17 tahun.

Dalam peperangan tersebut, jumlah personil diantara dua pasukan jauh tidak seimbang. Jumlah pasukan Muslimin hanya 20.000 orang, sedangkan tentara musuh berjumlah 120.000 orang. Keadaan ini cukup membuat kaum Muslimin kerepotan melawan gelombang musuh yang demikian banyak, walau hal itu tidak membuat mereka gentar.

Melihat kondisi yang kurang menguntungkan tersebut, Abdullah bin Zubair berpikir mencari rahasia kekuatan lawan. Akhirnya ia menemukan jawaban, bahwa inti kekuatan musuh tertumpu pada Raja Barbar yang menjadi panglima perang mereka. Dengan penuh keberanian, Abdullah mencoba menembus pasukan musuh yang berlapis menuju ke arah panglima tersebut.

Baca juga: Membakar Masjid Kaum Munafik, Matinya Abdullah Bin Ubayy

Upayanya tidak sia-sia, ketika jarak antara dirinya dan Raja Barbar telah dekat, ia menebaskan pedangnya menghabisi nyawa panglima kaum musyrik itu. Panji pasukan lawan pun direbut oleh teman-temannya dari tangan musuh. Dan ternyata, dugaan Abdullah tidak meleset, segera setelah itu semangat tempur pasukan musuh redup dan tak lama kemudian mereka bertekuk lutut di hadapan para mujahid yang gagah berani.
(mhy)
preload video