Mengabadikan Pengembara Ibnu Batutah, dari Kawah Bulan sampai Bandara

loading...
Mengabadikan Pengembara Ibnu Batutah, dari Kawah Bulan sampai Bandara
Ibn Battuta Mall di Dubai. Foto/Ilustrasi: contructionweekonline
Pengembaraan Ibnu Batutah tercatat sepanjang 120.000 kilometer selama 30 tahun dikenang sejumlah negara. Bukan hanya negeri Islam, negeri Barat pun mengenangnya. Prancis , misalnya, mengabadikan nama besar dan kehebatan Ibnu Batutah menjadi nama salah satu kawah bulan.

Mohamad Fadhilah Zein dalam bukunya berjudul "Islam di Yordania, Maroko dan Spanyol" menyebut sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya, International Astronomy Union (IAU) Prancis mengabadikan Ibnu Batutah menjadi nama salah satu kawah bulan.

Kawah Ibnu Batutah itu terletak di Barat daya kawah Lindenbergh dan Timur laut kawah bulan terkenal Goclenius. Di sekitar kawah Ibnu Batutah tersebar beberapa formasi kawah hantu.

Baca juga: Ibnu Batutah, Saksi Kebesaran Kerajaan Islam Samudera Pasai

Kawah Ibnu Batutah berbentuk bundar dan simetris. Dasar bagian dalam kawah Ibnu Battuta terbilang luas. Diameter kawah itu mencapai 11 kilometer.

Dasar kawah bagian dalamnya terbilang gelap, segelap luarnya. Kawah Ibnu Batutah awalnya bernama Goclenius A. Namun, IAU kemudian memberinya nama Ibnu Batutah.

Selain dijadikan nama kawah di bulan, Ibnu Batutah juga diabadikan dan dikenang masyarakat Dubai lewat sebuah mall atau pusat perbelanjaan bernama Ibnu Batutah Mall. Di sepanjang koridor mall itu dipajangkan hasil penelitian dan penemuan Ibnu Batutah.

Sementara di kampung halamannya sendiri, Tanger-Maroko, Ibnu Batutah sangat terkenal. Di dekat Stadion Tanger terdapat bentuk Globe kecil yang menandai kediaman Ibnu Batutah yang kecil. Terdapat juga di Hotel Ibn Battouta di Jalan (Rue) Magellan, di bagian bawah perbukitan ada burger Ibn Battouta dan Cafe Ibn Battouta.

Ferry yang menghubungkan Spanyol dengan Maroko menyeberangi Selat Gibraltar juga bernama M.V. Ibn Battouta. Begitu juga bandara kota Tanger bernama Ibn Battouta. Meski petualangan dan pengembaraannya telah berlalu sembilan abad silam, namun kebesaran dan kehebatannya hingga kini tetap dikenang dunia.

Baca juga: Kisah Pengembaraan Ibnu Batutah Sepanjang 120.000 Kilometer selama 30 Tahun

Rihlah Legendaris
Ibnu Batutah adalah petualang legendaris dari Maroko. Ia dianggap sebagai pelopor penjelajah abad 13 M yang belum tertandingi. Nama lengkapnya adalah Muhammad Abu Abdullah bin Muhammad Al Lawati Al Tanjawi yang kemudian dikenal dengan Ibnu Batutoh. Lahir di Tanger (kota di sebelah utara Maroko) 24 Februari 1304 M/703 H dan wafat di kota kelahirannya pada tahun 1377 M/ 779 H.

Ibnu Batutah berasal dari keturunan bangsa Barbar. Besar dalam keluarga yang taat memelihara tradisi Islam. Saat itu, Maroko sedang dikuasai Dinasti Mariniah. Ia dikenal sangat giat mempelajari fiqih dari para ahli yang sebagian besarnya menduduki jabatan Qadhi (hakim).

Beliau juga mempelajari sastra dan syair Arab. Pada usia sekitar 21 tahun 4 bulan, ia menunaikan rukun iman kelima. Perjalananya menuju ke Baitullah telah membawanya berpetualang dan menjelajahi dunia. Ia mengarungi samudera dan menjelajah daratan demi sebuah tujuan mulia. Sampai kemudian Ia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi sekitar 44 negara selama 30 tahun.

Rihlah Ibnu Batutoh inilah salah satu buku legendaris yang mengisahkan perjalanan seorang petualang agung itu pada 1325 hingga 1354 M.

Sejatinya, katta Mohamad Fadhilah Zein, Rihlah bukanlah judul buku, tetapi hanya menggambarkan sebuah genre (gaya sastra). Judul asli dari buku yang ditulis Ibnu Batutah itu adalah Tuhfat al-Nuzzhar fi Ghara'ib al-Amshar wa 'Aja'ib al-Asfar (Persembahan Seorang Pengamat tentang Kota-kota Asing dan Perjalanan yang Mengagumkan) ditulis oleh Ibnu Juzay, juru tulis Sultan Maroko, Abu Inan. Karya ini telah menjadi perhatian berbagai kalangan di Eropa sejak diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Perancis, Inggris dan Jerman.

Baca juga: Petualangan Ibnu Batutah, dari Makkah hingga ke Kerajaan Islam Samudera Pasai

Buku itu disusun menjadi sebuah perjalanan dunia yang mengagumkan dengan mengaitkan berbagai peristiwa, waktu pengembaraan serta catatan-catatan penting yang berisi berita dan peristiwa yang dialami Ibnu Batutah selama pengembaraanya.

Dalam karyanya tersebut, Ibnu Batutah tidak mengumpulkan rujukan atau bahan-bahan dalam menunjang tulisannya hanya mengisahkan pengalaman atau sejarah empiris negara atau kota-kota yang pernah disinggahinya terutama yang menyangkut kultur setempat.

Pencapaian Ibnu Batutah yang luar biasa itu, konon dirampas dan disembunyikan Kerajaan Prancis saat menjajah benua Afrika, termasuk Maroko.

Baca juga: Ibnu Batutah ke Samudera Pasai Kagumi Sultan Mahmud Sholat Jumat Jalan Kaki
(mhy)
preload video