Misteri Nafs al-Wahidah Menurut Nasaruddin Umar
Minggu, 09 Oktober 2022 - 15:06 WIB
loading...
A
A
A
Kata nafs kadang-kadang berarti "jiwa" ( QS al-Ma'idah/5 :32), "nafsu" ( QS al-Fajr/89 :27), "nyawa/roh" ( QS al-'Ankabut/29 :57).
Kata al-nafs al-wahidah sebagai "asal-usul kejadian" terulang lima kali tetapi itu semua tidak mesti berarti Adam, karena pada ayat lain, seperti QS al-Syu'ra/42 :11, nafs itu juga menjadi asal-usul binatang. "(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dan jenis binatang ternak pasang-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Kalau dikatakan al-nafs al-wahidah ialah Adam, berarti Adam juga menjadi asal-usul kejadian hewan dan tumbuh-tumbuhan?
Nasaruddin Umar mengingatkan, perhatikan sekali lagi ayat ini menggunakan bentuk nakirah/indefinite "dari satu diri" (min nafsin), bukan dalam bentuk ma'rifah/definite (min al-nafs), berarti menunjukkan kekhususan (yufid al-takhshish) lalu diperkuat (ta'kid) dengan kata "yang satu" (wahidah) sebagai shifat dari min nafsin.
Semuanya ini menunjukkan kepada substansi utama (the first resource), yakni asal (unsur) kejadian Adam, bukan Adam-nya sendiri sebagai secondary resources.
Di samping itu, kata Nasaruddin Umar, seandainya yang dimaksud pada kata nafs ialah Adam, mengapa tidak digunakan kata wahidin dengan bentuk gender laki-laki (mudzakkar), tetapi yang digunakan kata wahidah dalam bentuk perempuan (mu'annats).
Walaupun kita tahu bahwa kata nafs masuk kategori mu'annats sebagaimana beberapa ism 'alam lainnya tetapi dalam al-Qur'an sering dijumpai shifat itu menyalahi bentuk mawshuf-nya kemudian merujuk ke hakekat yang di-shifat-i, jika yang di-shifat-i itu hendak ditekankan oleh Si Pembicara (Mukhathab).
Kata al-nafs al-wahidah dalam ayat itu boleh jadi suatu genus dan salah satu speciesnya ialah Adam dan pasangannya (pair/zawj-nya) ( QS al-A'raf/7 :189), sedangkan species lainnya ialah binatang dan pasangannya ( QS al-Syura/42 :11) serta tumbuh-tumbuhan dan pasangannya ( QS Thaha/20 :53).
Akhirnya, Nasaruddin Umar mengatakan surah al-Nisa' ayat 1 di atas agaknya kurang relevan dijadikan dasar dalam menerangkan asal-usul kejadian manusia secara biologis, karena dilihat dari konteks (munasabah), ayat itu berbicara tentang tanggung jawab para wali terhadap orang di bawah perwaliannya.
Baca juga: 5 Wasiat Nabi Adam kepada Putranya Nabi Syith
Ayat-Ayat Lain
Ada ayat-ayat lain lebih khusus berbicara tentang asal-usul kejadian, seperti asal-usul manusia dari "air"/al-ma' ( QS al-Furqan/25 :54), "air hina"/ma'in mahin ( QS al-Mursalat/77 :20), dan "air yang terpancar"/ma'in dafiq (QS al-Thariq/86:6), "darah"/'alaq (QS al-'Alaq/96:2), "saripati tanah"/sulalatin min thin (QS al-Mu'minun/23:12), "tanah liat yang kering"/shalshalin min hama'in mahan (QS al--Hijr/ 15:28), "tanah yang kering seperti tembikar"/shalshalin ka 'l-fakhkhar (QS al-Rahman/55:15), "dari tanah"/min thin (QS al-Sajdah/32:7), dan "diri yang satu" (nafs al-Wahidah (QS al-Nisa'/4: 1).
Akan tetapi asal-usul kejadian manusia masih perlu diteliti lebih lanjut, yang mana asal-usul dalam arti ciptaan awal (production) dan mana asal-usul dalam arti ciptaan lanjutan (reproduction).
Kata al-nafs al-wahidah sebagai "asal-usul kejadian" terulang lima kali tetapi itu semua tidak mesti berarti Adam, karena pada ayat lain, seperti QS al-Syu'ra/42 :11, nafs itu juga menjadi asal-usul binatang. "(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dan jenis binatang ternak pasang-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Kalau dikatakan al-nafs al-wahidah ialah Adam, berarti Adam juga menjadi asal-usul kejadian hewan dan tumbuh-tumbuhan?
Nasaruddin Umar mengingatkan, perhatikan sekali lagi ayat ini menggunakan bentuk nakirah/indefinite "dari satu diri" (min nafsin), bukan dalam bentuk ma'rifah/definite (min al-nafs), berarti menunjukkan kekhususan (yufid al-takhshish) lalu diperkuat (ta'kid) dengan kata "yang satu" (wahidah) sebagai shifat dari min nafsin.
Semuanya ini menunjukkan kepada substansi utama (the first resource), yakni asal (unsur) kejadian Adam, bukan Adam-nya sendiri sebagai secondary resources.
Di samping itu, kata Nasaruddin Umar, seandainya yang dimaksud pada kata nafs ialah Adam, mengapa tidak digunakan kata wahidin dengan bentuk gender laki-laki (mudzakkar), tetapi yang digunakan kata wahidah dalam bentuk perempuan (mu'annats).
Walaupun kita tahu bahwa kata nafs masuk kategori mu'annats sebagaimana beberapa ism 'alam lainnya tetapi dalam al-Qur'an sering dijumpai shifat itu menyalahi bentuk mawshuf-nya kemudian merujuk ke hakekat yang di-shifat-i, jika yang di-shifat-i itu hendak ditekankan oleh Si Pembicara (Mukhathab).
Kata al-nafs al-wahidah dalam ayat itu boleh jadi suatu genus dan salah satu speciesnya ialah Adam dan pasangannya (pair/zawj-nya) ( QS al-A'raf/7 :189), sedangkan species lainnya ialah binatang dan pasangannya ( QS al-Syura/42 :11) serta tumbuh-tumbuhan dan pasangannya ( QS Thaha/20 :53).
Akhirnya, Nasaruddin Umar mengatakan surah al-Nisa' ayat 1 di atas agaknya kurang relevan dijadikan dasar dalam menerangkan asal-usul kejadian manusia secara biologis, karena dilihat dari konteks (munasabah), ayat itu berbicara tentang tanggung jawab para wali terhadap orang di bawah perwaliannya.
Baca juga: 5 Wasiat Nabi Adam kepada Putranya Nabi Syith
Ayat-Ayat Lain
Ada ayat-ayat lain lebih khusus berbicara tentang asal-usul kejadian, seperti asal-usul manusia dari "air"/al-ma' ( QS al-Furqan/25 :54), "air hina"/ma'in mahin ( QS al-Mursalat/77 :20), dan "air yang terpancar"/ma'in dafiq (QS al-Thariq/86:6), "darah"/'alaq (QS al-'Alaq/96:2), "saripati tanah"/sulalatin min thin (QS al-Mu'minun/23:12), "tanah liat yang kering"/shalshalin min hama'in mahan (QS al--Hijr/ 15:28), "tanah yang kering seperti tembikar"/shalshalin ka 'l-fakhkhar (QS al-Rahman/55:15), "dari tanah"/min thin (QS al-Sajdah/32:7), dan "diri yang satu" (nafs al-Wahidah (QS al-Nisa'/4: 1).
Akan tetapi asal-usul kejadian manusia masih perlu diteliti lebih lanjut, yang mana asal-usul dalam arti ciptaan awal (production) dan mana asal-usul dalam arti ciptaan lanjutan (reproduction).
Lihat Juga :