Muhammad SAW Sang Mutiara, Bersholawatlah Kepadanya dan Keluarganya!
Rabu, 12 Oktober 2022 - 14:26 WIB
loading...
Imam Shamsi Ali, Direktur Jamaica Muslim Center yang juga Presiden Nusantara Foundation. Foto/Istimewa
A
A
A
Imam Shamsi Ali
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Hari-hari ini umat Islam di seluruh penjuru dunia mengingat kelahiran Muhammad, Rasulullah SAW (shollallohu 'alaihi wasallam). Terlepas setuju atau tidak dengan berbagai cara atau acara untuk mengingat kelahiran itu, umat semuanya tanpa kecuali pastinya sepakat untuk selalu memperbaharui dan memperkuat keimanan dan kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW.
Sehingga sesungguhnya perbedaan pendapat dan sikap itu tidak perlu menjadikan umat ini terpecah dan saling bermusuhan karenanya. Masing-masing punya hak berpendapat dan mengambil sikap sesuai keyakinan masing-masing. Toh, sekali lagi, semuanya memilki iman dan cinta kepada baginda Rasul sebagai "common ground".
Terlepas dari perdebatan tentang Maulid atau kelahiran Rasulullah SAW mungkin ada baiknya kita sekali melihat siapa dan bagaimana harusnya kita menempatkan Rasulullah SAW. Sebab seringkali terjadi sikap eksejerasi (berlebihan) akibat tendensi ekstrem dalam melihat Rasulullah SAW. Ekstrem dalam melihat Rasul ini menjadikan sebagian lepas pegangan keagamaan dan cenderung mengikuti emosi atau sentimen semata.
Al-Qur'an sendiri memberikan beberapa defenisi atau karakteristik tentang Rasul. Baik dari aspek akhlak yang sangat dipuji (wa innaka la'alaa khuluqin 'azhim) hingga ke aspek kejiwaan yang begitu kasih dan sayang kepada seluruh manusia (rahmatan lil-alamin). Bahkan Al-Qur'an juga menyebut beliau sebagai sosok yang sangat tegas kepada kekufuran (asyiddaa alal kuffaar). Namun sangat lemah lembut kepada sesama (rauufun rahim).
Kali ini saya akan mengutip satu ayat yang mendefenisikan Rasulullah dengan sangat unik. Ayat itu ada dalam Surah Al-Kahf Ayat 110 yang berbunyi: "Katakan (wahai Muhammad) kalau saya adalah manusia seperti kalian diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kalian adakah Tuhan yang Satu".
Ayat ini sangat dalam dan luas untuk dirincikan. Tapi secara global ada dua sisi penting dari Rasulullah yang diekspos. Pertama, bahwa Muhammad itu manusia seperti manusia lainnya. Kedua, bahwa Muhammad itu mendapatkan wahyu tentang Tuhan yang Maha Tunggal.
Sebagai "Basyar dengan penekanan "mitslukum" atau seperti manusia lain bermakna bahwa Muhammad itu juga memiliki semua karakteristik atau sifat dasar manusia lainnya. Beliau makan, minum, tidur, lelah, marah (walau marahnya untuk kebaikan), bahkan sedih dan menangis (ketika putranya meninggal). Rasulullah juga punya hasrat hawa nafsu atau syahwat dan karenanya melakukan pernikahan.
Realita ini yang kemudian menjadikan orang-orang kafir Quraish mempertanyakan, kenapa bukan Malaikat yang diutus kepada mereka? Bahkan mempertanyakan sosok Muhammad sebagai orang biasa. Bukan seorang raja atau seseorang yang kaya raya.
Sungguh Allah Maha Bijaksana ketika mengutus Rasul-Nya dari kalangan manusia biasa. Karena dengan itu sang Rasul akan menjalani kehidupan sebagaimana manusia lainnya. Beliau menikah dan membangun keluarga misalnya untuk menjadi contoh bagi manusia untuk melakukan hal yang sama.
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Hari-hari ini umat Islam di seluruh penjuru dunia mengingat kelahiran Muhammad, Rasulullah SAW (shollallohu 'alaihi wasallam). Terlepas setuju atau tidak dengan berbagai cara atau acara untuk mengingat kelahiran itu, umat semuanya tanpa kecuali pastinya sepakat untuk selalu memperbaharui dan memperkuat keimanan dan kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW.
Sehingga sesungguhnya perbedaan pendapat dan sikap itu tidak perlu menjadikan umat ini terpecah dan saling bermusuhan karenanya. Masing-masing punya hak berpendapat dan mengambil sikap sesuai keyakinan masing-masing. Toh, sekali lagi, semuanya memilki iman dan cinta kepada baginda Rasul sebagai "common ground".
Terlepas dari perdebatan tentang Maulid atau kelahiran Rasulullah SAW mungkin ada baiknya kita sekali melihat siapa dan bagaimana harusnya kita menempatkan Rasulullah SAW. Sebab seringkali terjadi sikap eksejerasi (berlebihan) akibat tendensi ekstrem dalam melihat Rasulullah SAW. Ekstrem dalam melihat Rasul ini menjadikan sebagian lepas pegangan keagamaan dan cenderung mengikuti emosi atau sentimen semata.
Al-Qur'an sendiri memberikan beberapa defenisi atau karakteristik tentang Rasul. Baik dari aspek akhlak yang sangat dipuji (wa innaka la'alaa khuluqin 'azhim) hingga ke aspek kejiwaan yang begitu kasih dan sayang kepada seluruh manusia (rahmatan lil-alamin). Bahkan Al-Qur'an juga menyebut beliau sebagai sosok yang sangat tegas kepada kekufuran (asyiddaa alal kuffaar). Namun sangat lemah lembut kepada sesama (rauufun rahim).
Kali ini saya akan mengutip satu ayat yang mendefenisikan Rasulullah dengan sangat unik. Ayat itu ada dalam Surah Al-Kahf Ayat 110 yang berbunyi: "Katakan (wahai Muhammad) kalau saya adalah manusia seperti kalian diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kalian adakah Tuhan yang Satu".
Ayat ini sangat dalam dan luas untuk dirincikan. Tapi secara global ada dua sisi penting dari Rasulullah yang diekspos. Pertama, bahwa Muhammad itu manusia seperti manusia lainnya. Kedua, bahwa Muhammad itu mendapatkan wahyu tentang Tuhan yang Maha Tunggal.
Sebagai "Basyar dengan penekanan "mitslukum" atau seperti manusia lain bermakna bahwa Muhammad itu juga memiliki semua karakteristik atau sifat dasar manusia lainnya. Beliau makan, minum, tidur, lelah, marah (walau marahnya untuk kebaikan), bahkan sedih dan menangis (ketika putranya meninggal). Rasulullah juga punya hasrat hawa nafsu atau syahwat dan karenanya melakukan pernikahan.
Realita ini yang kemudian menjadikan orang-orang kafir Quraish mempertanyakan, kenapa bukan Malaikat yang diutus kepada mereka? Bahkan mempertanyakan sosok Muhammad sebagai orang biasa. Bukan seorang raja atau seseorang yang kaya raya.
Sungguh Allah Maha Bijaksana ketika mengutus Rasul-Nya dari kalangan manusia biasa. Karena dengan itu sang Rasul akan menjalani kehidupan sebagaimana manusia lainnya. Beliau menikah dan membangun keluarga misalnya untuk menjadi contoh bagi manusia untuk melakukan hal yang sama.
Lihat Juga :