Meninggalkan Maksiat Adalah Jalan Menuju Ma'rifatullah
Senin, 06 Juli 2020 - 06:10 WIB
loading...
A
A
A
يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَا جِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَا بِيْبِهِنَّ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰۤى اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 59)
Tidak menutup aurat juga menjadi salah satu sumber perzinahan. Al-Hafidz Ibn al-Jauzi, mengatakan bahwa andai saja orang yang melakukan maksiat menyadari, betapa kenikmatan maksiat itu hanya sesaat, kemudian setelah itu dia merasakan akibat kemaksiatannya, yaitu kemurkaan Allah, dosa dan siksa-Nya, maka orang itu tidak akan sanggup melakukan maksiat.(Baca juga : Pola Makanan Sehat Menurut Al-Qur’an dan Hadis (2) )
Yang ironi, ada orang yang melakukan maksiat, berzina dan berzina, mencuri dan mencuri, makan riba dan makan riba, anehnya tetap merasa tidak ada masalah. Baginya, kemaksiatannya itu tidak ada dampaknya secara nyata dalam hidupnya. Dia pun enjoy menikmati hidup bergelimang maksiat. Apa yang sesungguhnya terjadi pada orang seperti ini?
Ibn al-Jauzi memberikan jawaban, “Kemaksiatan itu diganjar dengan kemaksiatan.” maksudnya, ketika orang melakukan satu maksiat, lalu diikuti maksiat berikutnya, maka kemaksiatan berikutnya itu sesungguhnya adalah siksa Allah, tetapi dia tidak merasa, bahwa dia sedang disiksa oleh Allah. Sebaliknya, “Kebaikan setelah kebaikan adalah pahala bagi kebaikan itu.”
Orang yang melakukan maksiat, terkadang tidak merasa dirinya melakukan maksiat. Padahal, dampak maksiatnya itu membuat hatinya tidak lagi merasakan nikmatnya ketaatan. Dia salat dan berdoa pun tidak bisa khusyu’. Salat dan doanya pun kehilangan ruhnya, akibatnya salat dan berdoa, tetapi tidak ada pengaruhnya.
Maksiat juga bisa melemahkan indahnya taat kepada Allah Ta'ala. Jika kita sudah mulai dihinggapi tanda-tanda tadi, maka waspadalah. Segeralah kembali, sebelum jauh meninggalkan jalan Allah Ta'ala. Maksiat akan mengantarkan manusia ke neraka. Sedangkan amal yang baik akan mengantarkan ke surga. Karena itu, agar jauh dari maksiat maka muslimah harus memperbaiki amalnya. Tingkatkan ahsanul amal atau amal atau perbuatan yang baik.
Makanya, segera tinggalkan semua hal yang bisa mendatangkan dosa. Meninggalkan maksiat akan bisa membahagiakan hati, melapangkan dada, dan membersihkan jiwa. Orang yang meninggalkan dosa, dadanya akan lapang dan hatinya bahagia. Orang yang benci pada maksiat juga akan mendapatkan jalan keluar dalam setiap permasalahan dimana permasalahan inilah yang menyesakkan hati orang-orang fasik dan pelaku maksiat. (Baca juga : Pola Makanan Sehat Menurut Al-Qur’an dan Hadis (1) )
Meninggalkan maksiat juga menyebabkan dimudahkan dalam melaksanakan ketaatan Lalu akan merasakan manisnya iman dan manisnya ketaatan kepada Allah. Bersyukurlah bagi seorang hamba yang di berikan taufiq oleh Allah untuk benar-benar dapat mengenal agama ini, tidak ada kenikmatan yang lebih indah dari pada seorang yang telah dapat merasakan manisnya iman, lezatnya melaksanakan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.
Manfaat lain meninggalkan maksiat adalah mudah memperoleh rizki melalui jalan yang tidak disangka-sangka, doanya cepat dikabulkan, diberi kemudahan dalam memperoleh ilmu, dan akan mudah meraih cinta Allah Azza wa Jalla. Seorang ulama mengatakan: “Sesungguhnya di dunia ini terdapat surga, barang siapa yang tidak memasukinya maka ia tidak akan masuk surga akhirat”. Dikatakan bahwa surga tersebut adalah ma’rifatullah (mengenal Allah dengan sebaik-baiknya). Dan meninggalkan maksiat adalah salah satu jalan menuju ma'rifatullah.
Wallahu A'lam
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 59)
Tidak menutup aurat juga menjadi salah satu sumber perzinahan. Al-Hafidz Ibn al-Jauzi, mengatakan bahwa andai saja orang yang melakukan maksiat menyadari, betapa kenikmatan maksiat itu hanya sesaat, kemudian setelah itu dia merasakan akibat kemaksiatannya, yaitu kemurkaan Allah, dosa dan siksa-Nya, maka orang itu tidak akan sanggup melakukan maksiat.(Baca juga : Pola Makanan Sehat Menurut Al-Qur’an dan Hadis (2) )
Yang ironi, ada orang yang melakukan maksiat, berzina dan berzina, mencuri dan mencuri, makan riba dan makan riba, anehnya tetap merasa tidak ada masalah. Baginya, kemaksiatannya itu tidak ada dampaknya secara nyata dalam hidupnya. Dia pun enjoy menikmati hidup bergelimang maksiat. Apa yang sesungguhnya terjadi pada orang seperti ini?
Ibn al-Jauzi memberikan jawaban, “Kemaksiatan itu diganjar dengan kemaksiatan.” maksudnya, ketika orang melakukan satu maksiat, lalu diikuti maksiat berikutnya, maka kemaksiatan berikutnya itu sesungguhnya adalah siksa Allah, tetapi dia tidak merasa, bahwa dia sedang disiksa oleh Allah. Sebaliknya, “Kebaikan setelah kebaikan adalah pahala bagi kebaikan itu.”
Orang yang melakukan maksiat, terkadang tidak merasa dirinya melakukan maksiat. Padahal, dampak maksiatnya itu membuat hatinya tidak lagi merasakan nikmatnya ketaatan. Dia salat dan berdoa pun tidak bisa khusyu’. Salat dan doanya pun kehilangan ruhnya, akibatnya salat dan berdoa, tetapi tidak ada pengaruhnya.
Maksiat juga bisa melemahkan indahnya taat kepada Allah Ta'ala. Jika kita sudah mulai dihinggapi tanda-tanda tadi, maka waspadalah. Segeralah kembali, sebelum jauh meninggalkan jalan Allah Ta'ala. Maksiat akan mengantarkan manusia ke neraka. Sedangkan amal yang baik akan mengantarkan ke surga. Karena itu, agar jauh dari maksiat maka muslimah harus memperbaiki amalnya. Tingkatkan ahsanul amal atau amal atau perbuatan yang baik.
Makanya, segera tinggalkan semua hal yang bisa mendatangkan dosa. Meninggalkan maksiat akan bisa membahagiakan hati, melapangkan dada, dan membersihkan jiwa. Orang yang meninggalkan dosa, dadanya akan lapang dan hatinya bahagia. Orang yang benci pada maksiat juga akan mendapatkan jalan keluar dalam setiap permasalahan dimana permasalahan inilah yang menyesakkan hati orang-orang fasik dan pelaku maksiat. (Baca juga : Pola Makanan Sehat Menurut Al-Qur’an dan Hadis (1) )
Meninggalkan maksiat juga menyebabkan dimudahkan dalam melaksanakan ketaatan Lalu akan merasakan manisnya iman dan manisnya ketaatan kepada Allah. Bersyukurlah bagi seorang hamba yang di berikan taufiq oleh Allah untuk benar-benar dapat mengenal agama ini, tidak ada kenikmatan yang lebih indah dari pada seorang yang telah dapat merasakan manisnya iman, lezatnya melaksanakan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.
Manfaat lain meninggalkan maksiat adalah mudah memperoleh rizki melalui jalan yang tidak disangka-sangka, doanya cepat dikabulkan, diberi kemudahan dalam memperoleh ilmu, dan akan mudah meraih cinta Allah Azza wa Jalla. Seorang ulama mengatakan: “Sesungguhnya di dunia ini terdapat surga, barang siapa yang tidak memasukinya maka ia tidak akan masuk surga akhirat”. Dikatakan bahwa surga tersebut adalah ma’rifatullah (mengenal Allah dengan sebaik-baiknya). Dan meninggalkan maksiat adalah salah satu jalan menuju ma'rifatullah.
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :