Begini Bahaya Mengonsumsi Barang Haram, Rugi Dunia Akhirat
Kamis, 20 Oktober 2022 - 18:07 WIB
loading...
Rezeki dan makanan yang halal adalah bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk beramal saleh. Foto/Ilustrasi: Freepik
A
A
A
Bahaya mengonsumsi makanan haram dan dampak dari pekerjaan yang tidak halal sangat mempengaruhi doa, kesehatan, dan amalan kebaikan. Lebih jauh lagi, di akhirat kelak dari daging yang berasal dari yang haram itu tidak akan bisa masuk surga.
Itu sebabnya setiap muslim hendaknya berdoa:
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allahummak-finaa bi halaalika ‘an haroomika, wa agh-ninaa bi fadh-lika ‘amman siwaak
“Ya Allah, limpahkanlah kecukupan kepada kami dengan rizqi-Mu yang halal dari memakan harta yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah kami dengan kemurahan-Mu dari mengharapkan uluran tangan selain-Mu.” (HR Tirmidzi no. 3563 dan Ahmad 1: 153. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Baca juga: 5 Bahaya Akibat Memakan Makanan yang Haram
Rezeki dan makanan yang halal adalah bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk beramal saleh. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( QS. Al Mu’minun : 51).
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim menjelaskan bahwa Sa’id bin Jubair dan Adh Dhahak mengatakan yang dimaksud makanan yang thoyyib adalah makanan yang halal.
Allah Ta’ala pada ayat ini memerintahkan para rasul untuk memakan makanan yang halal dan beramal saleh. Penyandingan dua perintah ini adalah isyarat bahwa makanan halal adalah pembangkit amal saleh.
Oleh karena itu, para Nabi benar-benar memperhatikan bagaimana memperoleh yang halal. Para Nabi mencontohkan pada kita kebaikan dengan perkataan, amalan, teladan dan nasihat.
Nabi SAW bersabda,
Itu sebabnya setiap muslim hendaknya berdoa:
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allahummak-finaa bi halaalika ‘an haroomika, wa agh-ninaa bi fadh-lika ‘amman siwaak
“Ya Allah, limpahkanlah kecukupan kepada kami dengan rizqi-Mu yang halal dari memakan harta yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah kami dengan kemurahan-Mu dari mengharapkan uluran tangan selain-Mu.” (HR Tirmidzi no. 3563 dan Ahmad 1: 153. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Baca juga: 5 Bahaya Akibat Memakan Makanan yang Haram
Rezeki dan makanan yang halal adalah bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk beramal saleh. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( QS. Al Mu’minun : 51).
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim menjelaskan bahwa Sa’id bin Jubair dan Adh Dhahak mengatakan yang dimaksud makanan yang thoyyib adalah makanan yang halal.
Allah Ta’ala pada ayat ini memerintahkan para rasul untuk memakan makanan yang halal dan beramal saleh. Penyandingan dua perintah ini adalah isyarat bahwa makanan halal adalah pembangkit amal saleh.
Oleh karena itu, para Nabi benar-benar memperhatikan bagaimana memperoleh yang halal. Para Nabi mencontohkan pada kita kebaikan dengan perkataan, amalan, teladan dan nasihat.
Nabi SAW bersabda,
Lihat Juga :