Kisah Muhammad Iqbal Menjawab Jawaharlal Nehru Terkait Khatamul-Anbiya dan Ahmadiyah
Rabu, 26 Oktober 2022 - 13:55 WIB
loading...
Pandit Jawaharlal Nehru dan Sir Muhammad Iqbal. Foto/Ilustrasi: Ist/mhy
A
A
A
Kelompok Qadiani yang mempercayai pendiri gerakan Ahmadiyah sebagai penerima wahyu semacam Nabi Muhammad SAW , berarti mereka menyatakan bahwa seluruh dunia Islam adalah kafir .
Demikian potongan jawaban filsuf besar abad ke-20, Sir Muhammad Iqbal (1877 – 1938) menjawab pertanyaan tokoh kemerdekaan India Pandit Jawaharlal Nehru (1889 – 1964) mengenai Ahmadiyah dan pengertian nabi penutup atau Khatamul-Anbiya'.
Jawaban Iqbal ini dihimpun dalam buku berjudul "Islam and Ahmadism" yang diterjemahkan Machnun Husein menjadi "Islam dan Ahmadiyah" (PT Bumi Aksara, 1991).
Baca juga: Pandangan Islam Terhadap Syiah dan Ahmadiyah
Iqbal mengatakan makna nilai kultural dari gagasan tentang nabi penutup dalam Islam tidak ada penyerahan diri secara spritual kepada siapapun setelah Muhammad yang membebaskan para pengikutnya dengan memberikan kepada mereka aturan hukum yang praktis karena timbul dari dalam hati nurani manusia.
"Secara teologik, ajaran itu adalah bahwa organisasi sosio-politik yang disebut Islam itu sempurna dan abadi. Tidak ada wahyu apapun yang pengingkaran terhadapnya mengakibatkan penyimpangan atau bid'ah sesudah Muhammad," ujarnya.
Menurut Muhammad Iqbal, orang yang mengakui mendapatkan wahyu seperti itu adalah orang yang tidak patuh kepada Islam. "Karena kelompok Qadiani mempercayai pendiri gerakan Ahmadiyyah sebagai penerima wahyu semacam itu, berarti mereka menyatakan bahwa seluruh dunia Islam adalah kafir," ujarnya
Argumen dan pendiri gerakan itu sendiri, yang mirip sekali dengan argumen ahli Ilmu Kalam Abad Pertengahan, adalah bahwa spiritualitas Nabi Besar Islam itu dianggap tidak sempurna bila ia tidak disempurnakan oleh Nabi lain. Dia menyatakan kenabiannya sendiri sebagai bukti atas kekuatan spiritualitas Nabi Besar Islam itu untuk mengangkat nabi [lain].
"Tetapi bila anda bertanya lebih jauh kepadanya apakah spiritualitas Muhammad mampu mengangkat lebih dari seorang nabi, jawabannya adalah 'Tidak'. Ini jelas sama dengan ucapan: 'Muhammad bukan nabi terakhir; tetapi sayalah yang terakhir'."
Menurut Iqbal, karena kurang sekali memahami nilai kultural gagasan Islam tentang penutup nabi-nabi dalam sejarah umat manusia pada umumnya dan umat manusia di Asia pada khususnya, dia menganggap penutup nabi-nabi, dalam pengertian bahwa tidak ada seorang pengikut Muhammad pun dapat mencapai kedudukan nabi, merupakan tanda ketidaksempurnaan dalam kenabian Muhammad itu.
Baca juga: Dendam Perempuan, Nabi Palsu dari Banu Tamim
Demikian potongan jawaban filsuf besar abad ke-20, Sir Muhammad Iqbal (1877 – 1938) menjawab pertanyaan tokoh kemerdekaan India Pandit Jawaharlal Nehru (1889 – 1964) mengenai Ahmadiyah dan pengertian nabi penutup atau Khatamul-Anbiya'.
Jawaban Iqbal ini dihimpun dalam buku berjudul "Islam and Ahmadism" yang diterjemahkan Machnun Husein menjadi "Islam dan Ahmadiyah" (PT Bumi Aksara, 1991).
Baca juga: Pandangan Islam Terhadap Syiah dan Ahmadiyah
Iqbal mengatakan makna nilai kultural dari gagasan tentang nabi penutup dalam Islam tidak ada penyerahan diri secara spritual kepada siapapun setelah Muhammad yang membebaskan para pengikutnya dengan memberikan kepada mereka aturan hukum yang praktis karena timbul dari dalam hati nurani manusia.
"Secara teologik, ajaran itu adalah bahwa organisasi sosio-politik yang disebut Islam itu sempurna dan abadi. Tidak ada wahyu apapun yang pengingkaran terhadapnya mengakibatkan penyimpangan atau bid'ah sesudah Muhammad," ujarnya.
Menurut Muhammad Iqbal, orang yang mengakui mendapatkan wahyu seperti itu adalah orang yang tidak patuh kepada Islam. "Karena kelompok Qadiani mempercayai pendiri gerakan Ahmadiyyah sebagai penerima wahyu semacam itu, berarti mereka menyatakan bahwa seluruh dunia Islam adalah kafir," ujarnya
Argumen dan pendiri gerakan itu sendiri, yang mirip sekali dengan argumen ahli Ilmu Kalam Abad Pertengahan, adalah bahwa spiritualitas Nabi Besar Islam itu dianggap tidak sempurna bila ia tidak disempurnakan oleh Nabi lain. Dia menyatakan kenabiannya sendiri sebagai bukti atas kekuatan spiritualitas Nabi Besar Islam itu untuk mengangkat nabi [lain].
"Tetapi bila anda bertanya lebih jauh kepadanya apakah spiritualitas Muhammad mampu mengangkat lebih dari seorang nabi, jawabannya adalah 'Tidak'. Ini jelas sama dengan ucapan: 'Muhammad bukan nabi terakhir; tetapi sayalah yang terakhir'."
Menurut Iqbal, karena kurang sekali memahami nilai kultural gagasan Islam tentang penutup nabi-nabi dalam sejarah umat manusia pada umumnya dan umat manusia di Asia pada khususnya, dia menganggap penutup nabi-nabi, dalam pengertian bahwa tidak ada seorang pengikut Muhammad pun dapat mencapai kedudukan nabi, merupakan tanda ketidaksempurnaan dalam kenabian Muhammad itu.
Baca juga: Dendam Perempuan, Nabi Palsu dari Banu Tamim
Lihat Juga :