Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Kamis, 03 November 2022 - 12:19 WIB
loading...
A
A
A
Kakbah sebagai titik tetap dan kiblat (arah semua orang sholat) mengisyaratkan pelabuhan pelambang agama internasional yang mengetahui dengan yakin bahwa Allah tidak di timur atau di barat, namun Dia melampaui ikatan-ikatan zaman dan tempat.
Dibandingkan dengan bangunan "rumah Allah" ini, semua Katedral yang dibangun dalam bentuk Quthi, dan semua gereja yang dibangun dengan model Paroki mengerdil menjadi perhiasan kecil dan hina.
Baca juga: Jadi Mualaf, Clarence Seedorf: Saya Tidak Mengubah Nama
Setelah aku tawaf tujuh putaran seputar Kakbah, di bawah atap langit yang berhiasan bintang --adakah agama lain yang mencapai kesederhanaan seperti ini hingga pelaksanaan ibadahnya di tempat yang terbuka?-- aku berhenti di Hajar Aswad, yang diletakkan di tempatnya oleh Muhammad SAW. Di sana orang antre mencium dan menyentuhnya.
Tradisi ini bisa menimbulkan banyak risiko bagi Islam, bagi mereka yang tidak merenungkan sama sekali bahwa penciuman bekas telapak kaki Petrus yang tidak jelas oleh peziarah Kristen di Roma menyebabkan sesuatu yang berlebihan sehingga mereka menyembah sepotong benda keras.
Tidak ada seorang pun yang berprasangka seperti itu ketika melihat jemaah haji di Mekkah --meskipun sebelumnya berkembang penyembahan patung yang terbuat dari batu di negeri-negeri Arab pada masa pra-Islam. Meskipun pelambang-pelambang bisa dibebaskan dari pemikiran-pemikiran yang tersembunyi di belakangnya, namun itu tidak harus dilakukan. Karena setiap takbir, "Allahu Akbar" --sebagaimana diterjemahkan oleh Laurence Arab, "Allah-lah satu-satunya Yang Besar"-- adalah petunjuk kuat yang menghapus prasangka menyembah Hajar Aswad yang sederhana.
Tentang Murad Wilfred Hoffman
Nama sebelum ia masuk Islam adalah Wilfred Hoffman. Begitu memeluk Islam, namanya ditambah menjadi Murad Wilfred Hoffman atau lebih populer dengan Murad Hoffman.
Dia terlahir pada 6 Juli 1931, dari sebuah keluarga Katholik, di Jerman. Pendidikan Universitasnya dilalui di Union College, New York. Dia Doktor dalam bidang Undang-Undang Jerman, juga magister dari Universitas Harvard dalam bidang Undang-Undang Amerika.
Baca juga: Catatan Seorang Mualaf Jerman: Masyarakat Alkohol, Nikotin, dan Daging Babi
Ia bekerja di kementerian luar negeri Jerman, semenjak tahun 1961 hingga tahun 1994. Ia terutama bertugas dalam masalah pertahanan nuklir. Murad pernah menjadi direktur penerangan NATO di Brussel, Duta Besar Jerman di Aljazair dan terakhir Duta Besar Jerman di Maroko, hingga tahun 1994.
Dibandingkan dengan bangunan "rumah Allah" ini, semua Katedral yang dibangun dalam bentuk Quthi, dan semua gereja yang dibangun dengan model Paroki mengerdil menjadi perhiasan kecil dan hina.
Baca juga: Jadi Mualaf, Clarence Seedorf: Saya Tidak Mengubah Nama
Setelah aku tawaf tujuh putaran seputar Kakbah, di bawah atap langit yang berhiasan bintang --adakah agama lain yang mencapai kesederhanaan seperti ini hingga pelaksanaan ibadahnya di tempat yang terbuka?-- aku berhenti di Hajar Aswad, yang diletakkan di tempatnya oleh Muhammad SAW. Di sana orang antre mencium dan menyentuhnya.
Tradisi ini bisa menimbulkan banyak risiko bagi Islam, bagi mereka yang tidak merenungkan sama sekali bahwa penciuman bekas telapak kaki Petrus yang tidak jelas oleh peziarah Kristen di Roma menyebabkan sesuatu yang berlebihan sehingga mereka menyembah sepotong benda keras.
Tidak ada seorang pun yang berprasangka seperti itu ketika melihat jemaah haji di Mekkah --meskipun sebelumnya berkembang penyembahan patung yang terbuat dari batu di negeri-negeri Arab pada masa pra-Islam. Meskipun pelambang-pelambang bisa dibebaskan dari pemikiran-pemikiran yang tersembunyi di belakangnya, namun itu tidak harus dilakukan. Karena setiap takbir, "Allahu Akbar" --sebagaimana diterjemahkan oleh Laurence Arab, "Allah-lah satu-satunya Yang Besar"-- adalah petunjuk kuat yang menghapus prasangka menyembah Hajar Aswad yang sederhana.
Tentang Murad Wilfred Hoffman
Nama sebelum ia masuk Islam adalah Wilfred Hoffman. Begitu memeluk Islam, namanya ditambah menjadi Murad Wilfred Hoffman atau lebih populer dengan Murad Hoffman.
Dia terlahir pada 6 Juli 1931, dari sebuah keluarga Katholik, di Jerman. Pendidikan Universitasnya dilalui di Union College, New York. Dia Doktor dalam bidang Undang-Undang Jerman, juga magister dari Universitas Harvard dalam bidang Undang-Undang Amerika.
Baca juga: Catatan Seorang Mualaf Jerman: Masyarakat Alkohol, Nikotin, dan Daging Babi
Ia bekerja di kementerian luar negeri Jerman, semenjak tahun 1961 hingga tahun 1994. Ia terutama bertugas dalam masalah pertahanan nuklir. Murad pernah menjadi direktur penerangan NATO di Brussel, Duta Besar Jerman di Aljazair dan terakhir Duta Besar Jerman di Maroko, hingga tahun 1994.
Lihat Juga :