Kisah Mualaf Jerman Wilfred Hoffman di Tanah Suci, Kembali ke Ibrahim
Rabu, 09 November 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Di Sisi Makam Nabi
Pada 23 Desember 1982, Murad Wilfred Hoffman ke Madinah. Dalam hal ini dia menyempatkan diri ke makam Nabi Muhammad SAW. Berikut catatan harian Hoffman saat di Madinah tersebut.
Barangsiapa yang pernah menyaksikan perayaan Maulid Nabi SAW perayaannya amat bersemangat di malam hari, di masjid-masjid yang diterangi lampu, di dalam dan di luarnya, ditambah lagi dengan ritus-ritus yang menyerupai ritus kependetaan. Maka, ia akan menyaksikan dengan terhenyak tindakan para polisi agama Arab Saudi di Madinah, pada malam maulid itu yang terus mengontrol untuk memastikan tidak ada seorang pun yang melaksanakan sholat menghadap makam Nabi.
Kewaspadaan mereka ditunjukkan dengan melarang orang sholat pada hari maulidnya dekat kuburnya, selain sholat-sholat sunnah.
Orang tidak perlu mengkritik perlakuan ini, jika ia mengetahui bahwa apa yang terjadi setelah wafatnya Almasih adalah dimulai dengan ketakjuban padanya diikuti dengan menuhankannya.
Islam berusaha menekan kecenderungan semacam ini, sebelum tersebar.
Baca juga: Catatan Seorang Mualaf Jerman: Masyarakat Alkohol, Nikotin, dan Daging Babi
Selanjutnya pada 26 Desember 1982, Hoffaman membuat catatan lagi sebagai berikut:
Kami terlambat beberapa menit untuk keluar dari masjid setelah sholat. Tampak ada sesuatu yang menghambat di pintu utama. Persis di tengah-tengah pintu, ada seorang muslim sedang tenggelam total dalam sholatnya. Mungkin dia datang terlambat sebelum rakaat terakhir, dan sekarang dia sedang menyempurnakan rakaatnya. Dia tampak tenggelam dalam sholatnya sampai-sampai melupakan semua yang ada di sekelilingnya.
Semua jamaah menjauhi daerah sholatnya, khawatir mengganggu kekhusyuan sholatnya. Tidak seorang pun yang mengkritik keterlambatannya yang menyebabkan pemandangan ini. Ini karena si muslim sedang menunaikan kewajiban agamanya. Tidak lebih dari itu.
Pemandangan semacam ini tidak mungkin terjadi ketika para penziarah Kristen menyesaki Gereja St. Petrus di Roma. Perbedaan ini disebabkan karena ritus-ritus keagamaan Kristen hanya mengenal misa suci yang dipimpin oleh seorang pendeta sebagai simbol agama resmi. Islam tidak mengenal hal semacam itu. Yang ada hanya satu kewajiban (sholat) yang mesti ditunaikan oleh semua umat Islam. Adapun kepemimpinan imam dalam sholat hanyalah untuk menunaikan tepat pada waktunya.
Sholat mendapat tempat dan kedudukan yang tinggi dalam Islam, sampai-sampai pasal-pasal tentang sholat memenuhi kitab-kitab fikih. Seperti, kitab monumental karya Muhyiddin Abu Zakariya al-Anshari, yaitu Minhaj ath-Thalibin, yang dirilis pada abad ke-13. Di antara kitab yang paling mengagumkan adalah al-Muwattha' karya Imam Malik bin Anas yang mengkhususkan 14 bab awalnya hanya untuk menerangkan syarat-syarat dan kaidah-kaidah sholat.
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Pada 23 Desember 1982, Murad Wilfred Hoffman ke Madinah. Dalam hal ini dia menyempatkan diri ke makam Nabi Muhammad SAW. Berikut catatan harian Hoffman saat di Madinah tersebut.
Barangsiapa yang pernah menyaksikan perayaan Maulid Nabi SAW perayaannya amat bersemangat di malam hari, di masjid-masjid yang diterangi lampu, di dalam dan di luarnya, ditambah lagi dengan ritus-ritus yang menyerupai ritus kependetaan. Maka, ia akan menyaksikan dengan terhenyak tindakan para polisi agama Arab Saudi di Madinah, pada malam maulid itu yang terus mengontrol untuk memastikan tidak ada seorang pun yang melaksanakan sholat menghadap makam Nabi.
Kewaspadaan mereka ditunjukkan dengan melarang orang sholat pada hari maulidnya dekat kuburnya, selain sholat-sholat sunnah.
Orang tidak perlu mengkritik perlakuan ini, jika ia mengetahui bahwa apa yang terjadi setelah wafatnya Almasih adalah dimulai dengan ketakjuban padanya diikuti dengan menuhankannya.
Islam berusaha menekan kecenderungan semacam ini, sebelum tersebar.
Baca juga: Catatan Seorang Mualaf Jerman: Masyarakat Alkohol, Nikotin, dan Daging Babi
Selanjutnya pada 26 Desember 1982, Hoffaman membuat catatan lagi sebagai berikut:
Kami terlambat beberapa menit untuk keluar dari masjid setelah sholat. Tampak ada sesuatu yang menghambat di pintu utama. Persis di tengah-tengah pintu, ada seorang muslim sedang tenggelam total dalam sholatnya. Mungkin dia datang terlambat sebelum rakaat terakhir, dan sekarang dia sedang menyempurnakan rakaatnya. Dia tampak tenggelam dalam sholatnya sampai-sampai melupakan semua yang ada di sekelilingnya.
Semua jamaah menjauhi daerah sholatnya, khawatir mengganggu kekhusyuan sholatnya. Tidak seorang pun yang mengkritik keterlambatannya yang menyebabkan pemandangan ini. Ini karena si muslim sedang menunaikan kewajiban agamanya. Tidak lebih dari itu.
Pemandangan semacam ini tidak mungkin terjadi ketika para penziarah Kristen menyesaki Gereja St. Petrus di Roma. Perbedaan ini disebabkan karena ritus-ritus keagamaan Kristen hanya mengenal misa suci yang dipimpin oleh seorang pendeta sebagai simbol agama resmi. Islam tidak mengenal hal semacam itu. Yang ada hanya satu kewajiban (sholat) yang mesti ditunaikan oleh semua umat Islam. Adapun kepemimpinan imam dalam sholat hanyalah untuk menunaikan tepat pada waktunya.
Sholat mendapat tempat dan kedudukan yang tinggi dalam Islam, sampai-sampai pasal-pasal tentang sholat memenuhi kitab-kitab fikih. Seperti, kitab monumental karya Muhyiddin Abu Zakariya al-Anshari, yaitu Minhaj ath-Thalibin, yang dirilis pada abad ke-13. Di antara kitab yang paling mengagumkan adalah al-Muwattha' karya Imam Malik bin Anas yang mengkhususkan 14 bab awalnya hanya untuk menerangkan syarat-syarat dan kaidah-kaidah sholat.
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Lihat Juga :