Mualaf Jerman Wilfred Hoffman Bicara tentang Bagaimana Menghadapi Maut
Jum'at, 11 November 2022 - 16:37 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Di sisi lain, banyak orang Barat berlebihan dalam menilai perbedaan antara alam semesta dan iman terhadap hari kiamatnya Kristen dan Islam.
Kedua agama ini menerima bahwa pernyataan, "Setiap kali alam mendekati ujung akhirnya, alam yang lain semakin dekat," (Abdul Qadir ash-Shufi). Seorang Kristen yang taat, seperti halnya seorang muslim yang wara' selalu mempersiapkan dirinya setiap hari menuju perjumpaan dengan maut. Penantian yang lama ini disimbolkan pada puncak Jabal Arafat, Mekkah. Sikap ini mendapat legitimasi yang istimewa di antara ritus-ritus haji lainnya.
Yang jelas, Al-Qur'an sarat dengan metafora surga dan neraka. Dan, Muhammad SAW telah menambahkan seluk beluk hari kiamat lewat riwayat perjalanannya ke Quds (Isra) dan kenaikannya menuju langit tujuh (Mikraj).
Tidak cukup sampai di sini --juga jika ada tambahan yang wajib diketahui-- para sufi terlampau jauh memikirkan detail-detail ilustrasi terhadap makna simbol-simbol dan metafora-metafora akhirat. Shur, diartikan yang akan ditiup sebelum akhir dunia. Mizan, diartikan timbangan kebajikan dan kejelekan. Sedang Shirat, diartikan sebagai titian yang dilewati seseorang menuju surga.
Dalam buku tentang "Kematian dalam Islam" karya Abdul Rahim bin Ahmad al-Qhadi (1981), sang penulis sangat berani dalam mengembangkan ilustrasi-ilustrasi imajiner terhadap sesuatu yang ia namakan "peta geografi akhirat".
Sekalipun kerancuan-kerancuan ilustrasi sampai sedemikian rupa, namun tidak membuat seorang muslim yang berakal berkeyakinan bahwa para penyusun buku itu mengetahui hakikatyang mereka bicarakan. Sungguh, buku tentang kematian ini dengan segala muatannya tentang informasi-informasi sejak lepasnya ajal sampai ke alam kebangkitan (al-Ba'tsu) hanyalah menunjukkan kelemahan kita dalam memahami kehidupan setelah mati lebih dari apa yang dijelaskan oleh wahyu dengan gamblang.
Sungguh, aku ingin memijakkan kakiku di atas tanah keras. Dan, kitab kematian yang kupilih adalah surat Yasin (ayat ke36).
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Wilfred Hoffman di Tanah Suci, Kembali ke Ibrahim
Mualaf
Nama sebelum ia masuk Islam adalah Wilfred Hoffman. Begitu memeluk Islam, namanya ditambah menjadi Murad Wilfred Hoffman atau lebih populer dengan Murad Hoffman.
Di sisi lain, banyak orang Barat berlebihan dalam menilai perbedaan antara alam semesta dan iman terhadap hari kiamatnya Kristen dan Islam.
Kedua agama ini menerima bahwa pernyataan, "Setiap kali alam mendekati ujung akhirnya, alam yang lain semakin dekat," (Abdul Qadir ash-Shufi). Seorang Kristen yang taat, seperti halnya seorang muslim yang wara' selalu mempersiapkan dirinya setiap hari menuju perjumpaan dengan maut. Penantian yang lama ini disimbolkan pada puncak Jabal Arafat, Mekkah. Sikap ini mendapat legitimasi yang istimewa di antara ritus-ritus haji lainnya.
Yang jelas, Al-Qur'an sarat dengan metafora surga dan neraka. Dan, Muhammad SAW telah menambahkan seluk beluk hari kiamat lewat riwayat perjalanannya ke Quds (Isra) dan kenaikannya menuju langit tujuh (Mikraj).
Tidak cukup sampai di sini --juga jika ada tambahan yang wajib diketahui-- para sufi terlampau jauh memikirkan detail-detail ilustrasi terhadap makna simbol-simbol dan metafora-metafora akhirat. Shur, diartikan yang akan ditiup sebelum akhir dunia. Mizan, diartikan timbangan kebajikan dan kejelekan. Sedang Shirat, diartikan sebagai titian yang dilewati seseorang menuju surga.
Dalam buku tentang "Kematian dalam Islam" karya Abdul Rahim bin Ahmad al-Qhadi (1981), sang penulis sangat berani dalam mengembangkan ilustrasi-ilustrasi imajiner terhadap sesuatu yang ia namakan "peta geografi akhirat".
Sekalipun kerancuan-kerancuan ilustrasi sampai sedemikian rupa, namun tidak membuat seorang muslim yang berakal berkeyakinan bahwa para penyusun buku itu mengetahui hakikatyang mereka bicarakan. Sungguh, buku tentang kematian ini dengan segala muatannya tentang informasi-informasi sejak lepasnya ajal sampai ke alam kebangkitan (al-Ba'tsu) hanyalah menunjukkan kelemahan kita dalam memahami kehidupan setelah mati lebih dari apa yang dijelaskan oleh wahyu dengan gamblang.
Sungguh, aku ingin memijakkan kakiku di atas tanah keras. Dan, kitab kematian yang kupilih adalah surat Yasin (ayat ke36).
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Wilfred Hoffman di Tanah Suci, Kembali ke Ibrahim
Mualaf
Nama sebelum ia masuk Islam adalah Wilfred Hoffman. Begitu memeluk Islam, namanya ditambah menjadi Murad Wilfred Hoffman atau lebih populer dengan Murad Hoffman.
Lihat Juga :