Catatan Mualaf Asal Jerman Wilfred Hoffman tentang Nabi Muhammad SAW dalam Injil

loading...
Catatan Mualaf Asal Jerman Wilfred Hoffman tentang Nabi Muhammad SAW dalam Injil
Murad Wilfred Hoffman, mualaf asal Jerman. Foto/Ilustrasi: saphirnews
Mualaf asal Jerman, Murad Wilfred Hoffman, membuat catatan harian yang cukup mengundang. Ia antara lain mengomentari buku Shahib Mustaqim Balkhair, dalam karyanya yang berjudul "Dalil Injil" (Fellar Swaist, 1984). Menurut Hoffman, Balkhair berhasil mengumpulkan teks-teks yang terdapat pada Perjanjian Lama dan Baru yang menunjukkan keotentikan Al-Qur'an , secara umum dan kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW secara khusus.

Berikut catatan harian Murad Wilfred Hoffman yang ditulis di Gelsenkirchen pada 4 Februari 1985 sebagaimana dinukil dari buku "Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman" (Gema Insani Press, 1998).

Baca juga: Mualaf Jerman Murad Hoffman Bicara tentang Pluralisme dalam Islam

Shahib Mustaqim Balkhair, dalam karyanya yang berjudul "Dalil Injil" (Fellar Swaist, 1984) berhasil mengumpulkan teks-teks yang terdapat pada Perjanjian Lama dan Baru yang menunjukkan keautentikan Al-Qur'an, secara umum dan kebenaran risalah Nabi Muhammad saw secara khusus.

Hanya sedikit para muslim Barat kontemporer yang menggeluti proyek kajian perbandingan antara Injil dan Al-Qur'an. Itu adalah di luar kesanggupan Islam atau Kristen dalam membongkar teologi agama lain. Hal yang selalu dilakukan oleh Prof Hans Kung --para teolog Kristen, seperti Adolf Von Harnack, Adolf Slater, Paul Schwartznow mengakui bahwa Al-Qur'an mengandung penjelasan paling otentik tentang kedudukan, peran, dan karakter al-Masih. Karenanya, Al-Qur'an mengingatkan umat Kristen akan masa lain mereka.

Tampaknya, hanya ada satu hubungan antara Perjanjian Baru dan Al-Quran yang menyibukkan pemikiran para muslimin Barat, yaitu ramalan akan risalah Muhammad SAW dalam Injil Yohana (16:14), (13:166).

Umat Islam setuju -juga disetujui oleh Prof Hans Kung-- bahwa bacaan yang benar terhadap ayat-ayat tersebut adalah Periklytos (berarti 'Ahmad' dalam Bahasa Arab) bukan Parakletos menyiratkan kedatangan nabi lain setelah Al-Masih dan nabi itu adalah Muhammad SAW.

Penting untuk disebut, kesepakatan bahwa kata Parakletos (yang terdapat dalam Injil Yohana 26:14) tidak menunjuk pada roh kudus. Tampak dengan jelas kontradiksi antara teks Injil Yohana (13:16) dan yang terdapat dalam cetakan-cetakan Injil yang lain, semuanya menafsirkan roh kudus.

Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji

Hal ini terjadi akibat pengaruh konsepsi Helenisme dan Gnostisisme yang merembes ke dalam teks Injil --yang tentu saja diragukan keotentikannya.

Injil-injil juga itu tidak cukup terjebak dalam distorsi yang dilakukan oleh pakar-pakar teologi Kristen. Adalah hal logis, jika pertanyaan berikutnya dimulai dengan, bukankah cukup bagi kita Al-Qur'an sempurna dan pembenar?

Apakah para nabi membutuhkan dalil khusus menurut hawa nafsu mereka? Dan apakah bermanfaat kita memperkuat Al-Qur'an dengan dokumen-dokumen seperti kebanyakan Injil-injil, khususnya Injil Yohana, yang ia sendiri sangat membutuhkan orang yang menjustifikasi keautentikannya?

Keluarga Katholik
Nama sebelum ia masuk Islam adalah Wilfred Hoffman. Begitu memeluk Islam, namanya ditambah menjadi Murad Wilfred Hoffman atau lebih populer dengan Murad Hoffman.

Dia terlahir pada 6 Juli 1931, dari sebuah keluarga Katholik, di Jerman. Pendidikan Universitasnya dilalui di Union College, New York. Dia Doktor dalam bidang Undang-Undang Jerman, juga magister dari Universitas Harvard dalam bidang Undang-Undang Amerika.

Ia bekerja di kementerian luar negeri Jerman, semenjak tahun 1961 hingga tahun 1994. Ia terutama bertugas dalam masalah pertahanan nuklir. Murad pernah menjadi direktur penerangan NATO di Brussel, Duta Besar Jerman di Aljazair dan terakhir Duta Besar Jerman di Maroko, hingga tahun 1994.

Baca juga: Mualaf Jerman Wilfred Hoffman Bicara tentang Bagaimana Menghadapi Maut

Pengalamannya sebagai duta besar dan tamu beberapa negara Islam mendorongnya untuk mempelajari Islam, terutama Al-Qur'an. Dengan tekun ia mempelajari Islam dan belajar mempraktikkan ibadah-ibadahnya.

Setelah lama ia rasakan pergolakan pemikiran dalam dirinya yang makin mendekatkan dirinya kepada keimanan, pada tanggal 25 September 1980, di Islamic Center Colonia, ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Ketika ia menjadi duta besar Jerman di Maroko, pada tahun 1992, ia mempublikasikan bukunya yang menggegerkan masyarakat Jerman: Der Islam als Alternative (Islam sebagai Alternatif).

Dalam buku tersebut, ia tidak saja menjelaskan bahwa Islam adalah alternatif yang paling baik bagi peradaban Barat yang sudah keropos dan kehilangan justifikasinya, namun ia secara eksplisit mengatakan bahwa alternatif Islam bagi masyarakat Barat adalah suatu keniscayaan.

Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Wilfred Hoffman di Tanah Suci, Kembali ke Ibrahim
(mhy)
preload video