Kisah Mujahidah Pemberani Perisai Rasulullah SAW di Medan Perang
Rabu, 16 November 2022 - 12:44 WIB
loading...
Rubayyi binti Muawwidz adalah salah satunya shahabiyah dan dikenal sebagai mujahidah kebanggaan Rasulullah., sosoknya tak kenal takut dan selalu maju ke medan perang bersama Rasulullah dan para sahabatnya. Foto ilustrasi/istimewa
A
A
A
Dia adalah seorang muslimah yang hidup di zaman Nabi Muhammad Shallalahu alaihi wa sallam mengenalkan Islam. Ia juga seorang sahabat perempuan atau shahabiyah Rasulullah. Namanya Ar-Rubayyi' binti Mu'awwidz. Ia tumbuh besar dari sebuah pohon yang buahnya mudah dipetik dan rasanya manis. Ia adalah anak dari Mu'awwidz bin Aftra', satu dari para pembesar pasukan badaryang telah mendapat jaminan surga/
Keluarga Afra' mempunyai dedikasi tinggi dalam Perang Badar . Mereka meninggalkan jejak penuh berkah dalam perang ini.Adalah Abu Walid (Utbah bin Rabi'ah) bersama dengan saudaranya yang bernama Syaibah, juga putranya Al-Walid bin Utbah tampil mewakili barisan pasukan kaum musyrikin. Mereka menantang kaum muslimin. Karena itu, majulah tiga pemuda Anshar menyambut tantangannya itu, yakni tiga bersaudara yang terdiri dari Mu'awwidz, Mu'adz dan Auf. Semuanya adalah putra-putra Afra'.
Baca juga: Kisah Menyentuh Rabi'ah ar-Ra'yi, 30 Tahun Ditinggal Jihad sang Ayah
Dari jiwa keberanian dan mujahid inilah darah Ar-Rubayyi lahir. Seperti keturunannya, keberanian yang dimiliki Ar-Rubayyi’ menjadikannya sebagai sosok yang gandrung dengan perjalanan jihad Rasulullah dan para shahabatnya. Pengalamannya dengan amalan puncak dalam Islam ini (baca: jihad) dimulai ketika ayahnya berpartisipasi dalam Perang Badar.
Ar-Rubayyi’ berangkat bersama Rasulullah untuk mengikuti berbagai peperangan dengan tujuan agar mendapatkan pahala dan balasan yang telah disediakan Allah SWT untuk para mujahidin. Dia ikut berkontribusi dalam jihad dengan melayani pengobatan para mujahidin, serta menyiapkan perlengkapan logistik mereka.
Ar-Rubayyi’ adalah wanita mulia yang memiliki keberanian dalam perlawanan terhadap kebatilan dan kemusyrikan.
Ibnu Katsir berkata mengenai Ar-Rubayyi’,
“Dia berangkat bersama Rasulullah untuk mengikuti berbagai peperangan guna mengobati para mujahidin yang terluka dan memberi minuman bagi mereka yang kehausan.”
Al-Bukhari mentakhrij dari Ar-Rubayyi’ bahwa dia berkata, “Kami ikut peperangan bersama Rasulullah untuk membantu, memberikan minum, dan mengobati mujahidin yang terluka, serta membawa pulang mujahidin yang tewas ke Madinah.”
Rubayyi' pun dikenal sebagai mujahidah kebanggaan Rasulullah. Sosoknya tak kenal takut dan selalu maju ke medan perang bersama Rasulullah dan para sahabatnya. Diriwayatkan ketika Rubayyi’ mengambil minyak wangi dari Asma’ binti Makhrabah, ibu Abu Jahal. Lalu Asma menanyakan nasab Rubayyi’. Lantas dia pun menyebutkan silsilah nasabnya. Kemudian Asma’ berkata, “Engkau adalah anak perempuan dari seorang pembunuh tuannya (Abu Jahal).”
Mendengar jawaban Rubayyi, Asma naik pitam namun tidak berani melawan keberaniannya, Asma hanya menimpali, “Demi Allah, aku tidak akan menjual sesuatu kepadamu untuk selama-lamanya.” Rubayyi merasa senang membuat Asma murka dengan berkata, “Haram bagiku untuk membeli sedikit saja dari minyak wangimu.”
Keluarga Afra' mempunyai dedikasi tinggi dalam Perang Badar . Mereka meninggalkan jejak penuh berkah dalam perang ini.Adalah Abu Walid (Utbah bin Rabi'ah) bersama dengan saudaranya yang bernama Syaibah, juga putranya Al-Walid bin Utbah tampil mewakili barisan pasukan kaum musyrikin. Mereka menantang kaum muslimin. Karena itu, majulah tiga pemuda Anshar menyambut tantangannya itu, yakni tiga bersaudara yang terdiri dari Mu'awwidz, Mu'adz dan Auf. Semuanya adalah putra-putra Afra'.
Baca juga: Kisah Menyentuh Rabi'ah ar-Ra'yi, 30 Tahun Ditinggal Jihad sang Ayah
Dari jiwa keberanian dan mujahid inilah darah Ar-Rubayyi lahir. Seperti keturunannya, keberanian yang dimiliki Ar-Rubayyi’ menjadikannya sebagai sosok yang gandrung dengan perjalanan jihad Rasulullah dan para shahabatnya. Pengalamannya dengan amalan puncak dalam Islam ini (baca: jihad) dimulai ketika ayahnya berpartisipasi dalam Perang Badar.
Ar-Rubayyi’ berangkat bersama Rasulullah untuk mengikuti berbagai peperangan dengan tujuan agar mendapatkan pahala dan balasan yang telah disediakan Allah SWT untuk para mujahidin. Dia ikut berkontribusi dalam jihad dengan melayani pengobatan para mujahidin, serta menyiapkan perlengkapan logistik mereka.
Ar-Rubayyi’ adalah wanita mulia yang memiliki keberanian dalam perlawanan terhadap kebatilan dan kemusyrikan.
Ibnu Katsir berkata mengenai Ar-Rubayyi’,
“Dia berangkat bersama Rasulullah untuk mengikuti berbagai peperangan guna mengobati para mujahidin yang terluka dan memberi minuman bagi mereka yang kehausan.”
Al-Bukhari mentakhrij dari Ar-Rubayyi’ bahwa dia berkata, “Kami ikut peperangan bersama Rasulullah untuk membantu, memberikan minum, dan mengobati mujahidin yang terluka, serta membawa pulang mujahidin yang tewas ke Madinah.”
Rubayyi' pun dikenal sebagai mujahidah kebanggaan Rasulullah. Sosoknya tak kenal takut dan selalu maju ke medan perang bersama Rasulullah dan para sahabatnya. Diriwayatkan ketika Rubayyi’ mengambil minyak wangi dari Asma’ binti Makhrabah, ibu Abu Jahal. Lalu Asma menanyakan nasab Rubayyi’. Lantas dia pun menyebutkan silsilah nasabnya. Kemudian Asma’ berkata, “Engkau adalah anak perempuan dari seorang pembunuh tuannya (Abu Jahal).”
Mendengar jawaban Rubayyi, Asma naik pitam namun tidak berani melawan keberaniannya, Asma hanya menimpali, “Demi Allah, aku tidak akan menjual sesuatu kepadamu untuk selama-lamanya.” Rubayyi merasa senang membuat Asma murka dengan berkata, “Haram bagiku untuk membeli sedikit saja dari minyak wangimu.”
Lihat Juga :