Prof Sohail Humayun Hashmi Bicara tentang Muslim Amerika Sampai Konsep Jihad

loading...
Prof Sohail Humayun Hashmi Bicara tentang Muslim Amerika Sampai Konsep Jihad
Prof Sohail Humayun Hashmi. Foto/Ilustrasi: the new leam
Sohail Humayun Hashmi adalah seorang muslim yang tinggal di Amerika Serikat . Profesor Hubungan Internasional di Alumnae Foundation dan Profesor Politik di Mount Holyoke College ini banyak mengajar etika internasional komparatif, khususnya konsep perang dan perdamaian yang adil, dan pada studi agama dalam politik, khususnya Islam dalam politik domestik dan internasional.

Dia banyak berbicara mengenai kondisi umat Islam di AS dalam buku berjudul "American Jihad, Islam After Malcolm X" karya Steven Barbosa. "Muslim di Amerika Serikat belum mengukuhkan keberadaannya secara memadai. Mereka belum menyuarakan satu bahasa dan kepentingan yang lama, dan mereka bungkam agar tidak banyak menimbulkan persoalan," ujarnya.

Sohail telah menerbitkan berbagai topik dalam etika Islam dan teori politik, termasuk kedaulatan, intervensi kemanusiaan, toleransi, masyarakat sipil, dan teori jihad . Buku terbarunya adalah volume yang telah diedit berjudul Just Wars, Holy Wars, and Jihads: Christian, Jewish, and Muslim Encounters and Exchanges (Oxford University Press, 2012). Dia saat ini sedang mengerjakan sebuah buku yang menganalisis tanggapan Muslim terhadap kebangkitan hukum internasional .

Berikut penuturan Sohail Humayun Hashmi tentang banyak hal mengenai Islam dan orang Islam AS sebagaimana dinukil dalam buku yang diterjemahkan Sudirman Teba dan Fettiyah Basri menjadi "Jihad Gaya Amerika, Islam Setelah Malcolm X " (Mizan, 1995):

Baca juga: Kisah Muslim Amerika Serikat Prof Sohail Humayun Hashmi Mengajarkan Islam di Rumah

Kaum Muslimin di negeri ini terobsesi dengan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan negeri leluhurnya. Muslim dari India terpaku pada isu-isu yang sedang terjadi di Kashmir dan India.

Orang-orang yang berasal dari Pakistan lebih memikirkan kebijakan AS terhadap Pakistan. Muslim dari negeri-negeri Arab terpaku pada soal-soal Palestina.

Mereka benar-benar terpaku pada soal-soal semacam itu dan segan untuk memasukkan isu-isu lainnya dalam agenda pergerakan mereka. Begitu pula keberadaan orang-orang Bosnia sungguh amat kecil dampaknya di AS.

Belum ada upaya untuk mengembangkan kepentingan Muslim Amerika yang lebih mengarah pada peran mereka yang lebih luas. Mereka masih sibuk tidak saja dengan urusan politik tetapi juga dengan masalah sosial-sosialnya masalah membangun masjid.

Salah satu sahabat saya adalah seorang pemimpin masjid terkemuka di California Selatan. Ia menceritakan bahwa di AS ada banyak masjid yang disebutnya homesick mosque -masjid yang dibangun oleh para pendatang yang menginginkan sebuah tempat untuk berkumpul dan berbicara dengan bahasa ibu mereka, seraya meyakinkan bahwa anak-anak mereka berada dalam lingkungan yang aman dan masih terikat kuat dengan budaya leluhur mereka.

Sementara itu sejumlah masjid lainnya menghindar untuk menyusun rencana kegiatan apa pun, lantaran terlalu khawatir akan mengarah ke gerakan-gerakan politis, dan begitu inginnya memelihara kesatuan antar jamaahnya. Mereka memutuskan untuk mengubur setiap perbedaan yang muncul, dan hasilnya adalah sebuah tempat yang semata-mata digunakan sebagai tempat sholat.

Baca juga: Kisah Prof Ali S Asani: Bukan Sekadar Jihad di Harvard

Sebuah perubahan sedang muncul pada generasi saya. Kami tak begitu terdorong untuk mengidentifikasikan diri dengan budaya homesick mosque, dan lebih tertarik untuk meningkatkan peran politik pusat-pusat kegiatan Islam, dan melakukannya dalam konteks masyarakat Muslim Amerika --bukan sebagai pendatang Mesir, Pakistan, melainkan sebagai orang Amerika.

Jihad di Amerika
Jihad umat Islam di Amerika adalah menegakkan sebuah identitas sebagai Muslim yang tinggal dan hidup di AS, karena hingga kini belum ada sebuah masyarakat Muslim seperti itu.

Dalam setiap kesempatan khutbah, sering dibicarakan perlunya kebangkitan kembali umat Islam. Umat ini telah dibekali dengan nilai-nilai moral sesuai yang tertulis dalam Al-Quran, yang berlawanan dengan nilai-nilai moral yang berdasarkan kebangsaan, kesukuan, atau keturunan (etnik). Singkatnya di sisi Tuhan, suatu masyarakat akan dinilai berdasarkan standar dan praktik-praktik etikanya.

Muslim Amerika saat ini tidak bersedia untuk mengambil tindakan yang dapat mengeluarkan mereka dari fragmentasi khas ini. Saya kira ini merupakan masalah perbedaan kultural yang begitu lama, yang hanya dapat dipecahkan secara perlahan sejalan dengan berlalunya waktu.

Tetapi, menurut pengalaman saya, iklim di negeri ini lebih baik bagi kehidupan seorang Muslim ketimbang di tempat-tempat lain, bahkan dibandingkan dengan di negeri-negeri Muslim sendiri.

Baca juga: Kisah Maryum Putri Muhammad Ali Berdakwah Lewat Musik Rap dan Komedi

Identitas Anda sebagai seorang Amerika akan menggambarkan apa-apa yang Anda lakukan, dan di negeri ini Anda lebih memperoleh kebebasan ketimbang di tempat-tempat mana pun yang pernah saya saksikan.

Dalam banyak hal saya merasakan ada perbedaan dengan teman-teman sekelas yang berkebangsaan Amerika. Tetapi, anak-anak saya boleh jadi sudah merasakan bahwa mereka benar-benar seperti orang Amerika lainnya.
halaman ke-1
preload video