alexametrics

Kisah Sufi

Kebijaksanaan yang Diperjualbelikan: Tiga Buah Nasihat Seratus Keping Uang Perak

loading...
Kebijaksanaan yang Diperjualbelikan: Tiga Buah Nasihat Seratus Keping Uang Perak
Hanya dengan mengembangkan suatu kemampuan khusus, yang bisa memungkinkan manusia tetap mengikuti proses yang tak kasat mata ini. Foto/Ilustrasi/Ist
ADA seorang bernama Saiful Muluk yang mempergunakan sebagian hidupnya untuk mencari kebenaran. Dibacanya semua buku tentang kebijaksanaan kuno yang bisa didapatnya. Orang itu pun mengadakan perjalanan ke setiap negeri untuk mendengar pengajaran dari para guru kerohanian. Siang hari ia bekerja, malamnya ia merenungkan Misteri Agung.

Pada suatu hari, ia mendengar tentang seorang guru lain yang belum ditemuinya, Pujangga Agung Ansari, yang tinggal di Kota Herat. Si pencari kebenaran itu pun segera ke sana, dan sampailah ia di depan pintu Sang Bijak. Di pintu itu, berlawanan dengan harapannya, tertera suatu pengumuman aneh: "Di sini Dijual Pengetahuan."

"Pasti ada yang keliru, atau, mungkin pengumuman itu disengaja agar pencari kebenaran yang setengah hati itu mengurungkan niatnya," batinnya, "sebab belum pernah kudengar dikatakan pengetahuan bisa dibeli atau dijual." Lalu, ia pun masuk ke dalam rumah itu.

Di pelataran dalam rumah, tampak Ansari, yang bungkuk karena usia, sedang menulis sajak. "Apakah Saudara datang mau membeli pengetahuan?' tanya Sang Agung. Saiful pun mengangguk. Ansari mengatakan padanya untuk menyediakan sebanyak mungkin uang yang dimilikinya. Lalu, Saiful pun mengeluarkan semua uangnya, sejumlah seratus keping uang perak.



"Dengan uang segitu," kata Ansari, "Saudara bisa mendapat tiga nasihat."

"Apa ini sungguhan?" tanya Saiful Muluk, "Kenapa Guru perlu uang, kalau Guru seorang sederhana dan mengabdi?'



"Kita hidup dalam dunia, yang dikelilingi oleh kenyataan-kenyataan bendawi," kata orang itu, "dan pengetahuan yang kumiliki memberiku tanggung jawab baru yang besar. Sebab aku mengetahui perihal tertentu yang orang lain tidak ketahui, aku harus menggunakan uang, di antara hal lainnya, agar bisa mengabdi ketika kata atau latihan 'berkah' ('baraka') tidak perlu ditunjukkan."

Sang Bijak itu lalu mengambil uang perak tersebut dan berkata, "Dengarkan baik-baik."

"Nasihat pertama: 'Awan tipis isyarat bahaya.'"
halaman ke-1 dari 6
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
cover top ayah
وَاَنَّهٗ هُوَ اَغۡنٰى وَ اَقۡنٰىۙ
Sesungguhnya, Allah-lah yang memberikan kekayaan dan kecukupan.

(QS. An-Najm:48)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak