Muhammad Asad: Sunnah Adalah Kunci Pengertian Kebangkitan Islam
Rabu, 07 Desember 2022 - 18:12 WIB
loading...
A
A
A
Pandangan Islam yang menonjol ini menerangkan mengapa Nabi kita dalam tugas suci beliau sebagai Rasul pembimbing ummat manusia demikian mendalam berurusan dengan kehidupan dalam kecenderungannya sebagai gejala spiritual dan material.
Oleh karena itu maka tidaklah menunjukkan pengertian yang dalam tentang Islam apabila orang membeda-bedakan perintah-perintah dari Nabi yang berbicara tentang hal-hal peribadatan dan kerohanian dengan yang berhubungan dengan soal-soal kemasyarakatan dan kehidupan kita sehari-hari.
Sanggahan bahwa wajib kita mengikuti perintah-perintah dari kelompok 'ubudiyah dan kerohanian tetapi tidak wajib mengikuti perintah-perintah kelompok kemasyarakatan dan kehidupan sehari-hari adalah sama dangkal dari segi jiwanya, sama anti-Islam, seperti idea bahwa ketentuan-ketentuan umum daripada al-Qur'an hanya dimaksudkan bagi orang-orang Arab awam pada masa turunnya wahyu dan bukan bagi tuan-tuan yang telah maju dalam abad ke dua puluh. Pada akarnya terletak sikap pandang enteng tentang risalah Nabi besar itu.
Baca juga: Keutamaan Mengamalkan Sunnah Nabi
Menurutnya, hidup seorang Muslim harus diarahkan atas kerja sama yang penuh dan tanpa reserve antara wujud rohani dan jasadi, demikianlah pimpinan Nabi kita merangkul sebagai satu keseluruhan terpadu, satu keseluruhan total manifestasi-manifestasi moral dan praktik, individual dan sosial. Inilah arti yang paling dalam daripada Sunnah. Al-Qur'an berkata:
"Apa saja yang diberikan Nabi kepadamu, terimalah; dan barang apa saja yang dilarangnya, jauhkanlah." ( Qur'an Suci, 59 :7).
Dan Nabi mengatakan pula: "Orang Yahudi telah terpecah pecah menjadi tujuh puluh satu firqah, orang Kristen menjadi tujuh puluh dua firqah, dan kaum Muslimin akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqah." (Sunan Abu Da'ud, Jami' at-Tirmidzi, Sunan ad-Darimi, Musnad Ibnu Hambal). Dalam hubungan ini dapat disebut bahwa bilangan "tujuh puluh" sering berarti banyak dan tidak mesti menunjukkan angka hitung yang sesungguhnya.
Dengan angka itu terang Nabi bermaksud mengatakan bahwa firqah-firqah dan perpecahan-perpecahan di antara kaum Muslimin akan sangat banyak, bahkan lebih dari orang-orang Yahudi dan Kristen, dan beliau menambahkan: "Mereka semua masuk neraka, kecuali satu."
Ketika para sahabat bertanya satu yang mana yang terpimpin ke jalan benar itu, Nabi menjawab: "Yaitu yang didasarkan pada Sunnahku dan sunnah para sahabatku."
Ayat-ayat tertentu membuat pokok ini menjadi terang di luar segala kemungkinan salah pengertian:
Oleh karena itu maka tidaklah menunjukkan pengertian yang dalam tentang Islam apabila orang membeda-bedakan perintah-perintah dari Nabi yang berbicara tentang hal-hal peribadatan dan kerohanian dengan yang berhubungan dengan soal-soal kemasyarakatan dan kehidupan kita sehari-hari.
Sanggahan bahwa wajib kita mengikuti perintah-perintah dari kelompok 'ubudiyah dan kerohanian tetapi tidak wajib mengikuti perintah-perintah kelompok kemasyarakatan dan kehidupan sehari-hari adalah sama dangkal dari segi jiwanya, sama anti-Islam, seperti idea bahwa ketentuan-ketentuan umum daripada al-Qur'an hanya dimaksudkan bagi orang-orang Arab awam pada masa turunnya wahyu dan bukan bagi tuan-tuan yang telah maju dalam abad ke dua puluh. Pada akarnya terletak sikap pandang enteng tentang risalah Nabi besar itu.
Baca juga: Keutamaan Mengamalkan Sunnah Nabi
Menurutnya, hidup seorang Muslim harus diarahkan atas kerja sama yang penuh dan tanpa reserve antara wujud rohani dan jasadi, demikianlah pimpinan Nabi kita merangkul sebagai satu keseluruhan terpadu, satu keseluruhan total manifestasi-manifestasi moral dan praktik, individual dan sosial. Inilah arti yang paling dalam daripada Sunnah. Al-Qur'an berkata:
"Apa saja yang diberikan Nabi kepadamu, terimalah; dan barang apa saja yang dilarangnya, jauhkanlah." ( Qur'an Suci, 59 :7).
Dan Nabi mengatakan pula: "Orang Yahudi telah terpecah pecah menjadi tujuh puluh satu firqah, orang Kristen menjadi tujuh puluh dua firqah, dan kaum Muslimin akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqah." (Sunan Abu Da'ud, Jami' at-Tirmidzi, Sunan ad-Darimi, Musnad Ibnu Hambal). Dalam hubungan ini dapat disebut bahwa bilangan "tujuh puluh" sering berarti banyak dan tidak mesti menunjukkan angka hitung yang sesungguhnya.
Dengan angka itu terang Nabi bermaksud mengatakan bahwa firqah-firqah dan perpecahan-perpecahan di antara kaum Muslimin akan sangat banyak, bahkan lebih dari orang-orang Yahudi dan Kristen, dan beliau menambahkan: "Mereka semua masuk neraka, kecuali satu."
Ketika para sahabat bertanya satu yang mana yang terpimpin ke jalan benar itu, Nabi menjawab: "Yaitu yang didasarkan pada Sunnahku dan sunnah para sahabatku."
Ayat-ayat tertentu membuat pokok ini menjadi terang di luar segala kemungkinan salah pengertian:
Lihat Juga :