Perang Melawan Nabi Palsu Musailamah, 1.200 Orang Syahid Termasuk 40 Penghafal Al-Quran
Selasa, 13 Desember 2022 - 08:56 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Dendam Perempuan, Nabi Palsu dari Banu Tamim
Menurut Haekal, pada masa itu tanah Arab belum pernah mengalami pertumpahan darah sehebat pertempuran di Yamamah. Itu sebabnya tempat matinya Musailamah di "Kebun Rahman" kemudian diberi nama "Kebun Maut." Dan nama inilah yang terus dipakai dalam buku-buku sejarah.
Kebun Maut
Pasukan Musailamah lari ke dalam kebun setelah terdesak pasukan kaum muslimin. Haekal mengisahkan, Musailamah lari dan berteriak memanggil-manggil pasukannya: "Hai Banu Hanifah! Kebun, kebun!" Maksudnya supaya mereka berlindung ke dalam kebun yang tidak jauh dari mereka.
Kebun milik Musailamah ini cukup luas, dikelilingi tembok-tembok yang kukuh seolah seperti benteng. Kebun ini yang mendapat sebutan "Kebun ar-Rahman" (Hadiqatur-Rahman).
Mereka lari ke tempat itu dan menyelamatkan diri dari kehancuran setelah ribuan orang jatuh bergelimpangan ke tanah ditebas oleh pedang Muslimin.
Sementara mereka berlarian itu Muhakkam dan anak buahnya berdiri memberikan perlindungan dari belakang. Ketika itu, saat ia berusaha merintangi pasukan Muslimin sambil mengerahkan anak buahnya agar bertahan, dan bersama-sama bertempur sekuat tenaga dengan mereka untuk membentengi kaumnya itu, ketika itu juga Abdur-Rahman putra Abu Bakar as-Siddiq melepaskan anak panahnya yang tepat mengenai tenggorokannya. Orang itu pun mati.
Baca juga: Cinta Bersemi Dua Sejoli Nabi Palsu di Yamamah
Musailamah dan pengikut-pengikutnya akhirnya bertahan dalam kebun. Angkatan perang muslim menghendaki kemenangan yang sempurna, kemenangan yang lebih cepat.
Oleh karena itu mereka mengelilingi kebun itu mencari-cari celah untuk membuka gerbang yang begitu kuat. Upaya ini tak berhasil. Saat itu Bara' bin Malik berkata: "Saudara-saudara Muslimin, lemparkan aku ke tengah-tengah mereka dalam kebun!" Tetapi yang lain menjawab: "Jangan!"
Apa pula yang akan dilakukan Bara' seorang diri di tengah-tengah ribuan orang yang sedang mencari perlindungan dari maut dalam kebun itu!
Hanya saja, Bara' tetap mendesak dan menambahkan: "Tidak, lemparkanlah aku ke tengah-tengah mereka." Kemudian mereka mengusungnya ke atas tembok itu. Tetapi setelah dilihatnya begitu banyak orang di dalamnya, ia malah ragu dan mau mundur seraya berkata: "Turunkan aku," tetapi segera katanya lagi: "Usunglah aku!"
Menurut Haekal, pada masa itu tanah Arab belum pernah mengalami pertumpahan darah sehebat pertempuran di Yamamah. Itu sebabnya tempat matinya Musailamah di "Kebun Rahman" kemudian diberi nama "Kebun Maut." Dan nama inilah yang terus dipakai dalam buku-buku sejarah.
Kebun Maut
Pasukan Musailamah lari ke dalam kebun setelah terdesak pasukan kaum muslimin. Haekal mengisahkan, Musailamah lari dan berteriak memanggil-manggil pasukannya: "Hai Banu Hanifah! Kebun, kebun!" Maksudnya supaya mereka berlindung ke dalam kebun yang tidak jauh dari mereka.
Kebun milik Musailamah ini cukup luas, dikelilingi tembok-tembok yang kukuh seolah seperti benteng. Kebun ini yang mendapat sebutan "Kebun ar-Rahman" (Hadiqatur-Rahman).
Mereka lari ke tempat itu dan menyelamatkan diri dari kehancuran setelah ribuan orang jatuh bergelimpangan ke tanah ditebas oleh pedang Muslimin.
Sementara mereka berlarian itu Muhakkam dan anak buahnya berdiri memberikan perlindungan dari belakang. Ketika itu, saat ia berusaha merintangi pasukan Muslimin sambil mengerahkan anak buahnya agar bertahan, dan bersama-sama bertempur sekuat tenaga dengan mereka untuk membentengi kaumnya itu, ketika itu juga Abdur-Rahman putra Abu Bakar as-Siddiq melepaskan anak panahnya yang tepat mengenai tenggorokannya. Orang itu pun mati.
Baca juga: Cinta Bersemi Dua Sejoli Nabi Palsu di Yamamah
Musailamah dan pengikut-pengikutnya akhirnya bertahan dalam kebun. Angkatan perang muslim menghendaki kemenangan yang sempurna, kemenangan yang lebih cepat.
Oleh karena itu mereka mengelilingi kebun itu mencari-cari celah untuk membuka gerbang yang begitu kuat. Upaya ini tak berhasil. Saat itu Bara' bin Malik berkata: "Saudara-saudara Muslimin, lemparkan aku ke tengah-tengah mereka dalam kebun!" Tetapi yang lain menjawab: "Jangan!"
Apa pula yang akan dilakukan Bara' seorang diri di tengah-tengah ribuan orang yang sedang mencari perlindungan dari maut dalam kebun itu!
Hanya saja, Bara' tetap mendesak dan menambahkan: "Tidak, lemparkanlah aku ke tengah-tengah mereka." Kemudian mereka mengusungnya ke atas tembok itu. Tetapi setelah dilihatnya begitu banyak orang di dalamnya, ia malah ragu dan mau mundur seraya berkata: "Turunkan aku," tetapi segera katanya lagi: "Usunglah aku!"
Lihat Juga :