Kisah Nabi Isa: Dikhitan Ketika Berusia 8 Hari
Rabu, 21 Desember 2022 - 12:25 WIB
loading...
Ketika Isa mencapai umurnya 8 hari, ibunya membawanya ke Haikal untuk dikhitan dan menamakannya dengan nama Yasu’, yaitu Isa. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Al-Qur'an telah menginformasikan kepada kita tentang Nabi Isa dalam surat Maryam . Sang nabi lahir di Bait Lahm. Dikisahkan, ketika sempurna masa kehamilannya di Bait Lahm, Maryam berlindung di bawah pohon kurma kering. Saking sakitnya melahirkan, ia peluk pohon itu. Setelah itu, lahirlah Isa.
Maryam takut dianggap melakukan perbuatan buruk oleh kaumnya, karena melahirkan tanpa suami. Maka berkatalah ia: “Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.”
Maryam berharap mati saja, karena takut disangka melakukan perbuatan yang buruk dari sisi agama dan mencoreng nama baik keluarga dan kaumnya.
Baca juga: Kisah Nabi Isa Menginterogasi Seorang Pencuri
Muhammad Ali al Shabuni dalam buku berjudul "Al Nubuwwatu Wa Al Ambiya’" mengisahkan dengan lahirnya bayi dan goyangnya pohon kurma yang tidak berbuah maka jatuhlah buah kurma yang masih mengkal. Lalu dia makan buah kurma itu dan dia minum air yang dialirkan oleh Allah untuknya pada tempat yang tidak ada sungai.
Itu semua adalah kemuliaan yang Allah berikan kepadanya karena imannya, kesalehannya dan ketaatannya kepada Allah ta’ala dan perlindunganNya kepada anaknya Isa sebagai hamba Allah dan rasulnya.
Ketika Isa mencapai umurnya 8 hari, ibunya membawanya ke Haikal untuk dikhitan dan menamakannya dengan nama “ Yasu’. Yaitu Isa, sebagaimana yang telah diperintah Jibril ketika menginformasikan berita gembira tentang akan lahirnya seorang bayi. Dan khitan itu merupakan dari sunnah para anbiya’ dan mursalin semenjak Nabi Ibahim as.
Allah SWT membuat Isa mampu berbicara ketika masih dalam ayunan, sehingga dia mampu membela ibunya dari tuduhan kaumnya yang menuduh Maryam telah melakukan perzinaan sehingga melahirkan anak di luar nikah.
Isa juga menjelaskan kepada kaumnya bahwa kelak Allah akan mengutusnya sebagai nabi dan rasul. Maka berkatalah Isa:
"Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) sholat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".
Maryam takut dianggap melakukan perbuatan buruk oleh kaumnya, karena melahirkan tanpa suami. Maka berkatalah ia: “Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.”
Maryam berharap mati saja, karena takut disangka melakukan perbuatan yang buruk dari sisi agama dan mencoreng nama baik keluarga dan kaumnya.
Baca juga: Kisah Nabi Isa Menginterogasi Seorang Pencuri
Muhammad Ali al Shabuni dalam buku berjudul "Al Nubuwwatu Wa Al Ambiya’" mengisahkan dengan lahirnya bayi dan goyangnya pohon kurma yang tidak berbuah maka jatuhlah buah kurma yang masih mengkal. Lalu dia makan buah kurma itu dan dia minum air yang dialirkan oleh Allah untuknya pada tempat yang tidak ada sungai.
Itu semua adalah kemuliaan yang Allah berikan kepadanya karena imannya, kesalehannya dan ketaatannya kepada Allah ta’ala dan perlindunganNya kepada anaknya Isa sebagai hamba Allah dan rasulnya.
Ketika Isa mencapai umurnya 8 hari, ibunya membawanya ke Haikal untuk dikhitan dan menamakannya dengan nama “ Yasu’. Yaitu Isa, sebagaimana yang telah diperintah Jibril ketika menginformasikan berita gembira tentang akan lahirnya seorang bayi. Dan khitan itu merupakan dari sunnah para anbiya’ dan mursalin semenjak Nabi Ibahim as.
Allah SWT membuat Isa mampu berbicara ketika masih dalam ayunan, sehingga dia mampu membela ibunya dari tuduhan kaumnya yang menuduh Maryam telah melakukan perzinaan sehingga melahirkan anak di luar nikah.
Isa juga menjelaskan kepada kaumnya bahwa kelak Allah akan mengutusnya sebagai nabi dan rasul. Maka berkatalah Isa:
"Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) sholat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".
Lihat Juga :