Peradaban Islam Menurut John Louis Esposito
Selasa, 27 Desember 2022 - 14:17 WIB
loading...
John L Esposito. Foto/Ilustrasi: lehigh
A
A
A
John Louis Esposito mengatakan kaum Muslim menyebarkan agamanya; ternyata mereka bukan hanya orang-orang yang pandai berbuat tetapi juga rajin belajar. "Secara politis, pemerintah-pemerintah Muslim menyadari keterbatasan mereka dan kemajuan banyak kerajaan dan kebudayaan yang ditaklukkan oleh tentara-tentara mereka," ujarnya.
Dalam dalam bukunya berjudul "The Islamic Threat: Myth or Reality?" atau "Ancaman Islam Mitos atau Realitas?" (Mizan), pengamat Islam yang akademisi Italia- Amerika ini mengatakan lembaga-lembaga lokal, gagasan-gagasan, dan personil-personil diasimilasi dan diadaptasi dengan norma-norma Islam agar para pembesar Islam dapat mengambil pelajaran dari pengetahuan mereka yang sudah lebih maju.
Perpustakaan -perpustakaan besar serta pusat-pusat penerjemahan didirikan; buku-buku penting yang berisi ilmu pengetahuan, kedokteran, dan filsafat Barat dan Timur dikumpulkan dan diterjemahkan, seringkali oleh orang-orang Kristen dan Yahudi , dari bahasa Yunani, Latin, Persia, Koptik, Syria, dan Sanskrit ke dalam bahasa Arab. Dengan begitu, buku-buku sastra, ilmu pengetahuan, dan kedokteran menjadi lebih mudah didapat.
Baca juga: Begini Cara Pandang John Louis Esposito Mengenai Hukum Islam
Zaman penerjemahan diikuti oleh suatu periode kreativitas besar, karena generasi baru para ilmuwan dan ahli pikir Muslim yang terpelajar kini membangun dengan ilmu pengetahuan yang mereka peroleh dan memberikan sumbangan mereka dalam bidang penuntutan ilmu. "Proses pengislaman tradisi-tradisi itu telah berbuat lebih jauh daripada sekadar mengintegrasikan dan memperbaiki. Hal itu telah menghasilkan energi kreatif yang luar biasa," ujar Profesor Agama, Urusan Internasional, dan Studi Islam di Universitas Georgetown di Washington, D.C. ini.
Periode kekhalifahan merupakan salah satu pengembangan kebudayaan." Itulah zaman tokoh-tokoh besar filsafat dan ilmu pengetahuan: Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi.
Pusat-pusat utama belajar, dengan perpustakaan-perpustakaan besar, bermunculan di Kordova, Palermo, Nisyapur, Kairo, Baghdad, Damaskus, dan Bukhara, mengungguli Eropa yang tenggelam dalam abad-abad kegelapan.
Kehidupan kebudayaan dan politik para Muslim dan juga non-Muslim di kerajaan dan negara Islam dilakukan di dalam kerangka Islam dan bahasa Arab, walaupun terdapat perbedaan-perbedaan agama dan suku.
Gagasan-gagasan dan praktik-praktik yang baru diislamkan dan diarabisasikan. Peradaban Islam merupakan produk dinamika dan proses kreatif suatu perubahan dimana orang-orang Islam meminjam kebudayaan lain secara bebas.
Hal itu menunjukkan adanya keterbukaan dan keyakinan diri yang timbul karena kedudukan sebagai penguasa, bukan hamba, penakluk dan bukan yang ditaklukkan.
Dalam dalam bukunya berjudul "The Islamic Threat: Myth or Reality?" atau "Ancaman Islam Mitos atau Realitas?" (Mizan), pengamat Islam yang akademisi Italia- Amerika ini mengatakan lembaga-lembaga lokal, gagasan-gagasan, dan personil-personil diasimilasi dan diadaptasi dengan norma-norma Islam agar para pembesar Islam dapat mengambil pelajaran dari pengetahuan mereka yang sudah lebih maju.
Perpustakaan -perpustakaan besar serta pusat-pusat penerjemahan didirikan; buku-buku penting yang berisi ilmu pengetahuan, kedokteran, dan filsafat Barat dan Timur dikumpulkan dan diterjemahkan, seringkali oleh orang-orang Kristen dan Yahudi , dari bahasa Yunani, Latin, Persia, Koptik, Syria, dan Sanskrit ke dalam bahasa Arab. Dengan begitu, buku-buku sastra, ilmu pengetahuan, dan kedokteran menjadi lebih mudah didapat.
Baca juga: Begini Cara Pandang John Louis Esposito Mengenai Hukum Islam
Zaman penerjemahan diikuti oleh suatu periode kreativitas besar, karena generasi baru para ilmuwan dan ahli pikir Muslim yang terpelajar kini membangun dengan ilmu pengetahuan yang mereka peroleh dan memberikan sumbangan mereka dalam bidang penuntutan ilmu. "Proses pengislaman tradisi-tradisi itu telah berbuat lebih jauh daripada sekadar mengintegrasikan dan memperbaiki. Hal itu telah menghasilkan energi kreatif yang luar biasa," ujar Profesor Agama, Urusan Internasional, dan Studi Islam di Universitas Georgetown di Washington, D.C. ini.
Periode kekhalifahan merupakan salah satu pengembangan kebudayaan." Itulah zaman tokoh-tokoh besar filsafat dan ilmu pengetahuan: Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi.
Pusat-pusat utama belajar, dengan perpustakaan-perpustakaan besar, bermunculan di Kordova, Palermo, Nisyapur, Kairo, Baghdad, Damaskus, dan Bukhara, mengungguli Eropa yang tenggelam dalam abad-abad kegelapan.
Kehidupan kebudayaan dan politik para Muslim dan juga non-Muslim di kerajaan dan negara Islam dilakukan di dalam kerangka Islam dan bahasa Arab, walaupun terdapat perbedaan-perbedaan agama dan suku.
Gagasan-gagasan dan praktik-praktik yang baru diislamkan dan diarabisasikan. Peradaban Islam merupakan produk dinamika dan proses kreatif suatu perubahan dimana orang-orang Islam meminjam kebudayaan lain secara bebas.
Hal itu menunjukkan adanya keterbukaan dan keyakinan diri yang timbul karena kedudukan sebagai penguasa, bukan hamba, penakluk dan bukan yang ditaklukkan.
Lihat Juga :