Kompleksitas Dunia Modern dan Solusi Islam
Senin, 02 Januari 2023 - 13:43 WIB
loading...
Imam Shamsi Ali, Direktur Jamaica Muslim Center yang juga Presiden Nusantara Foundation. Foto/Istimewa
A
A
A
Imam Shamsi Ali
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Dunia modern yang terbangun di atas paham materialisme melahirkan ketidakpuasan abadi. Manusia berlari dan berlari mencari dunia. Tapi tujuan pencarian itu semakin jauh dari mereka. Dunia memang ketika disikapi dengan cara pandang dirinya (duniawi) akan menjadi fatamorgana.
Akibatnya manusia semakin tertipu oleh dunia yang penuh tipuan (ghurur). Dan anehnya manusia takkan pernah tersadarkan hingga masanya meninggalkan dunia itu. "Mereka dijadikan tidak sadar oleh kecenderungan memperbanyak (harta) hingga mereka dipaksa barpisah dari dunia (masuk ke dalam kubur)."
Situasi ini melahirkan kegersangan hidup tanpa akhir. Semakin banyak memilki semakin merasa kurang dan ingin lebih banyak lagi. Batin merana, menjerit mencari ketenangan. Tapi dunia yang menjadi sandaran ketenangan justru menjadikan manusia semakin risau penuh kekhatiran (khauf).
Di sinilah sesungguhnya Islam hadir untuk membawa ketenangan hakiki. Islam pada dirinya dan seluruh tatanannya sebagai jalan hidup terbangun di atas dasar kedamaian, ketenangan dan ketentraman. Situasi itu yang digambarkan dalam doa seorang Muslim di setiap akhir sholat:
"Allahumma Antas Salaam, wa minkas salam, wa ilaika ya'udus salaam."
Islam sendiri berasal dari kata "Salima" yang terdiri dari tiga huruf: Siim, Laam, Miim. Dari kata itu kemudian terlahir tiga kata pokok utama yang relevansinya dengan agama Islam. Ketiga kata utama itu adalah: Islaam (الاسلام) silmun (السلم) dan salaam (السلام). Ketiga kata ini menggambarkan secara totalitàs Islam sebagai tuntunan hidup.
Pertama, dari "Salima" tadi melahirkan kata Islaam. Kata ini terbentuk dengan tambahan alif di depan Aslama-Yuslimu-Islaam." Makna literal dari kata ini adalah berserah diri, menyerah, tunduk, patuh, dan yang semakna.
Kata Islaam disebutkan beberapa kali dalam Al-Quran. Satu di antaranya adalah sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah adalah Islaam. Pada aspek ini, Islam dimaknai sebagai pintu kebenaran. Kata Islaam (الاسلام) adalah pintu utama (main gate) untuk masuk ke dalam tatanan agama kebenaran. Sehingga yang masuk ke pintu tersebut adalah mereka yang telah mengimani. Jika belum mengimani maka seseorang itu tidak bisa dikategorikan masuk Islam.
Sehingga perintah-perintah keagamaan kepada orang-orang Islam pada gholibnya dimulai dengan seruan: "Wahai orang-orang yang beriman."
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Dunia modern yang terbangun di atas paham materialisme melahirkan ketidakpuasan abadi. Manusia berlari dan berlari mencari dunia. Tapi tujuan pencarian itu semakin jauh dari mereka. Dunia memang ketika disikapi dengan cara pandang dirinya (duniawi) akan menjadi fatamorgana.
Akibatnya manusia semakin tertipu oleh dunia yang penuh tipuan (ghurur). Dan anehnya manusia takkan pernah tersadarkan hingga masanya meninggalkan dunia itu. "Mereka dijadikan tidak sadar oleh kecenderungan memperbanyak (harta) hingga mereka dipaksa barpisah dari dunia (masuk ke dalam kubur)."
Situasi ini melahirkan kegersangan hidup tanpa akhir. Semakin banyak memilki semakin merasa kurang dan ingin lebih banyak lagi. Batin merana, menjerit mencari ketenangan. Tapi dunia yang menjadi sandaran ketenangan justru menjadikan manusia semakin risau penuh kekhatiran (khauf).
Di sinilah sesungguhnya Islam hadir untuk membawa ketenangan hakiki. Islam pada dirinya dan seluruh tatanannya sebagai jalan hidup terbangun di atas dasar kedamaian, ketenangan dan ketentraman. Situasi itu yang digambarkan dalam doa seorang Muslim di setiap akhir sholat:
"Allahumma Antas Salaam, wa minkas salam, wa ilaika ya'udus salaam."
Islam sendiri berasal dari kata "Salima" yang terdiri dari tiga huruf: Siim, Laam, Miim. Dari kata itu kemudian terlahir tiga kata pokok utama yang relevansinya dengan agama Islam. Ketiga kata utama itu adalah: Islaam (الاسلام) silmun (السلم) dan salaam (السلام). Ketiga kata ini menggambarkan secara totalitàs Islam sebagai tuntunan hidup.
Pertama, dari "Salima" tadi melahirkan kata Islaam. Kata ini terbentuk dengan tambahan alif di depan Aslama-Yuslimu-Islaam." Makna literal dari kata ini adalah berserah diri, menyerah, tunduk, patuh, dan yang semakna.
Kata Islaam disebutkan beberapa kali dalam Al-Quran. Satu di antaranya adalah sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah adalah Islaam. Pada aspek ini, Islam dimaknai sebagai pintu kebenaran. Kata Islaam (الاسلام) adalah pintu utama (main gate) untuk masuk ke dalam tatanan agama kebenaran. Sehingga yang masuk ke pintu tersebut adalah mereka yang telah mengimani. Jika belum mengimani maka seseorang itu tidak bisa dikategorikan masuk Islam.
Sehingga perintah-perintah keagamaan kepada orang-orang Islam pada gholibnya dimulai dengan seruan: "Wahai orang-orang yang beriman."
Lihat Juga :