Kisah Ibu dan Anak Australia Mendapatkan Hidayah Allah Taala
Selasa, 10 Januari 2023 - 05:15 WIB
loading...
Pada awalnya ia menggap Islam itu tidak lebih dari pada sebuah cerita lelucon. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Seorang ibu dan anak perempuannya mendapatkan hidayah Allah SWT memilih Islam setelah merasa ragu atas agama yang diyakininya selama ini. Keduanya pun mengubah nama Rasyidah dan Mahmudah.
"Mengapa saya memeluk Islam?" ujar Cecilia Mahmudah Cannolly, lalu bercerita. "Pertama-tama dan sebelum segala sesuatunya, saya ingin menyatakan bahwa saya memeluk agama Islam, karena ternyata bahwa saya adalah seorang Muslim dalam lubuk jiwa saya tanpa setahu saya."
Baca juga: Kisah Mualaf Bangsawan Inggris Lord Headly Al-Farooq
Dalam buku yang diterjemahkan Bachtiar Affandie berjudul "Mengapa Kami Memilih Islam" oleh Rabithah Alam Islamy Mekkah (PT Alma'arif, 1981) perempuan asal Autralia ini berkisah sudah sejak muda, ia telah kehilangan kepercayaan kepada agama Kristen.
"Sebabnya banyak," katanya. Dan yang terpenting ialah, katanya, kalau dirinya bertanya kepada orang-orang Kristen, baik tokoh-tokoh Gereja maupun orang-orang Kristen biasa, tentang sesuatu yang tidak jelas bagi dirinya mengenai ajaran-ajaran Gereja, ia selalu saja mendapat jawaban: "Nona tidak akan bisa menggali ajaran-ajaran Gereja, tapi nona wajib mempercayainya."
Menurutnya, waktu itu ia tidak mempunyai cukup keberanian untuk mengatakan kepada mereka: "Saya tidak bisa mempercayai sesuatu yang saya tidak mengerti."
Dan menurut hasil penelitian saya, tidak ada seorangpun di kalangan mereka yang menyebut dirinya orang Kristen yang mempunyai keberanian semacam itu.
Berikut penuturan Cecilia Mahmudah Cannolly selengkapnya sampai kemudian ia mendapat hidayah mendapatkan Islam.
Saya keluar dari Gereja Roma Katolik serta ajaran-ajarannya dan memantapkan ke-Imanan saya kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebab beriman kepada-Nya itu lebih mudah dari pada beriman kepada Tuhan Yang Tiga, seperti yang diajarkan oleh Gereja.
Dan berlawanan dengan ajaran-ajaran Gereja yang tidak bisa dimengerti itu, saya mulai menemukan kehidupan yang lebih luas, bebas dari segala dogma.
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Setiap kali saya menghadapkan muka, saya menemukan bukti-bukti kekuasaan Allah SWT pada makhluknya, dan saya --juga orang lain yang kecerdasannya lebih tinggi dari pada saya-- tidak bisa memahami segala mukjizat yang terjadi di bawah mata saya.
Saya tertegun memikirkan segala kejadian/keajaiban makhluk Allah: pohon-pohon, bunga-bunga, burung-burung dan hewan-hewan sampai anak-anak yang dilahirkan, semua itu saya rasa merupakan mukjizat yang maha gemilang. Tidak seperti yang diajarkan oleh Gereja.
"Mengapa saya memeluk Islam?" ujar Cecilia Mahmudah Cannolly, lalu bercerita. "Pertama-tama dan sebelum segala sesuatunya, saya ingin menyatakan bahwa saya memeluk agama Islam, karena ternyata bahwa saya adalah seorang Muslim dalam lubuk jiwa saya tanpa setahu saya."
Baca juga: Kisah Mualaf Bangsawan Inggris Lord Headly Al-Farooq
Dalam buku yang diterjemahkan Bachtiar Affandie berjudul "Mengapa Kami Memilih Islam" oleh Rabithah Alam Islamy Mekkah (PT Alma'arif, 1981) perempuan asal Autralia ini berkisah sudah sejak muda, ia telah kehilangan kepercayaan kepada agama Kristen.
"Sebabnya banyak," katanya. Dan yang terpenting ialah, katanya, kalau dirinya bertanya kepada orang-orang Kristen, baik tokoh-tokoh Gereja maupun orang-orang Kristen biasa, tentang sesuatu yang tidak jelas bagi dirinya mengenai ajaran-ajaran Gereja, ia selalu saja mendapat jawaban: "Nona tidak akan bisa menggali ajaran-ajaran Gereja, tapi nona wajib mempercayainya."
Menurutnya, waktu itu ia tidak mempunyai cukup keberanian untuk mengatakan kepada mereka: "Saya tidak bisa mempercayai sesuatu yang saya tidak mengerti."
Dan menurut hasil penelitian saya, tidak ada seorangpun di kalangan mereka yang menyebut dirinya orang Kristen yang mempunyai keberanian semacam itu.
Berikut penuturan Cecilia Mahmudah Cannolly selengkapnya sampai kemudian ia mendapat hidayah mendapatkan Islam.
Saya keluar dari Gereja Roma Katolik serta ajaran-ajarannya dan memantapkan ke-Imanan saya kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebab beriman kepada-Nya itu lebih mudah dari pada beriman kepada Tuhan Yang Tiga, seperti yang diajarkan oleh Gereja.
Dan berlawanan dengan ajaran-ajaran Gereja yang tidak bisa dimengerti itu, saya mulai menemukan kehidupan yang lebih luas, bebas dari segala dogma.
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Setiap kali saya menghadapkan muka, saya menemukan bukti-bukti kekuasaan Allah SWT pada makhluknya, dan saya --juga orang lain yang kecerdasannya lebih tinggi dari pada saya-- tidak bisa memahami segala mukjizat yang terjadi di bawah mata saya.
Saya tertegun memikirkan segala kejadian/keajaiban makhluk Allah: pohon-pohon, bunga-bunga, burung-burung dan hewan-hewan sampai anak-anak yang dilahirkan, semua itu saya rasa merupakan mukjizat yang maha gemilang. Tidak seperti yang diajarkan oleh Gereja.
Lihat Juga :