Tanah Arab Menghijau Pertanda Kiamat? Ini Kata Ustaz Adi Hidayat
Kamis, 19 Januari 2023 - 05:10 WIB
loading...
A
A
A
يَسۡـــَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِؕ قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُهَا عِنۡدَ اللّٰهِؕ وَمَا يُدۡرِيۡكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوۡنُ قَرِيۡبًا
Artinya: "Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah, "Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah." Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktunya." (QS Al-Ahzab ayat 63)
Banyak tafsir menjelaskan, ada orang yang mencoba mengolok-ngolok saja. Ada yang ingin mencari pengetahuan untuk menyiapkan diri. Tapi pada masa itu pertanyaan ini datang dari orang-orang yang ingkar (kaum musyrik) untuk mengolok-olok dan menantang hari Kiamat segera didatangkan.
Maka Allah menjawab pertanyaan ini dengan kalimat: قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُهَا عِنۡدَ اللّٰهِؕ yang artinya "Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah."
Sampaikan kepada mereka bahwa ilmu tentang hari Kimat itu adalah hak prerogatif Allah Ta'ala. Karena Kiamat itu tentang akhir kehidupan. Nabi hanya menjelaskan bagaimana cara menjalani kehidupan.
Di akhir hayat, Allah menegaskan: "Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktunya."
Maknanya kira-kira begini, "Terus kalau Kiamatnya semakin dekat apa manfaatnya buat kamu." Maksud ayat Al-Quran di atas sebenarnya, ada hal penting yang harus diperhatikan setiap manusia, apakah bekalnya sudah siap menghadapi hari Kiamat.
"Andaikan sekarang terjadi Kiamat, bekal Anda bagaimana? Atau Kiamat kecil datang seperti meninggal dunia, apakah sudah punya bekal. Artinya, jangan berpikir dulu yang besar-besar sehingga lupa dengan hal yang paling besar yaitu cara kita menjalani kehidupan," jelas UAH.
Karena itulah Al-Qur'an menuntun kita untuk fokus beramal saleh dan mengisi kehidupan dengan cara yang benar dan bermanfaat. Sehingga baik Kiamat terjadi besok, lusa atau saat ini pun, kita sudah siap dengan amal-amal terbaik untuk kembali kepada Allah.
Tanda Kiamat Kecil
Di antara tanda-tanda perjalanan masa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW perlu diriset agar kita mengetahui di posisi (fase) mana kita sekarang. Tujuannya agar kita bisa menyiapkan amal dan mengetahui apa saja tantangannya.
UAH menceritakan, Nabi pernah ditanya oleh Malaikat Jibril yang menyamar jadi manusia untuk membimbing manusia tentang perkara Islam, iman, ihsan. Semua dijawab Nabi dengan benar. Ketika Malaikat yang menyamar bertanya tentang kapan Kiamat terjadi, Nabi menjawab dengan sangat bijak: "Yang ditanya tidak lebih tahu dari pada yang bertanya."
Jawaban Nabi tersebut menegaskan bahwa Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah. Untuk memberi penjelasan kepada umatnya, Nabi diberi tahu oleh Allah tentang tanda-tandanya.
Di antara tanda-tanda kecilnya, budak (pembantu) melahirkan tuannya. Orang-orang Arab Badui berlomba-lomba meninggikan bangunan. Pasar kian mudah diakses. Waktu semakin terasa cepat. Fitnah meluas, manipulasi mulai marak. Berita bohong (hoaks) mulai bertebaran dan sebagainya.
"Setelah fase ini muncul banyak peperangan, karena orang tidak perduli lagi dengan ibadah. Ulama banyak meninggal dunia, tidak ada yang membimbing lagi. Manusia kehilangan pegangan akhirnya banyak kekacauan sehingga mencapai puncaknya terjadinya perang," terang UAH.
Artinya: "Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah, "Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah." Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktunya." (QS Al-Ahzab ayat 63)
Banyak tafsir menjelaskan, ada orang yang mencoba mengolok-ngolok saja. Ada yang ingin mencari pengetahuan untuk menyiapkan diri. Tapi pada masa itu pertanyaan ini datang dari orang-orang yang ingkar (kaum musyrik) untuk mengolok-olok dan menantang hari Kiamat segera didatangkan.
Maka Allah menjawab pertanyaan ini dengan kalimat: قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُهَا عِنۡدَ اللّٰهِؕ yang artinya "Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah."
Sampaikan kepada mereka bahwa ilmu tentang hari Kimat itu adalah hak prerogatif Allah Ta'ala. Karena Kiamat itu tentang akhir kehidupan. Nabi hanya menjelaskan bagaimana cara menjalani kehidupan.
Di akhir hayat, Allah menegaskan: "Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktunya."
Maknanya kira-kira begini, "Terus kalau Kiamatnya semakin dekat apa manfaatnya buat kamu." Maksud ayat Al-Quran di atas sebenarnya, ada hal penting yang harus diperhatikan setiap manusia, apakah bekalnya sudah siap menghadapi hari Kiamat.
"Andaikan sekarang terjadi Kiamat, bekal Anda bagaimana? Atau Kiamat kecil datang seperti meninggal dunia, apakah sudah punya bekal. Artinya, jangan berpikir dulu yang besar-besar sehingga lupa dengan hal yang paling besar yaitu cara kita menjalani kehidupan," jelas UAH.
Karena itulah Al-Qur'an menuntun kita untuk fokus beramal saleh dan mengisi kehidupan dengan cara yang benar dan bermanfaat. Sehingga baik Kiamat terjadi besok, lusa atau saat ini pun, kita sudah siap dengan amal-amal terbaik untuk kembali kepada Allah.
Tanda Kiamat Kecil
Di antara tanda-tanda perjalanan masa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW perlu diriset agar kita mengetahui di posisi (fase) mana kita sekarang. Tujuannya agar kita bisa menyiapkan amal dan mengetahui apa saja tantangannya.
UAH menceritakan, Nabi pernah ditanya oleh Malaikat Jibril yang menyamar jadi manusia untuk membimbing manusia tentang perkara Islam, iman, ihsan. Semua dijawab Nabi dengan benar. Ketika Malaikat yang menyamar bertanya tentang kapan Kiamat terjadi, Nabi menjawab dengan sangat bijak: "Yang ditanya tidak lebih tahu dari pada yang bertanya."
Jawaban Nabi tersebut menegaskan bahwa Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah. Untuk memberi penjelasan kepada umatnya, Nabi diberi tahu oleh Allah tentang tanda-tandanya.
Di antara tanda-tanda kecilnya, budak (pembantu) melahirkan tuannya. Orang-orang Arab Badui berlomba-lomba meninggikan bangunan. Pasar kian mudah diakses. Waktu semakin terasa cepat. Fitnah meluas, manipulasi mulai marak. Berita bohong (hoaks) mulai bertebaran dan sebagainya.
"Setelah fase ini muncul banyak peperangan, karena orang tidak perduli lagi dengan ibadah. Ulama banyak meninggal dunia, tidak ada yang membimbing lagi. Manusia kehilangan pegangan akhirnya banyak kekacauan sehingga mencapai puncaknya terjadinya perang," terang UAH.
Lihat Juga :