40 Sunnah Nabi di Bulan Ramadhan, Jangan Abaikan! (Bagian 8-Penutup)

loading...
40 Sunnah Nabi di Bulan Ramadhan, Jangan Abaikan! (Bagian 8-Penutup)
40 Sunnah Nabi di Bulan Ramadhan, Jangan Abaikan! (Bagian 8-Penutup)
Al-Habib Segaf bin Ali Alaydrus dalam kitabnya “Ithaful Ikhwan” merangkum 40 amalan sunnah-sunnah di bulan Ramadhan. Berikut akhir rangkumannya:

36. Memperbanyak Sedekah Sunnah memperbanyak sedekah baik dengan harta, makanan, pakaian atau lainnya. Nabi SAW pernah ditanya, “Sedekah apa yang paling utama?”. Beliau SAW menjawab: “Sedekah di bulan Ramadhaan.” (HR Turmudzi)

Imam Nawawi dalam kitab Majmu mengatakan, "Ulama Syafiiyah mengatakan, sunnah banyak memberi dan berderma di bulan Ramadhan dan lebih utama lagi di sepuluh hari terakhir untuk meneladani Rasulullah SAW dan para salaf. Juga karena ini adalah bulan mulia, kebaikan di bulan ini lebih utama dari selainnya. Selain itu, pada bulan ini banyak manusia sibuk dengan puasanya dan menambah ibadah dan meninggalkan pekerjaannya sehingga mereka butuh untuk dibantu dan ditolong." [Baca Juga: 40 Sunnah di Bulan Ramadhan, Jangan Abaikan! (Bagian 1) ]

37. Mengajarkan Anak-anak Berpuasa
Disunnahkan untuk memerintahkan anak-anak kecil baik lelaki maupun perempuan untuk berpuasa sehingga mereka akan terbiasa berpuasa jika sudah baligh. Para sahabat Nabi SAW biasa mengajak anak-anak mereka berpuasa.

Ketika ada seorang yang mabuk di bulan Ramadhan dan dihadapkan kepada Sayidina Umar RA untuk dihukum, Beliau RA mengingkari perbuatannya itu seraya berkata: “Celaka engkau..! (Engkau mabuk) padahal anak-anak kami berpuasa?” (HR Al-Bukhari)

38. Tidak Mengatakan Setelah Sempurna Puasa Ramadhan dan Tarawihnya
Tidak disunnahkan mengatakan, “Aku telah puasa sebulan penuh” atau mengucapkan: “Aku telah melaksanakan tarawih sebulan penuh”. Ucapan semacam ini dinilai bentuk memuji diri sendiri yang tercela.



Nabi SAW bersabda: “Jangan salah satu dari kalian mengatakan, “Aku telah berpuasa Ramadhan secara sempurna dan salat tarawih secara sempurna.” (HR Abu Dawud)

39. Puasa 6 Hari di Bulan Syawal
Disunnahkan bagi orang yang telah berpuasa Ramadhan untuk melanjutkan puasa enam hari di Bulan Syawal setelah Id. Nabi SAW menganjurkan puasa ini dan mengabarkan bahwa orang yang berpuasa enam hari di Bulan Syawal setelah Ramadhan seperti berpuasa setahun.

Ulama mengatakan kesunnahan puasa ini didapat baik dengan berpuasa enam hari berturut-turut atau terpisah-pisah di Bulan Syawal. Dan sama saja apakah puasa itu dilakukan langsung setelah hari Id atau dipisah beberapa hari. Tapi yang lebih utama hendaknya berpuasa langsung setelah hari Id secara berturut-turut.

40. Meninggalkan Maksiat dan Melakukan Taat
Orang yang berpuasa hendaknya melakukan ketaatan yang paling utama yaitu meninggalkan dosa dan maksiat. Hindari dosa yang kecil dan yang besar, yang zahir atau yang batin. Dikatakan bahwa ketaatan yang paling utama adalah meninggalkan maksiat.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Hati-hati di bulan Ramadhan sebab kebaikan-kebaikan di dalamnya dilipat-gandakan begitu pula keburukannya.” (HR Abu Qosim)

Secara umum hendaknya kaum muslim bersemangat melakukan semua amal saleh dan ketaatan dan memperbanyaknya. Di dalam hadis dikatakan: “Siapa yang melakukan satu kebaikan (sunnah) di dalamnya (Ramadhan) maka ia seperti orang yang melakukan amalan wajib di bulan lain. Dan siapa yang melakukan perbuatan wajib maka ia seperti orang yang melakukan tujuh puluh perbuatan wajib di bulan lain.” (HR Ibnu Khuzaimah). [Baca Juga: 40 Sunnah Nabi di Bulan Ramadhan, Jangan Abaikan! (Bagian 7) ]
(rhs)
cover top ayah
وَقُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ وَلۡيَـضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوۡبِهِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اٰبَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اٰبَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ اَوۡ مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيۡنَ غَيۡرِ اُولِى الۡاِرۡبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفۡلِ الَّذِيۡنَ لَمۡ يَظۡهَرُوۡا عَلٰى عَوۡرٰتِ النِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِاَرۡجُلِهِنَّ لِيُـعۡلَمَ مَا يُخۡفِيۡنَ مِنۡ زِيۡنَتِهِنَّ‌ ؕ وَتُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيۡعًا اَيُّهَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

(QS. An-Nur:31)
cover bottom ayah
preload video