Kisah Perempuan Salehah yang Berjihad Menafkahkan Hartanya

Selasa, 07 Mei 2019 - 16:14 WIB
Kisah Perempuan Salehah...
Kisah Perempuan Salehah yang Berjihad Menafkahkan Hartanya
A A A
Di antara tanda-tanda istri yang salehah adalah jika ia melakukan kesalahan terhadap suaminya, ia menyesal sekali dan segera meminta maaf dan memohon keridhoannya. Kesalahan itu ia sesali dan ia tangisi sepanjang hari, karena takut mendapat siksa dari Allah.

Tanda-tanda yang lain adalah misalnya, ia melihat suaminya sedang diliputi perasaan duka dan sedih, Maka ia menghibur, ”Kalau yang kamu sedihkan berhubungan dengan urusan akhirat, sesungguhnya hal itu sangat menguntungkan bagimu. Tetapi jika yang kau sedihkan berhubungan dengan urusan dunia, sama sekali aku tidak membebanimu dengan perkara yang berat. (Baca Juga: Larangan Berhias dan Berbusana Berlebihan Bagi Perempuan)

Dalam Kitab Uqudulijain yang dikarang Syekh Muhammad bin Umar An-Nawawi diceritakan kisah istri salehah yang berjuang di jalan Allah. Dikisahkan bahwa Rabi’ah binti Isma’il Asy Syamsiah, Seorang istri Ahmad bin Abu Al huwari, suatu hari memasak makanan yang enak. Masakan itu diberi campuran aroma yang harum.

Suami Rabi’ah juga mempunyai istri yang lain. Setelah masak dan menyantap makanan itu, Rabi’ah berkata pada suaminya: ”Pergilah kamu keistri yang lain dengan tenaga yang baru”.

Rabi’ah yang satu ini memang mirip dengan Waliyullah Rabi’ah Adawiyah yang berdomisili di Bashrah. Rabi’ah Asy Syamsiah ini setelah menunaikan salat ‘isya ia berdandan lengkap dengan busananya. Setelah itu baru mendekati tempat tidur suaminya. Ia tawarkan pada suaminya, ”Apakah malam ini kamu membutuhkan kehadiranku atau tidak”.

Jika suaminya sedang berhasrat untuk menggaulinya, maka ia melayaninya hingga puas. Jika malam itu suaminya sedang tidak berminat menggaulinya, maka ia menukar pakaian yang ia kenakan tadi dan berganti dengan pakaian lain yang digunakan untuk beribadah. Malam itu ia tenggelam di tempat salatnya hingga subuh.

Rabi’ah binti Isma’il Asy-Syamsiah bersuamikan Ahmad bin Abu Huwar itu memang dikehendaki Rabi’ah sendiri. Ia pula yang pertama-tama melamar Syeikh Ahmad agar berkenan memperistri dirinya.

Ceritanya demikian, Rabi’ah binti Ismail itu semula mempunyai suami yang kaya. Setelah kematiannya ia memperoleh harta waris yang sangat besar. Ia kesulitan menafkahkan harta itu mengingat ia seorang perempuan yang gerakannya terbata-bata. Ia pun bermaksud melamar Syeikh Ahmad dengan tujuan agar dapat menghibahkan hartanya demi kepentingan Islam dan diberikan kepada orang orang yang membutuhkan.

Rabi’ah binti Ismail memandang Syeikh Ahmad sebagai orang yang dapat menjalankan amanat, sementara Rabi’ah sendiri seorang yang adil.
Ketika mendapat lamaran dari Rabi’ah, Syeikh Ahmad berkat: ”Demi Allah, sesungguhnya aku tidak berminat lagi untuk menikah. Sebab aku ingin berkonsentrasi untuk beribadah”.

Rabi’ah menjawab: ”Syeikh Ahmad, sesungguhnnya kosentrasiku dalam beribadah adalah lebih tinggi dari pada kamu. Aku sendiri sudah memutuskan untuk tidak menikah lagi. Tetapi tujuanku menikah kali ini tidak lain adalah agar dapat menasarufkan (menghibahkan) harta kekayaan yang kumiliki kepada saudara muslim dan untuk kepentingan Islam sendiri. Akupun mengerti bahwa engkau itu orang yang saleh, tapi justru dengan begitu aku akan memperoleh keridhoan dari Allah SWT”.

Syeikh Ahmad berkata: ”Baiklah, tapi aku minta waktu, Aku hendak meminta izin dari Guruku”.

Lalu Syeikh Ahmad mengahadap gurunya, yakni Syeikh Abu Sulaiman Ad-Darani. Sebab gurunya itu dulu pernah melarang dirinya untuk menikah lagi. Katanya: ”Setiap orang yang menikah, sedikit atau banyak pasti akan terjadi perobahan atas dirinya”.

Tetapi setelah Abu Sulaiman mendapat penjelasan dari muridnya Syeikh Ahmad mengenai rencana Rabi’ah, ia berkata: ”Kalau begitu nikahilah ia. Karena perempuan itu seorang wali”.

Begitulah indahnya kisah perempuan salehah di mana Allah senantiasa menjaga mereka karena kemuliaan hatinya. Kisah-kisah serupa seperti kisah Rabi’ah Adawiyah itu sesunggguhnya cukup banyak. Lazimnya terjadi pada masa lalu, tetapi untuk masa sekarang hampir tidak pernah di jumpai, adanya seorang wanita yang bertingkah baik seperti mereka.
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Hikmah Ramadhan: Perempuan...
Hikmah Ramadhan: Perempuan Pezina yang Bertobat Akhirnya Disalatkan Nabi
Hikmah Ramadhan Mengontrol...
Hikmah Ramadhan Mengontrol Ketamakan
Kisah Sang Raja dan...
Kisah Sang Raja dan Pemuda yang Jujur
Kisah Sufi: Keperluan...
Kisah Sufi: Keperluan yang Kian Mendesak
Cerita Sufi: Si Tolol...
Cerita Sufi: Si Tolol dan Unta yang Sedang Makan Rumput
Dulu Haram Kini Halal:...
Dulu Haram Kini Halal: Niat Mencuri Malah Dapat Istri
Rekomendasi
Harta Karun Pembawa...
Harta Karun Pembawa Kutukan Paling Mematikan di Dunia
Fakta-Fakta Gecko Raksasa...
Fakta-Fakta Gecko Raksasa Delcourt, Tokek Terbesar yang Pernah Hidup Sepanjang Sejarah
Es Antartika Terus Mencair,...
Es Antartika Terus Mencair, Ilmuwan Ungkap Hal Menakutkan Ini
Artikel Terkini
Kisah Dakwah Nabi Muhammad...
Kisah Dakwah Nabi Muhammad di Gua Tsur, Pelajaran Besar dari Hijrah ke Madinah
Muslimah pun Perlu Berdakwah,...
Muslimah pun Perlu Berdakwah, Ini Peran Penting Wanita dalam Syiar Islam
Metode Dakwah Para Nabi:...
Metode Dakwah Para Nabi: Nabi Ibrahim Memulai dari Keluarga, Nabi Muhammad Meneladaninya
Dakwah di Media Sosial...
Dakwah di Media Sosial : Cara Menebar Kebaikan dan Meraih Pahala Jariyah
Tafsir Surat Al Kahfi...
Tafsir Surat Al Kahfi Ayat 1-10 : Siapa yang Rutin Membacanya akan Dilindungi dari Dajjal
Mengapa Al-Quran Tidak...
Mengapa Al-Qur'an Tidak Menyebut Dajjal? Ini Penjelasan dan Hikmah di Baliknya
Infografis
Abu Musa Jabir Bin Hayyan,...
Abu Musa Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved