Kisah Perempuan Salehah yang Berjihad Menafkahkan Hartanya

loading...
Kisah Perempuan Salehah yang Berjihad Menafkahkan Hartanya
Kisah Perempuan Salehah yang Berjihad Menafkahkan Hartanya
Di antara tanda-tanda istri yang salehah adalah jika ia melakukan kesalahan terhadap suaminya, ia menyesal sekali dan segera meminta maaf dan memohon keridhoannya. Kesalahan itu ia sesali dan ia tangisi sepanjang hari, karena takut mendapat siksa dari Allah.

Tanda-tanda yang lain adalah misalnya, ia melihat suaminya sedang diliputi perasaan duka dan sedih, Maka ia menghibur, ”Kalau yang kamu sedihkan berhubungan dengan urusan akhirat, sesungguhnya hal itu sangat menguntungkan bagimu. Tetapi jika yang kau sedihkan berhubungan dengan urusan dunia, sama sekali aku tidak membebanimu dengan perkara yang berat. (Baca Juga: Larangan Berhias dan Berbusana Berlebihan Bagi Perempuan)

Dalam Kitab Uqudulijain yang dikarang Syekh Muhammad bin Umar An-Nawawi diceritakan kisah istri salehah yang berjuang di jalan Allah. Dikisahkan bahwa Rabi’ah binti Isma’il Asy Syamsiah, Seorang istri Ahmad bin Abu Al huwari, suatu hari memasak makanan yang enak. Masakan itu diberi campuran aroma yang harum.

Suami Rabi’ah juga mempunyai istri yang lain. Setelah masak dan menyantap makanan itu, Rabi’ah berkata pada suaminya: ”Pergilah kamu keistri yang lain dengan tenaga yang baru”.



Rabi’ah yang satu ini memang mirip dengan Waliyullah Rabi’ah Adawiyah yang berdomisili di Bashrah. Rabi’ah Asy Syamsiah ini setelah menunaikan salat ‘isya ia berdandan lengkap dengan busananya. Setelah itu baru mendekati tempat tidur suaminya. Ia tawarkan pada suaminya, ”Apakah malam ini kamu membutuhkan kehadiranku atau tidak”.

Jika suaminya sedang berhasrat untuk menggaulinya, maka ia melayaninya hingga puas. Jika malam itu suaminya sedang tidak berminat menggaulinya, maka ia menukar pakaian yang ia kenakan tadi dan berganti dengan pakaian lain yang digunakan untuk beribadah. Malam itu ia tenggelam di tempat salatnya hingga subuh.

Rabi’ah binti Isma’il Asy-Syamsiah bersuamikan Ahmad bin Abu Huwar itu memang dikehendaki Rabi’ah sendiri. Ia pula yang pertama-tama melamar Syeikh Ahmad agar berkenan memperistri dirinya.



Ceritanya demikian, Rabi’ah binti Ismail itu semula mempunyai suami yang kaya. Setelah kematiannya ia memperoleh harta waris yang sangat besar. Ia kesulitan menafkahkan harta itu mengingat ia seorang perempuan yang gerakannya terbata-bata. Ia pun bermaksud melamar Syeikh Ahmad dengan tujuan agar dapat menghibahkan hartanya demi kepentingan Islam dan diberikan kepada orang orang yang membutuhkan.
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
وَاِنَّهٗ لَتَذۡكِرَةٌ لِّلۡمُتَّقِيۡنَ
Sesungguhnya, Al-Qur'an itu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

(QS. Al-Haqqah:48)
cover bottom ayah
preload video