Imam Shamsi Ali Sampaikan 5 Pesan Tahun Baru

loading...
Imam Shamsi Ali Sampaikan 5 Pesan Tahun Baru
Imam Shamsi Ali Sampaikan 5 Pesan Tahun Baru
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
Pendiri Pesantren Nur Inka Nusantara Madani USA


Pergantian tahun itu adalah bagian dari sunnah Allah dalam ciptaan-Nya (sunnatullah fil-kaun). Asal-usulnya karena semua yang ada di alam semesta mengalami pergerakan. Dan karenanya juga mengalami perubahan.

Dari detik ke menit, hari ke minggu, bulan ke tahun. Semua itu perubahan yang disunnahkan oleh Sang Psncipta alam semesta. Hakikat itu yang digambarkan dalam berbagai tempat di Kitab Suci. Dia antaranya: "Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi mereka yang berpikir".

Di bagian lain Allah menggambarkan pergerakan itu dengan "sibaahah" (berenang). "Dan semua (alam cosmos) bergerak pada porosnya masing-masing". (Yaasiin).

Oleh karena itu bergantinya tahun, apapun yang dipakai manusia, baik berdasar matahari (solar) atau bulan (lunar) secara substansi merupakan sunnatullah atau aturan Allah dalam mengatur perjalanan semesta.

Mengakhiri tahun 2019 dan memasuki tahun 2020 tentu banyak hal yang perlu kita ingatkan. Yang pasti tahun 2019 adalah tahun penuh gejolak dan keprihatinan. Tahun yang yang boleh jadi dalam pandangan sebagian sebagai tahun ketidak pastian (uncertainty).

Saya tidak bermaksud merinci kembali ragam darkness (suram) di tahun 2019 kemarin. Justru saya ingin mengajak kita semua untuk menatap hari ini dan esok dengan pandangan optimistis. Bahwa di ujung terowongan panjang itu ada sinar yang terang.

5 Pesan Tahun Baru
Saya mencoba merenung kembali kira-kira di mana letak titik-titik kelemahan (points of weakness) umat di tahun 2020 lalu sehingga harus melalui berbagai tantangan yang dahsyat itu. Saya menemukan beberapa hal. Tapi sekali lagi saya tidak tertarik merinci kembali kelemahan-kelemahan itu.

Justru saya ingin mencoba memberikan beberapa pesan memasuki tahun baru untuk umat ini. Semoga pesan-pesan ini menjadi bagian dari strategi yang baik dalam merespon titik-titik kelemahan umat di tahun 2020 ini.

1. Urgensi umat membangun ke syukur.
Syukur itu sebuah terminologi agama yang sederhana dan sangat populer. Tapi sesungguhnya esensi syukur justru bersentuhan dengan esensi agama sekaligus pilar kehidupan.

Agama semuanya bermuara kepada karakter syukur. Semua yang dipersembahkan secara agama (religiously devoted) bertujuan untuk menyampaikan kesyukuran kita kepada Pencipta langit dan bumi. Rasul bahkan menegaskan bahwa ibadah-ibadah yang beliau abdikan bertujuan: "Afalaa akuunu abdan syakuura (tidakkah saya seharusnya menjadi hamba yang bersyukur.

Dan karenanya sebagian ulama memahami kata 'ibadah' dalam ayat: "liya'buduun" sebagai "liyasykuruun".

Syukur juga merupakan esensi bahkan fondasi hidup manusia. Tanpa kemampuan bersyukur manusia tidak akan menemukan makna hidup. Sekaligus tidak akan menemukan kepuasan (kebahagiaan) hidup.

Tahun 2019 ditandai oleh kerakusan manusia (human greed). Kerakusan ini juga menjadikan manusia jauh dari menemukan kepuasan hidupnya. Dan karenanya manusia tidak pernah merasakan kebahagiaan dengan dunianya.

Ini pulalah yang menjadikan saya menyimpulkan bahwa tanpa syukur manusia akan terombang-ambing dalam kegersangan hidup, justru di saat bergelimang dengan kemajuan dunianya.

Khusus bagi umat Islam Indonesia, ada sesuatu yang harus disyukuri karena boleh jadi hal ini menjadi sangat unik bagi kita. Yaitu realita pembauran antara nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dalam kehidupan kita sebagai bangsa dan negara.

2. Umat ini harus mampu membangun mental baja.
Oleh karena kita hidup dalam dunia yang penuh goncangan, yang sejatinya itulah tabiat dunia, manusia diharapkan mampu melaluinya dengan stabilitas hidup. Jika tidak maka manusia akan terus terombang-ambling oleh hempasan ombak kehidupan itu.

Goncangan demi goncangan itu hanya mungkin dihadapi oleh mereka yang memang punya stabilitas mental. Yaitu mentalitas yang terhunjam kokoh bagaikan batu karang di tengah lautan yang dalam.

Mentalitas seperti itu yang tumbuh karena iman dan keyakinan sejatinya (yakinan shodiqa). Atau biasa diekspresikan dalam bahasa Al-Qur'an "ulaaika humul mukminuuna haqqa (mereka yang jujur dalam keimanan).

Maka memasuki tahun 2020 ini umat diharapkan membangun kejujuran dalam iman. Bukan iman yang dicurigai palsu. Selain memang tidak solid, juga tidak menampakkan 'terjemahan hidup' (aktualisasi) dalam bentuk karya-karya nyata.
halaman ke-1
preload video