Seluruh Bumi Hakikatnya Adalah Masjid

loading...
Seluruh Bumi Hakikatnya Adalah Masjid
Seluruh Bumi Hakikatnya Adalah Masjid
MASJID-masjid di seluruh dunia, termasuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, ditutup karena wabah virus corona atau Covid-19 . Kita tentu saja prihatin. Covid-19 telah mengubah segalanya. Salat jamaah ditiadakan. Salat Jumat juga begitu. Masjid dibuat sepi.

Azan sebagai penanda masuknya waktu salat memang tetap dikumandangkan dari masjid-masjid pada setiap awal waktu salat wajib. Hanya saja, ada perubahan lafal azan. Kalimat hayya alaṣh-ṣhalah (marilah kita salat) diganti dengan shallū fī riḥālikum (salatlah di kendaraan kalian) atau shallu fi buyutikum (salatlah kalian di rumah masing-masing). ( Baca juga: Gara-gara Covid-19, Kalimat Adzan Diubah Shallu fi Rihalikum )

Kini, umat Islam lebih banyak salat berjamaah di rumah mereka. Keramaian di masjid dipindah ke rumah. Tempat tinggal kaum muslimin menjadi semarak dengan alunan suara penghuninya yang membaca Al-Qur'an. Para suami menjadi imam salat bagi istri dan anak-anaknya. Masjid ada di mana-mana.

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) sudah bersabda,

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Seluruh bumi adalah masjid, kecuali kuburan dan tempat pemandian” (HR. Tirmidzi no. 317, Ibnu Majah no. 745, Ad Darimi no. 1390, dan Ahmad 3: 83. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Maknanya, kecuali kuburan dan kamar mandi, sujud boleh dilakukan di mana saja di tiap jengkal bumi yang kita pijaki. Apa yang dikatakan Nabi SAW tersebut juga menandakan pesan agung tentang ibadah yang selayaknya tidak dibatasi hanya oleh bentuk dan rupa ruang yang menjadi tempat kita bersujud.

Al-Hallaj dalam sebuah sajaknya pernah menggubah hadist Nabi tersebut melalui keindahan kata-katanya:

الأرض مسجد
فعل الخير فيها صلاة
المسح على رأس اليتيم صلاة
رفع الظلم عند المظلوم صلاة


Al ardhlu masjidun
Fi’lul khoir fiiha sholaatun
Almashu ala ro’si al yatiimi sholaatun
Rof’ul dhulmi ‘inda al madzluumin sholaatun

Bumi ini sejatinya masjid
Berlaku kebaikan merupakan salat
Mengusap-usap kepala anak yatim merupakan salat
Memerangi kezaliman yang dilakukan orang-orang zalim juga merupakan salat

Hadis dan sajak tersebut menjadi pengingat yang cukup tepat dalam situasi genting saat ini agar umat Islam bisa memahami lebih luas sekaligus dalam ketika memaknai konteks ibadah yang sesungguhnya. Sebab ibadah tidak melulu hanya perkara yang jasmani (mahdlah), tetapi ibadah juga mencakup yang ukhrawi (ghoiru mahdlah).

Ibadah tidak sekadar dituntut dilakukan dalam konteks sujud kepada Allah, tetapi berlaku baik kepada siapa-siapa atau apa-apa yang ada di muka bumi juga termasuk bentuk ibadah yang mesti kita hayati dan laksanakan.

Pakar Tafsir Al-Qur’an, Muhammad Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000), menjelaskan bahwa kata masjid terulang sebanyak 28 kali di dalam Al-Qur’an.

Dari segi bahasa, kata masjid terambil dari akar kata sajada-sujud, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan ta’dzim. Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat, adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna di atas.

Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan salat dinamakan masjid, yang artinya "tempat bersujud." Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat salat kaum Muslim. Tetapi, karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata. Karena itu Al-Qur’an surat Al-Jin ayat 18, misalnya, menegaskan bahwa:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, karena janganlah menyembah selain Allah sesuatu pun.” (QS Al-Jin: 18)

Selain itu, Quraish Shihab dalam buku yang sama juga mengemukakan bahwa Rasululullah SAW bersabda, “Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri.” (HR Bukhari dan Muslim melalui Jabir bin Abdullah).

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah SAW bersabda,

وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ

“Seluruh bumi dijadikan sebagai tempat salat dan untuk bersuci. Siapa saja dari umatku yang mendapati waktu salat, maka salatlah di tempat tersebut” (HR. Bukhari no. 438 dan Muslim no. 521).
halaman ke-1
cover top ayah
وَحُشِرَ لِسُلَيۡمٰنَ جُنُوۡدُهٗ مِنَ الۡجِنِّ وَالۡاِنۡسِ وَالطَّيۡرِ فَهُمۡ يُوۡزَعُوۡنَ (١٧) حَتّٰٓى اِذَاۤ اَتَوۡا عَلٰى وَادِ النَّمۡلِۙ قَالَتۡ نَمۡلَةٌ يّٰۤاَيُّهَا النَّمۡلُ ادۡخُلُوۡا مَسٰكِنَكُمۡ‌ۚ لَا يَحۡطِمَنَّكُمۡ سُلَيۡمٰنُ وَجُنُوۡدُهٗۙ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُوۡنَ‏ (١٨) فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنۡ قَوۡلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوۡزِعۡنِىۡۤ اَنۡ اَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ الَّتِىۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلٰى وَالِدَىَّ وَاَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًـا تَرۡضٰٮهُ وَاَدۡخِلۡنِىۡ بِرَحۡمَتِكَ فِىۡ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيۡنَ (١٩)
Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib. Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.

(QS. An-Naml Ayat 17-19)
cover bottom ayah
preload video