Dakwahtainment Ramadan

loading...
Dakwahtainment Ramadan
Dakwahtainment Ramadan
DAKWAH entertainment atau yang lebih populer disebut dengan istilah dakwahtainment kerap muncul saat bulan Ramadan. Dakwahtainment adalah program acara religi Islam dalam bentuk siaran ceramah, sinetron, variety show, talk show, dialog, features, dan lainnya yang dikemas sesuai standar broadcast televisi, yaitu menghibur dan menarik namun tidak menghilangkan esensi pesan dakwah itu sendiri.

Di bulan Ramadan, biasanya media penyiaran televisi dan radio berlomba-lomba menyajikan program acara bernuansa Islami. Tentu tidak mengherankan karena negeri ini dihuni oleh mayoritas muslim dan televisi telah menjadi bagian dari keseharian masyarakatnya. Sebuah survei menyebutkan, rata-rata 4,5 jam dalam sehari, masyarakat Indonesia menonton televisi. Bahkan, di bulan Ramadan, kecenderungan jauh lebih banyak waktu yang diluangkan untuk menonton televisi.

Hasil pemantauan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Tengah sampai sepuluh hari pertama Ramadan, terdapat setidaknya 51 program acara khusus Ramadan yang ditayangkan oleh televisi nasional dan lokal. Dari penilaian penulis, secara keseluruhan program acara Ramadan tahun ini sudah jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Tren positif siaran Ramadan ini tidak terlepas dari semakin meningkatnya selera masyarakat akan hiburan yang berkualitas. Selain itu, kontrol Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan KPI Daerah di setiap provinsi serta lembaga keagamaan seperti MUI, NU, Muhammadiyah juga ikut berperan dalam memberikan kritik dan masukan bagi para perancang program dan pendakwah di televisi.

Tontonan dan Tuntunan
Televisi sebagai media dakwah yang efektif harus terus didorong agar menyajikan terobosan program-program religi yang baik. Untuk mendesain program acara dakwah yang menghibur, menarik, dan berkualitas memang tidak mudah. Berbeda dengan dakwah di majelis, pelaku dakwah di media penyiaran (khususnya televisi) tidak tunggal. Selain pendakwah, kesuksesan acara dakwah juga ditopang oleh tim kreatif, kameramen, penata busana, penata cahaya, penata sound system, dan faktor pendukung lainnya.

Meski bukan persoalan mudah, namun mendesain dakwahtainment harus dijadikan tantangan. Tidak sedikit program dakwah yang sukses. Sebut saja sepeti "Hafiz Indonesia" di RCTI, "Damai Indonesiaku" di TVONE, "Kurma" di Kompas TV, "Mamah dan Aa Beraksi" di Indosiar, mendapat respons yang baik dari pemirsa dan pengiklan. Fakta tersebut menandakan bahwa masyarakat terus menantikan program dakwahtainment lainnya dan ini merupakan peluang bisnis yang menjanjikan bagi para pelaku kreatif media televisi.

Terbukanya peluang dakwah melalui televisi seharusnya memanggil para kiai, dai, ilmuwan Islam, masyarakat pesantren, dan elemen umat Islam lainnya untuk turun tangan membuat program dakwahtainment. Apalagi, selama ini pemilik media televisi mengeluhkan minimnya ide-ide kreatif untuk membuat program acara dakwahtainment. Dengan memberikan kontribusi langsung dari kalangan pemuka agama yang paham betul ajaran Islam, diharapkan nilai-nilai Islam yang disampaikan melalui program dakwahtainment tidak keliru.

Idealnya, program Ramadan adalah program acara dengan konten yang mendukung kekhusyukan umat Islam dalam menjalankan ibadah Ramadan. Ajaran Islam yang disampaikan tidak mengedepankan perbedaan tetapi persamaan. Pesan dakwah harus berorientasi pada ajaran Islam universal agar bisa diterima semua pihak. Nilai-nilai Islam disampaikan secara bijak, menarik, agar dawahtainment bisa jadi tontonan sekaligus tuntunan.

Selain televisi, radio juga dituntut kreatif menghadirkan dakwahtainment dalam susunan pola acaranya. Dengan kekuatan "theatre of mind" siaran di radio mampu menciptakan imajinasi yang menggoda rasa penasaran pendengar. Dakwah di radio dengan kekuatan audio, warna bunyi tertentu, intonasi dan aksentuasi dalam teknik ceramah seorang dai akan memberikan kesan yang berbeda dan mendalam.

Masyarakat tentu berharap dakwahtainment melalui televisi maupun radio diharapkan akan terus berkembang. Bahkan, di bulan-bulan setelah Ramadan pun diharapkan program acara religi terus dipertahankan. Kuncinya adalah kesadaran pemilik dan pengelola media penyiaran untuk tidak sekadar mengejar keuntungan secara materi tetapi juga ada prioritas sosial dan ukhrowi. (*)

Asep Cuwantoro,
Komisioner KPID Provinsi Jateng
(zik)
preload video