Surat Al-Araf Ayat 145 dan 154, tentang 10 Firman dan Taurat

Kamis, 02 Februari 2023 - 17:32 WIB
Kemudian, menurut Kitab Keluaran 34, dipahat dua loh lagi yang memuat Decalogue lain (ayat-ayat 13-28) dan yang dinamakan wet dari Perjanjian.

Pada tahun 444 SM dimaklumatkanlah dan diterima Torat (wet) yang disusun pada masa Pembuangan di Babil (Babylon) dan yang dikatakannya dari Musa, termasuk pada saduran-saduran dari Sepuluh Firman.

Adalagi satu saduran dari Sepuluh Firman atas suatu yang dikenal sebagai Nash Papyrus dan bertarikh kira-kira tahun 100 SM. Perbedaan-perbedaannya tidak seberapa besar.

Baca juga: Kembalinya Nabi Musa dan Prediksi Fir'aun

Menurut Tharick Chehab, timbullah pertanyaan Sepuluh Firman yang mana sebetulnya ditulis Musa? Autographa dari Sepuluh Firman dan kitab-kitab tersebut di atas, yakni naskah yang ditulis semula, tidak ada.

Hanya terdapat codices, ialah salinan dari salinan dari salinan kuna. Hal ini tidak mengherankan, karena pada tahun 586 SM. Mesjid Al-Aqsa dibakar habis oleh Bukhtanasser (Nebukadnezar) dan pada tahun 70 M oleh Titus. Awam yang buta huruf tidak memiliki senaskah pun.

Tharick Chehab mengatakan banyak persamaan terdapat antara undang-undang yang disusun pada masa Pembuangan di Babylon (568 SM-538 SM) dan yang dikatakannya berasal dari Musa, dengan Code yang lebih tua yakni dari Hammurabi, raja Babylon yang hidup kira-kira tahun 1.800 SM.

Hammurabi adalah orang Arab-Mutarriba (Arabes Secondaires). Code ini ditemukan di Susa (=Persepolis, kini Takht-i-Jamshid) oleh J. de Morgan pada tahun 1901/1902.

Dari banyaknya pertentangan, perbedaan dan fakta-fakta tersebut para sarjana, baik Yahudi maupun Kristen, seperti di abad XII rabbani (rabbi) Ibn Ezra, di abad XVII Baruch Spinoza, kemudian Goethe, Graf, Julius Wellhausen dan sebagainya, telah menolak mitos bahwa Bijbel, dalam kasus Sepuluh Firman, adalah kalam Allah, di samping mengakui bahwa Code Moral itu adalah amat hebat yang disusun oleh orang-orang yang bermaksud baik.

Baca juga: Membaca Misi Suci Nabi Musa AS

Menurut Tharick Chehab, apa yang merupakan teka-teki bagi para scholar, merupakan tantangan bagi theolog kaum fundamentalism yang berdasar atas "Sola Scriptura (Hanya Bijbel)." Mereka senantiasa berusaha membela keganjilan-keganjilan dengan tafsiran yang berbelit-belit.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!