Kembalinya Nabi Musa dan Prediksi Fir'aun

loading...
Kembalinya Nabi Musa dan Prediksi Firaun
Nabi Musa adalah satu-satunya orang yang sanggup dan berani menentang serta mengkritik kebijakan dan kekuasaan Firaun. Foto ilustrasi/dok moeslimchoice
Ustaz Miftah el-Banjary
Pengkaji Egyptology, Sejarah dan Tafsir Al-Qur'an

Di dalam berbagai literatur tafsir dijelaskan bahwa sekembalinya Nabi Musa 'alaihissalam ke negeri Mesir, orang-orang Bani Israel menyambut dengan penuh suka cita. Betapa tidak, Nabi Musa begitu sangat dirindukan, sebab kepergian beliau lebih dari 30 tahun lamanya, meninggalkan kesan mendalam bagi perjuangan mereka memperoleh keadilan dari rezim penguasa.

Hanya Nabi Musa satu-satunya orang yang sanggup dan berani menentang serta mengkritik kebijakan dan kekuasaan Fir'aun . Sebab, bagi Musa menilai apa pun yang menyengserakan rakyat haruslah dibela dan diperjuangkan. (Baca Juga: Membaca Misi Suci Nabi Musa )

Namun, keberanian Nabi Musa akhirnya dikekang oleh sebuah kasus yang dipidanakan atas tuduhan pembunuhan seorang tentara kerajaan yang sejatinya. Padahal dalam kasus itu tidak pernah ada pengadilan yang memutuskan Nabi Musa bersalah.

Lagipula, sikap Nabi Musa hanya dalam posisi membela diri sekaligus membela pihak yang terzalimi dari kekesewenangan pihak istana terhadap kaumnya Bani Israel. Nabi Musa terpaksa meninggalkan Mesir dan bersembunyi di Madyan selama berpuluh tahun lamanya. Hingga tiba waktunya yang tepat bagi Nabi Musa untuk kembali mengemban amanah terbesar membimbing umat dan meluruskan kekeliruan penguasa.



Manakala tersebar berita kedatangan Nabi Musa , pada awalnya pihak penguasa hanya memandang sepele saja. Mereka menganggap kekuatan Musa hanyalah sejumlah kelompok kecil saja. "Jumlah mereka tidak banyak!" Begitulah kira-kira komentar mereka.

Bagi mereka siapalah Musa , selain kriminil yang pernah melarikan diri ke luar Mesir dan sekembalinya tidak akan membuat manfaat apa pun bagi Fir'aun dan rakyat Bani Israel, selain hanya akan membuat kegaduhan saja. (Baca Juga: Kisah Nabi Musa dan Kebinasaan Firaun )

Bahkan, sebagian elit para penguasa menyatakan banyak sekali opini serta narasi yang merendahkan Musa, sebagaimana ucapan mereka yang diabadikan oleh Al-Qur'an :

إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ

Fir'aun berkata: "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) itu benar-benar golongan kecil (lagi hina)". [QS. Asyura 54]

"Sesungguhnya Bani Israil yang lari bersama Musa hanyalah golongan manusia yang hina lagi kecil jumlahnya. Dan sesungguhnya mereka telah memenuhi hati kita dengan kemurkaan, lantaran mereka menyelisihi keyakinan kita, dan pergi tanpa seizin kami. Dan sesungguhnya kami adalah golongan yang terjaga dan siap menghadapi mereka."

Tetapi faktanya, ternyata tidak demikian. Tak dinyana, perindu dan pendukung Musa sangat membludak di luar dugaan pihak penguasa.

Pahit melihat kenyaatan yang ada, mereka geram. Namun, ternyata itu bukan akhir dari episode panjang, melainkan barulah episode sejarah yang baru akan dimulai.

Akhirnya, kecaman, tudingan, fitnahan, kemarahan, pun mulai diarahkan, bukan saja pada sosok Nabi Musa semata yang dianggap seorang mantan kriminal yang membawa segudang permasalahan dan pemicu kegaduhan, tetapi juga pada para pendukungnya.

Begitulah Al-Qur'an bertutur tentang sejarah, bukan semata cerita masa lalu. Bahkan sejarah masa lalu bisa saja berulang di masa sekarang. Semoga Kisah Nabi Musa dan Fir'aun ini menjadi hikmah dan iktibar bagi kita. Aamiin.

(Baca Juga: Penyebab Mulut Fir'aun Menganga Ketika Mati )
Kembalinya Nabi Musa dan Prediksi Fir'aun

Ustaz Miftah El-Banjary

Wallahu A'lam
(rhs)
cover top ayah
شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الۡهُدٰى وَالۡفُرۡقَانِۚ فَمَنۡ شَهِدَ مِنۡكُمُ الشَّهۡرَ فَلۡيَـصُمۡهُ ؕ وَمَنۡ کَانَ مَرِيۡضًا اَوۡ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنۡ اَيَّامٍ اُخَرَؕ يُرِيۡدُ اللّٰهُ بِکُمُ الۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيۡدُ بِکُمُ الۡعُسۡرَ وَلِتُکۡمِلُوا الۡعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمۡ وَلَعَلَّکُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

(QS. Al-Baqarah:185)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!