Ini Tokoh yang Makamnya Dimuliakan Sultan Muhammad Al-Fatih
Jum'at, 17 Juli 2020 - 05:00 WIB
Rasulullah mengambil sepotong gulai kambing, kemudian diletakkannya di atas sebuah roti yang belum dipotong. Kata beliau, “Hai Abu Ayyub! Tolong antarkan ini kepada Fatimah. Sudah beberapa hari ini dia tidak mendapat makanan seperti ini.”
Baca juga: Murtad dan Penolakan Membayar Zakat Pascawafatnya Rasulullah
Selesai makan, dengan air mata beliau yang mengalir ke pipi. “Roti, daging, kurma kering, kurma basah, dan kurma setengah masak,” ujar Rasulullah. “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya! Sesungguhnya beginilah nikmat yang kalian minta nanti di hari kiamat. Maka apabila kalian memperoleh yang seperti in bacalah ‘basmalah’ lebih dahulu sebelum kalian makan. Bila sudah kenyang, baca tahmid, ‘segala puji bagi Allah yang telah mengenyangkan kami dan memberi kami nikmat’.”
Kemudian Rasulullah SAW bangkit hendak pulang. Beliau berkata kepada Abu Ayyub, ‘Datanglah besok ke rumah kami!”
Baca juga: Erdogan: Hagia Sophia Adalah Urusan Dalam Negeri Turki!
Sudah menjadi kebiasaan bagi Rasulullah, apabila seseorang berbuat baik kepadanya, beliau segera membalas dengan yang lebih baik. Tetapi Abu Ayyub tidak mendengar perkataan Rasulullah kepadanya.
Lalu Umar menjelaskan, “Rasulullah menyuruh Anda datang besok ke rumahnya.”
“Ya, saya patuhi setiap perintah Rasulullah,” jawab Abu Ayyub.
Baca juga: Erdogan: Jadi Masjid, Salat Pertama di Hagia Sophia 24 Juli
Keesokan harinya Abu Ayyub datang ke rumah Rasulullah. Beliau memberi Abu Ayyub seorang gadis kecil untuk pembantu rumah tangga. “Perlakukanlah anak ini dengan baik, hai Abu Ayyub! Selama dia di tangan kami, saya lihat anak ini baik,” ujar Kata Rasulullah.
Abu Ayyub pulang ke rumahnya membawa seorang gadis kecil. “Untuk siapa ini?” tanya istrinya.
“Untuk kita. Anak kita diberikan Rasulullah kepada kita,” jawab Abu Ayyub.
“Hargailah pemberian Rasulullah. Perlakukan anak ini lebih daripada sekadar suatu pemberian,“ kata sang istri.
Baca juga: Sebelum Kenabian, Sepupu Umar bin Khattab Sudah Berakidah Tauhid
“Memang! Rasulullah berpesan supaya kita bersikap baik terhadap anak ini,” kata Abu Ayyub.
“Bagaimana selayaknya sikap kita terhadap anak ini, supaya pesan beliau terlaksana?” tanya istrinya.
“Demi Allah! Saya tidak melihat sikap yang lebih baik, melainkan memerdekakannya,” jawab Abu Ayyub.
Sang istri pun memuji suaminya. “Engkau benar-benar mendapat hidayah Allah,” ujarnya. Mereka pun merdekakan gadis kecil itu.
Baca juga: Turki Akan Tutup Mosaik Hagia Sophia Selama Salat
Sahid
Sepanjang hayatnya Abu Ayyub hidup dalam peperangan. Sehingga dikatakan orang, “Abu Ayyub tidak pernah absen dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin sejak masa Rasulullah sampai dia wafat di masa pemerintahan Mu‘awiyah. Kecuali bila dia sedang bertugas dengan suatu tugas penting yang lain.’’ (Baca juga: Hagia Sophia dan Masjid-Masjid yang Menjadi Gereja )
Peperangan terakhir yang ikutinya, ialah ketika Mu’awiyah mengerahkan tentara muslimin merebut kota Konstantinopel. Abu Ayyub seorang prajurit yang patuh dan setia.
Ketika itu dia telah berusia lebih delapan puluh tahun. Suatu usia yang boleh dikatakan sangat tua. Tetapi usia tidak menghalanginya untuk bergabung dengan tentara muslimin di bawah bendera Yazid bin Mu’awiyah. (Baca juga: Menyikapi Hagia Sofia dengan Bijak (1) )
Dia tidak menolak mengarungi laut, membelah ombak untuk berperang fi sabilillah. Tetapi belum berapa lama dia berada di medan tempur menghadapi musuh, Abu Ayyub jatuh sakit. Beliau terpaksa istirahat di perkemahan, tidak dapat melanjutkan peperangan karena fisiknya sudah lemah.
Ketika Yazid mengunjungi Abu Ayyub yang sakit, panglima ini bertanya, “Adakah sesuatu yang Anda kehendaki, hai Abu Ayyub?” (Baca juga: Jalan Panjang Konstantinopel, Hagia Shophia, dan Muhammad Al-Fatih )
“Tolong sampaikan salam saya kepada seluruh tentara muslimin. Katakan kepada mereka, Abu Ayyub berpesan supaya kalian semuanya terus maju sampai ke jantung daerah musuh. Bawalah saya beserta kalian. Kalau saya mati, kuburkan saya dekat pilar kota Konstantinopel!” ujarnya.
Tidak lama sesudah ia berkata demikian, Abu Ayyub menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dia wafat menemui Tuhannya di tengah-tengah kancah pertempuran. Tentara muslimin memperkenankan keinginan sahabat Rasulullah yang mulia ini.
Baca juga: Toleransi Islam di Hagia Sophia: Simbol-Simbol Gereja itu Tetap Utuh
Mereka berperang dengan gigih, menghalau musuh dari satu medan ke medan tempur yang lain. Sehingga akhirnya mereka berhasil mencapai pilar-pilar kota Konstantinopel, sambil membawa jenazah Abu Ayyub.
Dekat sebuah pilar kota Konstantinopel mereka menggali kuburan, lalu mereka makamkan jenazah Abu Ayyub di sana, sesuai dengan pesan beliau. (Baca juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah)
Baca juga: Murtad dan Penolakan Membayar Zakat Pascawafatnya Rasulullah
Selesai makan, dengan air mata beliau yang mengalir ke pipi. “Roti, daging, kurma kering, kurma basah, dan kurma setengah masak,” ujar Rasulullah. “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya! Sesungguhnya beginilah nikmat yang kalian minta nanti di hari kiamat. Maka apabila kalian memperoleh yang seperti in bacalah ‘basmalah’ lebih dahulu sebelum kalian makan. Bila sudah kenyang, baca tahmid, ‘segala puji bagi Allah yang telah mengenyangkan kami dan memberi kami nikmat’.”
Kemudian Rasulullah SAW bangkit hendak pulang. Beliau berkata kepada Abu Ayyub, ‘Datanglah besok ke rumah kami!”
Baca juga: Erdogan: Hagia Sophia Adalah Urusan Dalam Negeri Turki!
Sudah menjadi kebiasaan bagi Rasulullah, apabila seseorang berbuat baik kepadanya, beliau segera membalas dengan yang lebih baik. Tetapi Abu Ayyub tidak mendengar perkataan Rasulullah kepadanya.
Lalu Umar menjelaskan, “Rasulullah menyuruh Anda datang besok ke rumahnya.”
“Ya, saya patuhi setiap perintah Rasulullah,” jawab Abu Ayyub.
Baca juga: Erdogan: Jadi Masjid, Salat Pertama di Hagia Sophia 24 Juli
Keesokan harinya Abu Ayyub datang ke rumah Rasulullah. Beliau memberi Abu Ayyub seorang gadis kecil untuk pembantu rumah tangga. “Perlakukanlah anak ini dengan baik, hai Abu Ayyub! Selama dia di tangan kami, saya lihat anak ini baik,” ujar Kata Rasulullah.
Abu Ayyub pulang ke rumahnya membawa seorang gadis kecil. “Untuk siapa ini?” tanya istrinya.
“Untuk kita. Anak kita diberikan Rasulullah kepada kita,” jawab Abu Ayyub.
“Hargailah pemberian Rasulullah. Perlakukan anak ini lebih daripada sekadar suatu pemberian,“ kata sang istri.
Baca juga: Sebelum Kenabian, Sepupu Umar bin Khattab Sudah Berakidah Tauhid
“Memang! Rasulullah berpesan supaya kita bersikap baik terhadap anak ini,” kata Abu Ayyub.
“Bagaimana selayaknya sikap kita terhadap anak ini, supaya pesan beliau terlaksana?” tanya istrinya.
“Demi Allah! Saya tidak melihat sikap yang lebih baik, melainkan memerdekakannya,” jawab Abu Ayyub.
Sang istri pun memuji suaminya. “Engkau benar-benar mendapat hidayah Allah,” ujarnya. Mereka pun merdekakan gadis kecil itu.
Baca juga: Turki Akan Tutup Mosaik Hagia Sophia Selama Salat
Sahid
Sepanjang hayatnya Abu Ayyub hidup dalam peperangan. Sehingga dikatakan orang, “Abu Ayyub tidak pernah absen dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin sejak masa Rasulullah sampai dia wafat di masa pemerintahan Mu‘awiyah. Kecuali bila dia sedang bertugas dengan suatu tugas penting yang lain.’’ (Baca juga: Hagia Sophia dan Masjid-Masjid yang Menjadi Gereja )
Peperangan terakhir yang ikutinya, ialah ketika Mu’awiyah mengerahkan tentara muslimin merebut kota Konstantinopel. Abu Ayyub seorang prajurit yang patuh dan setia.
Ketika itu dia telah berusia lebih delapan puluh tahun. Suatu usia yang boleh dikatakan sangat tua. Tetapi usia tidak menghalanginya untuk bergabung dengan tentara muslimin di bawah bendera Yazid bin Mu’awiyah. (Baca juga: Menyikapi Hagia Sofia dengan Bijak (1) )
Dia tidak menolak mengarungi laut, membelah ombak untuk berperang fi sabilillah. Tetapi belum berapa lama dia berada di medan tempur menghadapi musuh, Abu Ayyub jatuh sakit. Beliau terpaksa istirahat di perkemahan, tidak dapat melanjutkan peperangan karena fisiknya sudah lemah.
Ketika Yazid mengunjungi Abu Ayyub yang sakit, panglima ini bertanya, “Adakah sesuatu yang Anda kehendaki, hai Abu Ayyub?” (Baca juga: Jalan Panjang Konstantinopel, Hagia Shophia, dan Muhammad Al-Fatih )
“Tolong sampaikan salam saya kepada seluruh tentara muslimin. Katakan kepada mereka, Abu Ayyub berpesan supaya kalian semuanya terus maju sampai ke jantung daerah musuh. Bawalah saya beserta kalian. Kalau saya mati, kuburkan saya dekat pilar kota Konstantinopel!” ujarnya.
Tidak lama sesudah ia berkata demikian, Abu Ayyub menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dia wafat menemui Tuhannya di tengah-tengah kancah pertempuran. Tentara muslimin memperkenankan keinginan sahabat Rasulullah yang mulia ini.
Baca juga: Toleransi Islam di Hagia Sophia: Simbol-Simbol Gereja itu Tetap Utuh
Mereka berperang dengan gigih, menghalau musuh dari satu medan ke medan tempur yang lain. Sehingga akhirnya mereka berhasil mencapai pilar-pilar kota Konstantinopel, sambil membawa jenazah Abu Ayyub.
Dekat sebuah pilar kota Konstantinopel mereka menggali kuburan, lalu mereka makamkan jenazah Abu Ayyub di sana, sesuai dengan pesan beliau. (Baca juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah)
(mhy)
Lihat Juga :