Ini Tokoh yang Makamnya Dimuliakan Sultan Muhammad Al-Fatih
Jum'at, 17 Juli 2020 - 05:00 WIB
“Tenang sajalah, hai Abu Ayyub. Saya lebih suka bertempat tinggal di bawah, karena akan banyak tamu yang datang berkunjung,” hibur Rasulullah.
Baca juga: Kisah Persembunyian di Gua Tsur dan Bukti Cinta Abu Bakar
Akhirnya Abu Ayyub mengikuti kemauan Rasulullah. Pada suatu malam yang dingin, bejana pecah di tingkat atas, sehingga airnya tumpah. Kain lap hanya ada sehelai, terpaksalah air dikeringkan baju. “Kami sangat khawatir kalau air mengalir ke tempat Rasulullah. Saya dan istri bekerja keras mengeringkan air sampai habis,” tutur Abu Ayyub berkisah.
Setelah hari subuh, ia pergi menemui Rasulullah. “Sungguh mati, saya segan bertempat tinggal di atas, sedangkan Rasulullah tinggal di bawah,” ujarnya kepada Rasulullah.
Kemudian Abu Ayyub menceritakan kepada beliau perihal bejana yang pecah itu. Mendengar cerita itu, akhirnya Rasulullah memperkenankan pasangan suami istri ini pindah ke bawah dan beliau pindah ke atas.
Baca juga: Beda Haluan Politik antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar
Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub kurang lebih tujuh bulan. Setelah masjid Rasulullah selesai dibangun, beliau pindah ke kamar-kamar yang dibuatkan untuk beliau dan para isteri beliau di sekitar masjid.
Sejak pindah, Rasulullah menjadi tetangga dekat bagi Abu Ayyub. Rasulullah sangat menghargai suami isteri ini sebagai tetangga yang baik. Abu Ayyub mencintai Rasulullah sepenuh hati. Sebaliknya beliau mencintainya pula, sehingga mereka saling membantu setiap kesusahan masing-masing.
Baca juga: Akhlak Umar bin Khattab dan Kesedihannya Ketika Nabi Wafat
Rasulullah memandang rumah Abu Ayyub seperti rumah sendiri. Pada suatu hari di tengah hari yang amat panas, Abu Bakar pergi ke masjid, lalu bertemu dengan ‘Umar bin Khattab. “Hai, Abu Bakar! Mengapa Anda keluar di saat panas begini?” tanya Umar.
“Saya lapar!” jawab Abu Bakar.
“Demi Allah! Saya juga lapar,” sambut Umar pula.
Ketika mereka sedang berbincang begitu, tiba-tiba Rasulullah muncul. “Hendak ke mana kalian di saat panas begini?” tanya Rasulullah.
“Demi Allah! Kami mencari makanan karena lapar,” jawab mereka.
Baca juga: Kisah Aswad al-Ansi, Nabi Palsu yang Sempat Menguasai Yaman )
“Demi Allah yang jiwaku di tangan Nya! Saya juga lapar. Nah! Marilah ikut saya,” ujar Rasulullah kemudian.
Mereka bertiga berjalan bersama-sama ke rumah Abu Ayyub Al-Anshary. Biasanya Abu Ayyub selalu menyediakan makanan setiap hari untuk Rasulullah. Bila beliau terlambat atau tidak datang, makanan itu dihabiskan oleh keluarga Abu Ayyub.
Setelah mereka tiba di pintu, Ibu Ayyub keluar menyongsong mereka. “Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!” sambutnya.
Baca juga: Kasus Khalid bin Walid, Cara Pandang Umar dan Abu Bakar
“Kemana Abu Ayyub?” tanya Rasulullah. Ketika itu Abu Ayyub sedang bekerja di kebun kurma dekat rumah. Mendengar suara Rasulullah, dia bergegas menemui beliau. “Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!” kata Abu Ayyub.
Abu Ayyub langsung menyambung bicaranya, “Ya, Nabiyallah! Tidak biasanya Anda datang pada waktu seperti sekarang.
“Betul, hai Abu Ayyub!” jawab Rasulullah.
Abu Ayyub kembali pergi ke kebun, lalu dipotongnya setandan kurma. Dalam setandan itu terdapat kurma yang sudah kering, yang basah, dan yang setengah masak. Kata Rasulullah, “Saya tidak menghendaki engkau memotong kurma setandan begini. Alangkah baiknya jika engkau petik saja yang sudah kering.”
Baca juga: Dia Abdul Ka'bah yang Mengurus Masalah Penebusan Darah
“Ya, Rasulullah! Saya senang jika Anda suka mencicipi buah kering, yang basah, dan yang setengah masak. Sementara itu saya sembelih kambing untuk Anda bertiga,” jawab Abu Ayyub,
“Jika engkau menyembelih, jangan disembelih kambing yang sedang menyusui,” nasehat Rasulullah.
Abu Ayyub lalu menangkap seekor kambing, lalu disembelihnya. Dia meminta kepada istrinya untuk membuat adonan roti. “Engkau lebih pintar membuat roti,” katanya.
Baca juga : Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid demi Selamatkan Tauhid Umat
Abu Ayyub membagi dua sembelihannya. Separuh digulainya dan separuh lagi dipanggangnya. Setelah masak, maka dihidangkannya ke hadapan Rasulullah dan sahabat beliau.
Baca juga: Kisah Persembunyian di Gua Tsur dan Bukti Cinta Abu Bakar
Akhirnya Abu Ayyub mengikuti kemauan Rasulullah. Pada suatu malam yang dingin, bejana pecah di tingkat atas, sehingga airnya tumpah. Kain lap hanya ada sehelai, terpaksalah air dikeringkan baju. “Kami sangat khawatir kalau air mengalir ke tempat Rasulullah. Saya dan istri bekerja keras mengeringkan air sampai habis,” tutur Abu Ayyub berkisah.
Setelah hari subuh, ia pergi menemui Rasulullah. “Sungguh mati, saya segan bertempat tinggal di atas, sedangkan Rasulullah tinggal di bawah,” ujarnya kepada Rasulullah.
Kemudian Abu Ayyub menceritakan kepada beliau perihal bejana yang pecah itu. Mendengar cerita itu, akhirnya Rasulullah memperkenankan pasangan suami istri ini pindah ke bawah dan beliau pindah ke atas.
Baca juga: Beda Haluan Politik antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar
Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub kurang lebih tujuh bulan. Setelah masjid Rasulullah selesai dibangun, beliau pindah ke kamar-kamar yang dibuatkan untuk beliau dan para isteri beliau di sekitar masjid.
Sejak pindah, Rasulullah menjadi tetangga dekat bagi Abu Ayyub. Rasulullah sangat menghargai suami isteri ini sebagai tetangga yang baik. Abu Ayyub mencintai Rasulullah sepenuh hati. Sebaliknya beliau mencintainya pula, sehingga mereka saling membantu setiap kesusahan masing-masing.
Baca juga: Akhlak Umar bin Khattab dan Kesedihannya Ketika Nabi Wafat
Rasulullah memandang rumah Abu Ayyub seperti rumah sendiri. Pada suatu hari di tengah hari yang amat panas, Abu Bakar pergi ke masjid, lalu bertemu dengan ‘Umar bin Khattab. “Hai, Abu Bakar! Mengapa Anda keluar di saat panas begini?” tanya Umar.
“Saya lapar!” jawab Abu Bakar.
“Demi Allah! Saya juga lapar,” sambut Umar pula.
Ketika mereka sedang berbincang begitu, tiba-tiba Rasulullah muncul. “Hendak ke mana kalian di saat panas begini?” tanya Rasulullah.
“Demi Allah! Kami mencari makanan karena lapar,” jawab mereka.
Baca juga: Kisah Aswad al-Ansi, Nabi Palsu yang Sempat Menguasai Yaman )
“Demi Allah yang jiwaku di tangan Nya! Saya juga lapar. Nah! Marilah ikut saya,” ujar Rasulullah kemudian.
Mereka bertiga berjalan bersama-sama ke rumah Abu Ayyub Al-Anshary. Biasanya Abu Ayyub selalu menyediakan makanan setiap hari untuk Rasulullah. Bila beliau terlambat atau tidak datang, makanan itu dihabiskan oleh keluarga Abu Ayyub.
Setelah mereka tiba di pintu, Ibu Ayyub keluar menyongsong mereka. “Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!” sambutnya.
Baca juga: Kasus Khalid bin Walid, Cara Pandang Umar dan Abu Bakar
“Kemana Abu Ayyub?” tanya Rasulullah. Ketika itu Abu Ayyub sedang bekerja di kebun kurma dekat rumah. Mendengar suara Rasulullah, dia bergegas menemui beliau. “Selamat datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!” kata Abu Ayyub.
Abu Ayyub langsung menyambung bicaranya, “Ya, Nabiyallah! Tidak biasanya Anda datang pada waktu seperti sekarang.
“Betul, hai Abu Ayyub!” jawab Rasulullah.
Abu Ayyub kembali pergi ke kebun, lalu dipotongnya setandan kurma. Dalam setandan itu terdapat kurma yang sudah kering, yang basah, dan yang setengah masak. Kata Rasulullah, “Saya tidak menghendaki engkau memotong kurma setandan begini. Alangkah baiknya jika engkau petik saja yang sudah kering.”
Baca juga: Dia Abdul Ka'bah yang Mengurus Masalah Penebusan Darah
“Ya, Rasulullah! Saya senang jika Anda suka mencicipi buah kering, yang basah, dan yang setengah masak. Sementara itu saya sembelih kambing untuk Anda bertiga,” jawab Abu Ayyub,
“Jika engkau menyembelih, jangan disembelih kambing yang sedang menyusui,” nasehat Rasulullah.
Abu Ayyub lalu menangkap seekor kambing, lalu disembelihnya. Dia meminta kepada istrinya untuk membuat adonan roti. “Engkau lebih pintar membuat roti,” katanya.
Baca juga : Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid demi Selamatkan Tauhid Umat
Abu Ayyub membagi dua sembelihannya. Separuh digulainya dan separuh lagi dipanggangnya. Setelah masak, maka dihidangkannya ke hadapan Rasulullah dan sahabat beliau.
Lihat Juga :