Jiwa Hewani dan Rohani pada Manusia Menurut Imam Al-Ghazali

Sabtu, 25 Februari 2023 - 10:14 WIB
Manusia punya dua jiwa, jiwa hewani dan jiwa rohani. Jiwa rohani ini bersifat malaikat. Foto/Ilustrasi: Ist
Imam al-Ghazali mengatakan manusia punya dua jiwa, jiwa hewani dan jiwa rohani. Jiwa rohani ini bersifat malaikat. Tempat jiwa hewaniah adalah dalam hati, tempat dari mana jiwa ini menyebar seperti uap halus dan menyelusupi semua anggota tubuh, memberikan tenaga atau kemampuan melihat pada mata, mendengar pada telinga, serta kepada semua anggota tubuh memberikan kemampuan untuk menyelenggarakan fungsi-fungsinya.

"Hal ini bisa dibandingkan dengan sebuah lampu yang ditempatkan di dalam suatu pondok yang cahayanya jatuh pada dinding-dinding ke mana pun ia pergi," ujar Imam al-Ghazali dalam bukunya berjudul "The Alchemy of Happiness" yang diterjemahkan Haidar Bagir menjadi " Kimia Kebahagiaan "

Menurutnya, hati adalah sumbu lampu ini, dan jika penyaluran minyaknya diputus karena suatu alasan, maka matilah lampu itu. "Seperti itulah kematian jiwa hewani," jelasnya.

Baca juga: Inilah Doa Munajat Taubat Nasuha dari Imam Ghazali

Tidak demikian halnya dengan jiwa rohani atau jiwa manusiawi. Ia tak terpilahkan dan dengannya manusia mengenali Allah. Boleh dikatakan dialah pengendara jiwa hewani. Dan ketika jiwa hewani musnah, ia tetap tinggal, tetapi laksana seorang penunggang kuda yang telah turun atau seperti seorang pemburu yang telah kehilangan senjatanya.

Kuda dan senjata-senjata itu dianugerahkan pada jiwa manusia agar dengan itu semua ia bisa mengejar dan menangkap keabadian cinta dan pengetahuan tantang Allah. Jika ia telah berhasil melakukan penangkapan itu, maka bukannya berkeluh kesah, ia pun merasa lega ketika bisa menyingkirkan senjata-senjata itu.

Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda, "Kematian adalah suatu hadiah Tuhan yang diharap-harapkan oleh para mukminin." Tapi, kata Imam al-Ghazali, celakalah kalau jiwa itu kehilangan kuda dan senjata-senjata pemburuannya sebelum berhasil memperoleh hadiah tersebut. Kesedihan dan penyesalannya akan tak terperikan.

Hal-Hal yang Baik Abadi

Selanjutnya, Imam al-Ghazali mengatakan setiap anggota tubuh bisa rusak dan berhenti bekerja, tapi individualitas jiwa tak terganggu. Lebih jauh lagi, jasad yang anda miliki sekarang tidak lagi berupa jasad sebagaimana yang anda miliki pada waktu kecil, melainkan sudah berbeda sama sekali.

Baca juga: Melihat Allah Merupakan Kebahagiaan Terbesar, Begini Penjelasan Imam Ghazali
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!