Kisah Konsolidasi Nabi-Nabi Palsu di Era Khalifah Abu Bakar
Kamis, 06 Agustus 2020 - 15:01 WIB
Pengaruh Aswad
Pergolakan di Yaman telah memberi semangat kepada Yamamah dan kepada Banu Asad untuk juga bergolak setelah Nabi wafat.
Sebenarnya Tulaihah dan Musailamah takut menghadapi kekuatan kaum Muslimin, dan menurut pendapat mereka tidak mungkin dapat melawannya. Oleh karena itu mereka tidak memberontak. Tetapi setelah Aswad berani mengangkat senjata dan berhasil sehingga menimbulkan ketakutan di kalangan kaum Muslimin, keberanian demikian itu menular kepada Tulaihah dan Musailamah, dan lebih berani lagi mereka setelah Rasulullah berpulang ke rahmatullah. (Baca juga: Murtad dan Penolakan Membayar Zakat Pascawafatnya Rasulullah )
Sekiranya Aswad tidak bertingkah dan membuat kekacauan, yang lain tentu masih akan malu-malu untuk memulai, dan tak seorang pun akan berani melawan kaum Muslimin.
Dengan kematian Aswad itu pergolakan tidak dengan sendirinya berhenti, yang apinya sudah dicetuskan di segenap Semenanjung Arab. Malah api itu masih tetap menyala, dan makin membara setelah Rasulullah wafat.
Kalangan Orientalis mengatakan, bahwa perbedaan watak penduduk pedalaman dengan orang kota serta permusuhan yang timbul antara utara dengan selatan, besar sekali pengaruhnya terhadap pergolakan orang-orang Arab pinggiran, tak lama sebelum Nabi wafat dan pada tahun pertama kepemimpinan Khalifah Abu Bakar.
Baca juga: Kisah Persembunyian di Gua Tsur dan Bukti Cinta Abu Bakar
Islam adalah agama tauhid dalam arti akidah. Oleh karena itu ia membasmi segala macam penyembahan berhala. Keimanan kepada Allah Yang Mahatunggal dan Esa tersebar ke segenap penjuru negeri Arab. Tidakkah mereka merasa khawatir kesatuan iman kepada Allah itu kelak akan menjalar menjadi kesatuan politik yang berarti akan merugikan kebebasan warga Arab pedalaman dan akibatnya membangkitkan permusuhan lama?
Itulah yang berkecamuk dalam pikiran mereka menurut pendapat para Orientalis itu, dan itu pula yang membawa Yaman dan yang lain waktu itu bergolak. Pengaruh unsur asing dalam menyulut pergolakan.
Baca juga: Beda Haluan Politik antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar
Lepas dari benar tidaknya argumen itu, Haekal mengatakan, kita tak dapat menutup mata dari adanya unsur asing yang juga ikut menggerakkan hingga terjadi pergolakan dan pemurtadan orang-orang Arab. Raja Persia dan Kaisar Rumawi sudah melihat surat Nabi Muhammad kepada mereka dan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa lain untuk menganut Islam.
Hal ini mendorong mereka untuk sekuat tenaga berusaha menyebarkan api fitnah di negeri-negeri yang tak akan ada unsur apa pun yang akan dapat menyatukan dan memperkuat mereka selain agama baru ini.
Satu-satunya cara untuk melemahkan mereka dan membuat mereka porak poranda ialah dengan jalan menghasut. Apa pun motif yang mendorong Aswad mengadakan pengacauan, kemudian disusul oleh Tulaihah dan Musailamah serta pemberontakan warga Arab pedalaman terhadap kewibawaan Muslimin sampai ke dekat kota Madinah, yang jelas ialah bahwa wafatnya Nabi menjadi sebab timbulnya fitnah itu. (Baca juga: Akhlak Umar bin Khattab dan Kesedihannya Ketika Nabi Wafat)
Pergolakan di Yaman telah memberi semangat kepada Yamamah dan kepada Banu Asad untuk juga bergolak setelah Nabi wafat.
Sebenarnya Tulaihah dan Musailamah takut menghadapi kekuatan kaum Muslimin, dan menurut pendapat mereka tidak mungkin dapat melawannya. Oleh karena itu mereka tidak memberontak. Tetapi setelah Aswad berani mengangkat senjata dan berhasil sehingga menimbulkan ketakutan di kalangan kaum Muslimin, keberanian demikian itu menular kepada Tulaihah dan Musailamah, dan lebih berani lagi mereka setelah Rasulullah berpulang ke rahmatullah. (Baca juga: Murtad dan Penolakan Membayar Zakat Pascawafatnya Rasulullah )
Sekiranya Aswad tidak bertingkah dan membuat kekacauan, yang lain tentu masih akan malu-malu untuk memulai, dan tak seorang pun akan berani melawan kaum Muslimin.
Dengan kematian Aswad itu pergolakan tidak dengan sendirinya berhenti, yang apinya sudah dicetuskan di segenap Semenanjung Arab. Malah api itu masih tetap menyala, dan makin membara setelah Rasulullah wafat.
Kalangan Orientalis mengatakan, bahwa perbedaan watak penduduk pedalaman dengan orang kota serta permusuhan yang timbul antara utara dengan selatan, besar sekali pengaruhnya terhadap pergolakan orang-orang Arab pinggiran, tak lama sebelum Nabi wafat dan pada tahun pertama kepemimpinan Khalifah Abu Bakar.
Baca juga: Kisah Persembunyian di Gua Tsur dan Bukti Cinta Abu Bakar
Islam adalah agama tauhid dalam arti akidah. Oleh karena itu ia membasmi segala macam penyembahan berhala. Keimanan kepada Allah Yang Mahatunggal dan Esa tersebar ke segenap penjuru negeri Arab. Tidakkah mereka merasa khawatir kesatuan iman kepada Allah itu kelak akan menjalar menjadi kesatuan politik yang berarti akan merugikan kebebasan warga Arab pedalaman dan akibatnya membangkitkan permusuhan lama?
Itulah yang berkecamuk dalam pikiran mereka menurut pendapat para Orientalis itu, dan itu pula yang membawa Yaman dan yang lain waktu itu bergolak. Pengaruh unsur asing dalam menyulut pergolakan.
Baca juga: Beda Haluan Politik antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar
Lepas dari benar tidaknya argumen itu, Haekal mengatakan, kita tak dapat menutup mata dari adanya unsur asing yang juga ikut menggerakkan hingga terjadi pergolakan dan pemurtadan orang-orang Arab. Raja Persia dan Kaisar Rumawi sudah melihat surat Nabi Muhammad kepada mereka dan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa lain untuk menganut Islam.
Hal ini mendorong mereka untuk sekuat tenaga berusaha menyebarkan api fitnah di negeri-negeri yang tak akan ada unsur apa pun yang akan dapat menyatukan dan memperkuat mereka selain agama baru ini.
Satu-satunya cara untuk melemahkan mereka dan membuat mereka porak poranda ialah dengan jalan menghasut. Apa pun motif yang mendorong Aswad mengadakan pengacauan, kemudian disusul oleh Tulaihah dan Musailamah serta pemberontakan warga Arab pedalaman terhadap kewibawaan Muslimin sampai ke dekat kota Madinah, yang jelas ialah bahwa wafatnya Nabi menjadi sebab timbulnya fitnah itu. (Baca juga: Akhlak Umar bin Khattab dan Kesedihannya Ketika Nabi Wafat)
(mhy)
Lihat Juga :