Konspirasi Yahudi: Kisah Rusia Kalah dalam Perang Dunia I dan Revolusi Bolshevik
Jum'at, 08 Desember 2023 - 15:11 WIB
Baca juga: Konspirasi Internasional: Kisah Perang Rusia Jepang, Yahudi Mengail Ikan di Air Keruh
Sementara itu, kelompok Manshevik juga membentuk Majelis Sovyet atau juga disebut Majelis Buruh, untuk mengambil kendali pemerintahan San Petersburg, sampai Lenin membubarkannya pada tanggal 19 Oktober 1917.
Pada saat revolusi meletus, Lenin masih berada di Swiss. Kemudian para sesepuh Yahudi Internasional mengatur perjalanannya kembali ke Rusia, setelah terlebih dulu mengatur pertemuan antara Lenin dan pemerintah Jerman.
Dalam pertemuan itu disepakati, bahwa pemerintah Jerman akan membantu kepulangan Lenin dan pembubaran pemerintahan sementara. Pemerintahan itu telah bertekad untuk meneruskan perang, dengan imbalan Lenin kelak akan menarik pasukan Rusia dari medan tempur.
Lenin, Martov dan para tokoh Komunis Yahudi kembali ke Rusia dengan menumpang kereta khusus yang disediakan oleh pemerintah kerajaan Jerman, setelah sebelumnya pemerintahan sementara mengumumkan amnesti umum bagi semua tahanan politik, dan memberi izin kepada semua pelarian untuk kembali ke Rusia.
Peristiwa yang terjadi kemudian menunjukkan, bahwa pemerintah sementara tidak melakukan kesalahan besar dengan menandatangani keputusan ini, yang pada hakikatnya merupakan penyerahan kekuasaan kepada pihak Bolshevik.
Baca juga: Konspirasi Yahudi: Buntut Pembunuhan Alexandr II, Organisasi Yahudi Dilarang di Rusia
Rusia dibanjiri lebih dari 90.000 anggota revolusioner dan kelompok teroris yang kembali ke Rusia. Trotsky juga memanfaatkan keputusan amnesti pemerintah itu, untuk kembali ke Rusia beserta orang-orang Yahudi yang telah ia rekrut dan dilatih di New York. Sebagian besar dari mereka kemudian bergabung dengan partai Bolshevik, yang makin besar dan ganas.
Tidak lama kemudian Lenin dan Trotsky mulai menyerang pemerintahan sementara. Setelah itu, terjadilah peristiwa demi peristiwa, yang akhirnya Lenin dan para pendukungnya berhasil menumbangkan pemerintahan sementara di bawah Krinsky.
Kemudian ia membentuk pemerintahan baru, berdasarkan Komunisme. Sejak itulah berawal pemerintahan diktatorisme Lenin di Rusia. Para tokoh yang tidak sependapat dengan Lenin mendapat perlakuan keji dari Lenin.
Mereka ini pada umumnya adalah pihak yang lebih berjasa dalam perjuangan untuk melahirkan revolusi Komunis itu, termasuk di dalamnya kelompok Trotsky dan kelompok Yahudinya.
Akan tetapi, pemerintahan atheis baru menganggap adanya bahaya yang datang dari pihak yang sebelumnya merupakan pendukungnya yang lebih gigih. Nasib yang mereka terima kebanyakan berakhir di atas tiang gantungan, atau dibuang ke Siberia atau dipenjarakan.
Baca juga: Konspirasi Internasional: Kisah Ironi Alexander II, Dibunuh karena Menolong Kaum Yahudi
Nasib para tokoh Yahudi pada masa berikutnya, yaitu pada masa pemerintahan Stalin juga tidak jauh berbeda. Sebagian digantung atau dibuang ke Siberia, dan sebagian lagi dipenjarakan, seperti nasib Trotsky sendiri, Zenoviev, Kaminiev, Martinov, Yarfos, Kslarud, Martov dan tokoh Yahudi lainnya.
Dengan kata lain, nasib buruk yang mereka terima justru datang dari seorang yang paling setia kepada ideologi yang mereka anut, Stalin.
Sementara itu, kelompok Manshevik juga membentuk Majelis Sovyet atau juga disebut Majelis Buruh, untuk mengambil kendali pemerintahan San Petersburg, sampai Lenin membubarkannya pada tanggal 19 Oktober 1917.
Pada saat revolusi meletus, Lenin masih berada di Swiss. Kemudian para sesepuh Yahudi Internasional mengatur perjalanannya kembali ke Rusia, setelah terlebih dulu mengatur pertemuan antara Lenin dan pemerintah Jerman.
Dalam pertemuan itu disepakati, bahwa pemerintah Jerman akan membantu kepulangan Lenin dan pembubaran pemerintahan sementara. Pemerintahan itu telah bertekad untuk meneruskan perang, dengan imbalan Lenin kelak akan menarik pasukan Rusia dari medan tempur.
Lenin, Martov dan para tokoh Komunis Yahudi kembali ke Rusia dengan menumpang kereta khusus yang disediakan oleh pemerintah kerajaan Jerman, setelah sebelumnya pemerintahan sementara mengumumkan amnesti umum bagi semua tahanan politik, dan memberi izin kepada semua pelarian untuk kembali ke Rusia.
Peristiwa yang terjadi kemudian menunjukkan, bahwa pemerintah sementara tidak melakukan kesalahan besar dengan menandatangani keputusan ini, yang pada hakikatnya merupakan penyerahan kekuasaan kepada pihak Bolshevik.
Baca juga: Konspirasi Yahudi: Buntut Pembunuhan Alexandr II, Organisasi Yahudi Dilarang di Rusia
Rusia dibanjiri lebih dari 90.000 anggota revolusioner dan kelompok teroris yang kembali ke Rusia. Trotsky juga memanfaatkan keputusan amnesti pemerintah itu, untuk kembali ke Rusia beserta orang-orang Yahudi yang telah ia rekrut dan dilatih di New York. Sebagian besar dari mereka kemudian bergabung dengan partai Bolshevik, yang makin besar dan ganas.
Tidak lama kemudian Lenin dan Trotsky mulai menyerang pemerintahan sementara. Setelah itu, terjadilah peristiwa demi peristiwa, yang akhirnya Lenin dan para pendukungnya berhasil menumbangkan pemerintahan sementara di bawah Krinsky.
Kemudian ia membentuk pemerintahan baru, berdasarkan Komunisme. Sejak itulah berawal pemerintahan diktatorisme Lenin di Rusia. Para tokoh yang tidak sependapat dengan Lenin mendapat perlakuan keji dari Lenin.
Mereka ini pada umumnya adalah pihak yang lebih berjasa dalam perjuangan untuk melahirkan revolusi Komunis itu, termasuk di dalamnya kelompok Trotsky dan kelompok Yahudinya.
Akan tetapi, pemerintahan atheis baru menganggap adanya bahaya yang datang dari pihak yang sebelumnya merupakan pendukungnya yang lebih gigih. Nasib yang mereka terima kebanyakan berakhir di atas tiang gantungan, atau dibuang ke Siberia atau dipenjarakan.
Baca juga: Konspirasi Internasional: Kisah Ironi Alexander II, Dibunuh karena Menolong Kaum Yahudi
Nasib para tokoh Yahudi pada masa berikutnya, yaitu pada masa pemerintahan Stalin juga tidak jauh berbeda. Sebagian digantung atau dibuang ke Siberia, dan sebagian lagi dipenjarakan, seperti nasib Trotsky sendiri, Zenoviev, Kaminiev, Martinov, Yarfos, Kslarud, Martov dan tokoh Yahudi lainnya.
Dengan kata lain, nasib buruk yang mereka terima justru datang dari seorang yang paling setia kepada ideologi yang mereka anut, Stalin.
(mhy)
Lihat Juga :