Humayun Si Mujur, Kisah Sultan Mahmud dan Orang Alim

Sabtu, 15 Agustus 2020 - 06:00 WIB
Seorang yang saleh, yang ada di Jalan yang benar, melihat Sultan Mahmud dalam mimpi dan berkata padanya, "O Raja yang bahagia, bagaimana keadaan dalam Kerajaan Baka?" (Baca Juga: Mantiqu't-Thair: Bulbul )

Sultan menjawab, "Pukul badanku jika kau mau, tetapi jangan ganggu jiwaku. Jangan berkata apa pun, pergilah, karena di sini tak akan disebut-sebut tentang jabatan raja."

"Kekuasaanku hanya riya, kemegahan diri, kesombongan dan kesesatan semata. Dapatkah kekuasaan mengagungkan segenggam tanah? Kekuasaan milik Tuhan, Penguasa Alam Semesta." (Baca juga: Nuri, Si Penggila Tuhan, dan Khizr )

"Kini setelah kuketahui kelemahan dan kedaifanku, aku pun malu pada kedudukanku sebagai raja. Bila kau ingin memberiku gelar, berilah aku gelar "si malang". Tuhan Raja Alam ini, maka jangan sebut aku raja. Kerajaan milik Tuhan; dan aku senang kini menjadi seorang darwis biasa di dunia."

"Semogalah Tuhan menyediakan seratus sumur untuk memurukkan diriku hingga aku tak usah menjadi raja. Lebih baiklah sekiranya aku menjadi pemungut sisa-sisa panenan di ladang-ladang gandum. Sebut Mahmud hamba-sahaya. Sampaikan restuku pada putraku Masud, dan katakan padanya, 'Jika kau ingin menjadi arif, perhatikan peringatan dari ihwal bapamu.' Semoga layulah sayap dan bulu-bulu Humay itu, yang menaungkan bayang-bayangnya padaku!"

Baca juga: Mantiqu't-Thair: Musyawarah Dibuka, Pengejawantahan Simurgh yang Pertama

Catatan:

Humay adalah sebangsa makhluk imajiner yang dalam bahasa Latin disebut gryphus, berbadan singa, berkepala dan bersayap burung rajawali. Humay ialah gryphus berjanggut. Disebut sebagai burung buas terbesar di Benua Lama. Menggondol tulang-tulang berbagai binatang dan menghancurkannya di batu karang untuk dimakam. Bayang-bayang humay yang jatuh di kepala seseorang ialah alamat bahwa orang itu bakal dinobatkan sebagai raja.

Sultan Mahmud hidup pada tahun 969 - 1030. Ibukotanya di Nisyapur dan istananya di Gazna. Di istananya banyak berhimpun para penyair, seniman dan cendekiawan. (Baca juga: Mantiqu't-Thair: Burung-Burung Berkumpul )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!