Ketika Muhammad bin Wasi' Diuji dengan Sebuah Mahkota
Kamis, 27 Agustus 2020 - 10:17 WIB
Muhammad bin Waasi’ berjalan dengan menenteng harta tersebut di tangannya. Di tengah jalan beliau bertemu dengan seorang asing yang kusut masai dan compang-camping meminta kalau-kalau ada bantuan dari harta Allah. Syaikh itu segera menoleh ke kanan ke kiri dan ke belakang… dan setelah yakin tidak ada yang melihat, diberikannya mahkota itu kepada orang tersebut. Orang itu pergi dengan suka cita, seakan beban yang dipikulnya telah diangkat dari punggungnya.
Baca juga: Dituduh Menyimpang karena Tidak Menikah dan Menolak Makan Daging
Utusan Yazid bin Muhallab memegang tangannya dan mengajaknya menghadap amir untuk menceritakan kejadian itu. Mahkota itu kemudian diambil lagi oleh amir dan diganti dengan harta sebanyak yang dimintanya.
Yazid berkata kepada pasukannya, “Bukankah telah aku katakan kepada kalian bahwa di antara umat Muhammad senantiasa ada orang-orang yang tidak membutuhkan mahkota ini atau yang semisalnya?”
Dengan tekun Muhammad bin Waasi’ berjihad melawan kaum musyrikin di bawah panji Yazid bin Muhallab sampai tiba musim haji. Setelah dekat waktunya, beliau minta izin kepada amir untuk melakukan ibadah rutin itu.
Baca juga: Kisah Al-Ghafiqi, Terulangnya Tragedi Uhud yang Memilukan
Yazid berkata, “Izinku ada di tangamu wahai Abu Abdillah, kapan saja Anda kehendaki. Dan aku sudah menyiapkan kebutuhan untukmu selama dalam perjalanan.”
Muhammad bin Waasi’ bertanya, “Apakah perbekalan itu Anda berikan kepada setiap prajurit yang hendak berpergian seperti kepergianku ini wahai amir?”
Beliau berkata, “Tidak.”
Muhammad berkata, “Kalau demikian, tak usahlah mengistimewakan untukku bila itu tidak diberikan kepada anggota pasukan yang lain.” Setelah itu beliau mohon diri dan berangkat.
Meski telah diizinkan, keberangkatan Muhammad bin Waasi’ menyedihkan hati Yazid bin Muhallab dan para prajurit yang pernah berjuang bersamanya. Mereka menyesal tak minta dido’akan dan berharap beliau cepat kembali setelah menunaikan ibadahnya. (Baca juga: Kisah Tabiin Cerdas Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni)
Bukanlah hal yang aneh bila semua prajurit muslimin yang ada di manapun merindukan agar Abid Bashrah ini berada di tengah mereka. Rasa optimisme muncul dengan adanya beliau di tengah mereka karena banyak kebaikan yang menyertainya. Mereka juga mengharap kemenangan dari Allah melalui do’anya yang baik dan besarnya barokah Allah untuknya. Betapa mulia jiwanya meski dirinya sendiri memandang dirinya kerdil, padahal agung di sisi Allah dan umat Islam. (Baca juga: Tangis Si Kecil di Tengah Malam yang Mengaduk-aduk Perasaan Bunda )
Alangkah indahnya suatu umat yang memiliki sejarah orang-orang yang berjiwa luhur seperti beliau. (Bersambung)
Baca juga: Dituduh Menyimpang karena Tidak Menikah dan Menolak Makan Daging
Utusan Yazid bin Muhallab memegang tangannya dan mengajaknya menghadap amir untuk menceritakan kejadian itu. Mahkota itu kemudian diambil lagi oleh amir dan diganti dengan harta sebanyak yang dimintanya.
Yazid berkata kepada pasukannya, “Bukankah telah aku katakan kepada kalian bahwa di antara umat Muhammad senantiasa ada orang-orang yang tidak membutuhkan mahkota ini atau yang semisalnya?”
Dengan tekun Muhammad bin Waasi’ berjihad melawan kaum musyrikin di bawah panji Yazid bin Muhallab sampai tiba musim haji. Setelah dekat waktunya, beliau minta izin kepada amir untuk melakukan ibadah rutin itu.
Baca juga: Kisah Al-Ghafiqi, Terulangnya Tragedi Uhud yang Memilukan
Yazid berkata, “Izinku ada di tangamu wahai Abu Abdillah, kapan saja Anda kehendaki. Dan aku sudah menyiapkan kebutuhan untukmu selama dalam perjalanan.”
Muhammad bin Waasi’ bertanya, “Apakah perbekalan itu Anda berikan kepada setiap prajurit yang hendak berpergian seperti kepergianku ini wahai amir?”
Beliau berkata, “Tidak.”
Muhammad berkata, “Kalau demikian, tak usahlah mengistimewakan untukku bila itu tidak diberikan kepada anggota pasukan yang lain.” Setelah itu beliau mohon diri dan berangkat.
Meski telah diizinkan, keberangkatan Muhammad bin Waasi’ menyedihkan hati Yazid bin Muhallab dan para prajurit yang pernah berjuang bersamanya. Mereka menyesal tak minta dido’akan dan berharap beliau cepat kembali setelah menunaikan ibadahnya. (Baca juga: Kisah Tabiin Cerdas Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni)
Bukanlah hal yang aneh bila semua prajurit muslimin yang ada di manapun merindukan agar Abid Bashrah ini berada di tengah mereka. Rasa optimisme muncul dengan adanya beliau di tengah mereka karena banyak kebaikan yang menyertainya. Mereka juga mengharap kemenangan dari Allah melalui do’anya yang baik dan besarnya barokah Allah untuknya. Betapa mulia jiwanya meski dirinya sendiri memandang dirinya kerdil, padahal agung di sisi Allah dan umat Islam. (Baca juga: Tangis Si Kecil di Tengah Malam yang Mengaduk-aduk Perasaan Bunda )
Alangkah indahnya suatu umat yang memiliki sejarah orang-orang yang berjiwa luhur seperti beliau. (Bersambung)
(mhy)
Lihat Juga :