Begini Bunyi Tujuan Muhammadiyah saat Didirikan di Zaman Belanda

Selasa, 26 November 2024 - 16:18 WIB
gagasan serupa bisa dibaca dari berbagai dokumen, antara lain naskah pidato Kiai Ahmad Dahlan dalam Konggres 1922. Foto/Ilustrasi: Ist
MUHAMMADIYAH kini tengah memperingati milad yang ke-112. Organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini lahir pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau bertepatan dengan 18 November 1912 M. Bagaimana sejatinya gagasan Muhammadiyah saat didirikan?

"Berbagai gagasan tersebut antara lain bisa dibaca dari Anggaran Dasar pertama yang disahkan pemerintah Hindia Belanda," tulis Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan dalam "Kiai Ahmad Dahlan Mengganti Jimat, Dukun, dan Yang Keramat Dengan Ilmu Pengetahuan Basis Pencerahan Umat Bagi Pemihakan Terhadap Si Ma’un" dalam buku "KH Ahmad Dahlan (1868-1923)".

Buku ini diterbitkan Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015. Abdul Munir Mulkan adalah Guru Besar tetap UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Guru Besar Emiritus Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Menurut Abdul Munir, gagasan serupa bisa dibaca dari berbagai dokumen, antara lain naskah pidato Kiai Ahmad Dahlan dalam Konggres 1922, Prasaran HoofdBestuur Muhammadiyah dalam Konggres Islam Cirebon tahun 1921.

Baca juga: Profil Singkat Kiai Ahmad Dahlan dan Siasatnya Membangun Muhammadiyah

Dalam Anggaran Dasar pertama, tujuan Muhammadiyah tertulis berikut:

“Artikel 2, maksudnya perserikatan ini yaitu: a. Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Nederland (sebelumnya: menyebarkan pengajaran Igama Kanjeng Nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wassalam kepada penduduk Bumiputra di dalam residensi Jogjakarta), dan b. Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam (setelah perubahan dari sebelumnya: memajukan hal Igama kepada anggota-anggotanya).”

Abdul Munir Mulkhan mengatakan tampak jelas dari pilihan kosa kata “memajukan” dan “menggembirakan” di rumusan dua ayat pada artikel 2 tersebut.

Demikian pula peletakan sumber rujukan pengajaran ajaran Islam pada diri Rasul Muhammad SAW. Hal ini jelas merupakan koreksi atas praktik ajaran Islam di dalam masyarakat yang selama ini tercemari oleh ketidakjelasan sumber ajaran yang misterius, mistis, gugon tuhon atau sumber yang tidak jelas.

Demikian pula halnya dengan ilmu gaib dan dukun, serta dunia keramat lainnya.

Baca juga: Kiai Ahmad Dahlan dan Pembaharuan Pendidikan: Strategi Melawan Penjajah

Sementara itu, kehidupan umat tampak tidak terorganisasi, hidup sendiri-sendiri, bahkan saling bertikai yang semakin memperlemah posisi tawar umat terhadap kekuatan kolonial.

Di sini kehadiran Kiai Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah menjadi berfungsi bukan hanya mencerahkan, melainkan juga menggerakkan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!