Lisan yang Basah karena Zikir, Salah Satu Ibadah yang Dicintai Allah Ta'ala
Senin, 16 Desember 2024 - 18:56 WIB
Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh hamba-hamba-Nya agar berzikir dan bersyukur kepada-Nya, mempekerjakan lisannya dalam setiap kondisi mereka dengan tasbih, tahlil, tahmid dan takbir.
Menurut Mujahid, inilah bacaan-bacaan yang diucapkan orang yang bersuci, berhadats dan junub, dan ia berkata: Tiadalah seseorang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga ia berzikir sambil berdiri, duduk dan berbaring.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menyatakan sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mewajibkan kepada hamba-Nya satu kewajiban kecuali menjadikan baginya batasan yang diketahui, kemudian ia memaafkan pelakunya di saat tidak bisa melakukan selain zikir. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menjadikan baginya batasan akhirnya dan tidak memaafkan seseorang dalam meninggalkannya kecuali yang terpaksa meninggalkannya.
Allah Ta’ala berfirman:
... ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (QS. an-Nisaa`:103)
Malam dan siang, di darat dan di laut, saat safar dan menetap, kaya dan fakir, sakit dan sehat, tersembunyi dan tidak, dalam setiap kondisi, bila kamu melakukan hal itu niscaya Allah subhanahu wa ta’ala dan para malaikat-Nya mengucapan shalawat kepadamu.
Mu`adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan dari siksa Allah Ta’ala selain zikir kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala menyebutkan zikir dalam ayat yang sangat banyak dalam al-Qur`an dan menjadikan zikir-Nya bagi yang berzikir sebagai balasan bagi yang berzikir kepada-Nya, sesungguhnya ia yang terbesar dan menutup amal shalih dengannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Maukah kamu kukabarkan amalmu yang terbaik dan paling bersih di sisi Raja-mu, paling tinggi pada derajatmu, lebih baik bagimu dari berinfak emas dan perak, lebih baik dari bertemu musuhmu lalu kamu menebas leher mereka dan mereka menebas lehermu? Mereka menjawab: ‘Tentu.’ Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.’ (HR At-Tirmidzi).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‘Ucapan yang paling dicintai Allah subhanahu wa ta’ala ada empat: ‘subhanallah (maha suci Allah), al-hamdulillah (segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala), laailaaha illallah (Tidak Ilah yang berhak disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala), dan allahu akbar (Allah Maha Besar). Tidak mengapa engkau memulai dengan yang manapun.” (HR Muslim).
Faedah ‘laailaaha illallah’ ada dua keistimewaan. Pertama, sesungguhnya semua hurufnya ada jaufiyah (rongga), dan huruf jauf adalah yang tempat keluarnya adalah dari rongga. Tidak ada padanya satu huruf dari huruf syafahiyyah (bibir) yang tempat keluarnya dari dua bibir, seperti ba’, faa`, mim, sebagai isyarat bahwa mendatangkannya dari rongga yang murni, yaitu hati, bukan dari kedua bibir. Wallah'alam.
Menurut Mujahid, inilah bacaan-bacaan yang diucapkan orang yang bersuci, berhadats dan junub, dan ia berkata: Tiadalah seseorang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga ia berzikir sambil berdiri, duduk dan berbaring.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menyatakan sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mewajibkan kepada hamba-Nya satu kewajiban kecuali menjadikan baginya batasan yang diketahui, kemudian ia memaafkan pelakunya di saat tidak bisa melakukan selain zikir. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menjadikan baginya batasan akhirnya dan tidak memaafkan seseorang dalam meninggalkannya kecuali yang terpaksa meninggalkannya.
Allah Ta’ala berfirman:
قال تعالى :﴿ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ
... ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (QS. an-Nisaa`:103)
Malam dan siang, di darat dan di laut, saat safar dan menetap, kaya dan fakir, sakit dan sehat, tersembunyi dan tidak, dalam setiap kondisi, bila kamu melakukan hal itu niscaya Allah subhanahu wa ta’ala dan para malaikat-Nya mengucapan shalawat kepadamu.
Mu`adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan dari siksa Allah Ta’ala selain zikir kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala menyebutkan zikir dalam ayat yang sangat banyak dalam al-Qur`an dan menjadikan zikir-Nya bagi yang berzikir sebagai balasan bagi yang berzikir kepada-Nya, sesungguhnya ia yang terbesar dan menutup amal shalih dengannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( ألا أنبئكم بخير أعمالكم وأزكاها عند مليككم وأرفعها في درجاتكم وخير لكم من إنفاق الذهب والورق وخير لكم من تلقوا عدوكم فتضربوا أعناقهم ويضربوا أعناقكم ! قالوا: بلى! قال: ذكر الله تعالى.
“Maukah kamu kukabarkan amalmu yang terbaik dan paling bersih di sisi Raja-mu, paling tinggi pada derajatmu, lebih baik bagimu dari berinfak emas dan perak, lebih baik dari bertemu musuhmu lalu kamu menebas leher mereka dan mereka menebas lehermu? Mereka menjawab: ‘Tentu.’ Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.’ (HR At-Tirmidzi).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( أحب الكلام إلي الله أربع سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر لا يضرك بأيهن بدأت
‘Ucapan yang paling dicintai Allah subhanahu wa ta’ala ada empat: ‘subhanallah (maha suci Allah), al-hamdulillah (segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala), laailaaha illallah (Tidak Ilah yang berhak disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala), dan allahu akbar (Allah Maha Besar). Tidak mengapa engkau memulai dengan yang manapun.” (HR Muslim).
Faedah ‘laailaaha illallah’ ada dua keistimewaan. Pertama, sesungguhnya semua hurufnya ada jaufiyah (rongga), dan huruf jauf adalah yang tempat keluarnya adalah dari rongga. Tidak ada padanya satu huruf dari huruf syafahiyyah (bibir) yang tempat keluarnya dari dua bibir, seperti ba’, faa`, mim, sebagai isyarat bahwa mendatangkannya dari rongga yang murni, yaitu hati, bukan dari kedua bibir. Wallah'alam.
(mhy)
Lihat Juga :