Dari Beribu-ribu Hanya 30 Ekor Burung itu yang Tinggal

Sabtu, 26 September 2020 - 06:33 WIB
Simurgh. Foto/Ilustrasi/Wikipedia
Musyawarah Burung (1184-1187) karya Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau Attar dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi . Judul asli: Mantiqu't-Thair dan diterjemahan Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). (Baca juga: Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung )

===

SETELAH burung-burung mendengarkan pembicaraan Hudhud , kepala mereka pun terkulai, dan kesedihan mencucuk-cucuk hati mereka. Kini mereka mengerti betapa sulit bagi sekepul debu seperti mereka untuk meregang busur sehebat itu. (Baca juga: Kisah Pilu Pengemis yang Jatuh Cinta dengan Pangeran )


Begitu besar gairah mereka sehingga banyak yang mati di tempat dan saat itu. Tetapi yang lain-lain, betapa sengsaranya pun, memutuskan untuk menempuh jalan panjang itu.

Bertahun-tahun mereka mengembara melintasi gunung demi gunung dan lembah demi lembah, dan sebagian besar hidup mereka mengalir lalu di perjalanan itu. Tetapi bagaimana mungkin menuturkan segala yang telah terjadi pada mereka? Perlu berjalan bersama mereka dan mengetahui kesulitan-kesulitan mereka, serta mengikuti pengembaraan-pengembaraan di jalan panjang itu; barulah kita dapat menyadari penderitaan burung-burung itu. (Baca juga: Lembah Kematian: Kisah Orang Sudah Mati Bisa Bicara? )

Pada akhirnya, hanya sejumlah kecil dari kawanan yang besar itu dapat sampai ke tempat mulia yang ditunjukkan Hudhud. Dari ribuan burung itu hampir semuanya telah lenyap.

Banyak yang hilang di lautan, yang lain binasa di puncak gunung-gunung tinggi, disiksa dahaga; yang lain lagi terbakar sayapnya, sedang hatinya mengering karena api matahari; sebagian dimangsa macan dan macan tutul, sebagian lagi mati kecapaian di gurun-gurun dan di hutan-hutan belantara, dengan bibir kering dan tubuh kepanasan: ada yang menjadi gila dan saling berbunuhan karena sebutir jawawut; ada pula yang karena lemah oleh penderitaan dan keletihan, jatuh di jalan dan tak kuat melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi; yang lain, bingung karena apa-apa yang mereka lihat, berhenti di tempat itu, tercengang-cengang; dan banyak, yang telah berangkat lantaran ingin tahu atau senang, tewas tanpa mendapat gambaran tentang apa yang mereka cari dalam perjalanan yang telah mulai mereka tempuh itu. (Baca juga: Lembah Keheranan dan Kebingungan: Sang Putri yang Mencintai Hambanya )

Karena itu, dari semua burung yang beribu-ribu itu, hanya tiga puluh saja yang dapat sampai ke tujuan perjalanan itu. Dan mereka ini pun kebingungan pula, letih, dan sedih, tak berbulu dan bersayap lagi. Tetapi kini mereka ada di muka pintu Yang Mulia, yang tak terperikan, dan yang hakikat dirinya tak terpahami - Wujud yang mengatasi pikiran dan pengetahuan makhluk.

Maka memancarlah kilat kepuasan, dan seratus dunia pun terbakar-musnah dalam sekejap saja. Dan mereka pun melihat ribuan matahari, masing-masing lebih gemilang dari yang lain, ribuan bulan dan bintang, semua sama indahnya, dan melihat semua itu, mereka pun keheranan dan bergairah bagai sebutir zarrah debu, dan mereka pun berseru, "O Paduka yang lebih cemerlang dari surya! Yang membuat surya tampak bagai sebutir zarrah, bagaimana mungkin kami terlihat di muka Baduka? Ah, mengapa kami telah menanggung segala penderitaan di Jalan itu dengan begitu sia-sia? Setelah meninggalkan segalanya dan diri kami sendiri, kami kini tak mungkin mendapatkan apa yang telah kami usahakan. Di sini tak penting lagi apakah kami ada atau tidak." (Baca juga: Lembah Keesaan: Cerita Lain tentang Mahmud dan Ayaz )

Maka burung-burung yang cemas sehingga mereka menyerupai ayam jago yang setengah mati itu tenggelam dalam putus-asa. Waktu yang lama pun berlalu. Ketika, pada saat yang baik, tiba-tiba pintu terbuka, keluarlah kepala rumah tangga keraton, salah seorang abdi keraton Seri Baginda. Ia memeriksai burung-burung itu dan mengetahui bahwa dari yang beribu-ribu itu hanya tiga puluh ekor burung itu yang tinggal. (Baca juga: Lembah Kebebasan: Kisah Cinta Seorang Syaikh dan Putri Pemelihara Anjing )
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!