Lembah Kematian: Kisah Orang Sudah Mati Bisa Bicara?

Kamis, 24 September 2020 - 06:16 WIB
loading...
Lembah Kematian: Kisah...
Ilustrasi/Ist
A A A
Musyawarah Burung (1184-1187) karya Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau Attar dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi . Judul asli: Mantiqu't-Thair dan diterjemahan Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). (Baca juga: Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung )

===

Hudhud melanjutkan, "Terakhir dari semua itu menyusul Lembah Keterampasan dan Kematian , yang hampir tak mungkin diperikan. Hakikat Lembah ini ialah kelupaan, kebutaan, ketulian dan kebingungan; seratus bayang-bayang yang melingkungimu menghilang dalam sepancar sinar surya samawi. (Baca juga: Lembah Keheranan dan Kebingungan: Sang Putri yang Mencintai Hambanya )

Bila lautan kemaharayaan mulai bergelora, pola pada permukaannya pun kehilangan bentuknya; dan pola ini tak lain dari dunia kini dan dunia nanti. Siapa yang menyatakan bahwa dirinya tak ada mendapat keutamaan besar?

Titik air yang menjadi bagian dari lautan raya ini akan tetap tinggal di sana selamanya dan dalam kedamaian. Di laut yang tenang ini, kita pada mulanya hanya akan mengalami kehinaan dan keterbuangan; tetapi setelah terangkat dari keadaan ini, kita akan memahaminya sebagai penciptaan, dan banyak kerahasiaan akan tersingkap bagi kita. (Baca juga: Lembah Keesaan: Cerita Lain tentang Mahmud dan Ayaz )

Banyak makhluk telah salah mengambil langkah pertama dan karena itu, tak dapat mengambil langkah kedua --mereka hanya sebanding dengan barang-barang tambang.

Bila kayu cendana dan duri-duri menjadi abu, keduanya tampak sama --tetapi mutu keduanya berbeda. Barang najis yang dimasukkan ke dalam air-mawar akan tetap tinggal najis karena sifat-sifat dasarnya semula; tetapi barang suci yang dijatuhkan ke lautan akan kehilangan wujudnya yang tersendiri dan akan menyatukan diri dengan lautan itu dengan segala geraknya. Dengan berhenti ada secara terpisah ia akan mendapatkan keindahannya. Ia ada dan tidak ada. Bagaimana hal ini mungkin terjadi, pikiran tak dapat membayangkannya." (Baca juga: Lembah Kebebasan: Kisah Cinta Seorang Syaikh dan Putri Pemelihara Anjing )

Fatwa Nassir Uddin
Yang terkasih dari Tus, lautan rahasia-rahasia rohani itu, berkata pada salah seorang muridnya, "Leburkan dirimu dalam api cinta hingga kau menjadi sekecil rambut, maka kau pun akan layak menduduki tempatmu di antara ikal rambut kekasihmu. Bila matamu kau arahkan ke Jalan itu dan bila kau awas, maka renungkanlah dan pikirkanlah, rambut demi rambut. (Baca juga: Lembah Keinsafan: Pecinta, Sultan Mahmud, dan Si Gila Tuhan )

Ia yang membelakangi dunia ini untuk menempuh Jalan itu, akan mendapatkan kematian; ia yang mendapatkan kematian, akan mendapatkan kebakaan. O hatiku, bila kau telah herubah sepenuhnya, seberangilah jembatan Sirat dan api yang menyala; karena bila minyak dalam lampu itu terbakar, ia akan merupakan asap sehitam gagak tua, tetapi bila minyak itu diserap api, ia akan tak memiliki wujudnya yang kasar lagi. (Baca juga: Di Lembah Kedua: Pikiran Tak Bisa Tinggal Bersama Kedunguan Cinta )

Bila kau ingin sampai ke tempat yang luhur itu, lebih dulu bebaskan dirimu sendiri; kemudian keluarlah dari ketiadaan bagai Buraq kedua. Kenakan khirka kenihilan dan minumlah dari piala kemusnahan, kemudian kebatlah dadamu dengan ikat pinggang penafsiran dan kenakan di kepalamu kecemerlangan keadaan-tiada.

Tempatkan kakimu pada sanggurdi ketakterikatan, dan pacu kudamu yang tak berguna itu ke tempat di mana tak ada apa pun lagi. Tetapi jika dalam dirimu masih tinggal nafsu kepentingan diri biar sedikit, maka ketujuh laut akan penuh kesengsaraan bagimu." (Baca juga: Mengarungi Tujuh Lembah, Kedua Adalah Lembah Cinta )

Cerita tentang Kupu-kupu
Suatu malam, kawanan kupu-kupu berkumpul, disiksa hasrat hendak menyatukan diri dengan lilin. Kata mereka, "Kita harus mengutus salah satu dari kita yang akan membawa keterangan pada kita tentang sasaran cinta yang hendak kita cari itu."

Maka salah seekor di antaranya berangkat dan tiba di sebuah puri, dan di dalam puri itu ia melihat cahaya sebatang lilin. Ia pun kembali, dan sesuai dengan pengertian yang diperolehnya, ia menceritakan apa yang telah dilihatnya. Tetapi kupu-kupu arif yang mengetuai pertemuan itu menyatakan pendapatnya bahwa utusan itu tak mengerti apa-apa tentang lilin. (Baca juga: Sepercik Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha, Serta Permadani Nabi )

Maka kupu-kupu lain pun pergi ke sana pula. Ia menyentuh nyala lilin itu dengan ujung sayapnya, tetapi panas pun menghalaukannya. Oleh karena laporannya tak lebih memuaskan dari laporan yang pertama, maka kupu-kupu yang ketiga pun pergi pula.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Kisah Hikmah : Diselamatkan...
Kisah Hikmah : Diselamatkan dari Siksa Kubur karena Fadilah Puasa Syawal
Kisah Hit, Seorang Waria...
Kisah Hit, Seorang Waria yang Hidup di Zaman Nabi SAW
Rekomendasi
Ini Penyebab Permukaan...
Ini Penyebab Permukaan Bulan Bopeng dan Punya 9.000 Kawah
Meteorit Allende Bukti...
Meteorit Allende Bukti Kehidupan Luar Angkasa dan Asal Usul Tata Surya
Inilah Danau Terkutuk...
Inilah Danau Terkutuk di Dunia, Bisa Ubah Hewan Menjadi Batu
Artikel Terkini
Pemberangkatan Jemaah...
Pemberangkatan Jemaah Haji Gelombang Kedua dari Makkah Menuju Madinah Dimulai 7 Juni
Kumpulan Doa Pulang...
Kumpulan Doa Pulang Haji Lengkap dengan Zikirnya
Surat Al Ankabut Ayat...
Surat Al Ankabut Ayat 2-3, Mengingatkan Bahayanya Fitnah Akhir Zaman
Perilaku Manusia Modern...
Perilaku Manusia Modern dan Tanda Dekatnya Fitnah Dajjal
Jemaah Gelombang Kedua...
Jemaah Gelombang Kedua Tiba di Madinah, Wamenhaj Dahnil Minta KKHI Siaga Penuh
29.344 Jemaah Haji Indonesia...
29.344 Jemaah Haji Indonesia dari 75 Kloter Telah Kembali ke Tanah Air
Infografis
Ilmuwan Ungkap Aktivitas...
Ilmuwan Ungkap Aktivitas Otak Manusia Menjelang Kematian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved